Positive SSL
Home Blog Page 3

Wacana Pemulangan Seribu WNI dari Suriah Masih Perlu Dirapatkan Lintas Menteri

0
Kepala BPNT Komjen Boy Rafli Amar di Desa Tenggulun, Solokuro, Lamongan (Foto: Eko Sudjarwo)

Eko Sudjarwo – detikNews

Rabu, 21 Okt 2020 20:47 WIB

Lamongan – Wacana pemulangan seribu WNI yang masih tertahan di kamp pengungsian di Suriah masih harus dirapatkan antar menteri. Badan Nasional Penanggulangan Terorisme (BNPT) perlu menggelar rapat dengan lintas kementerian untuk membahas hal tersebut.

“Itu masih perlu dilakukan verifikasi lagi. Kita masih belum bisa berangkat ke sana karena kondisi masih pandemi,” kata Kepala BPNT Komjen Boy Rafli Amar saat berkunjung di Yayasan Lingkar Perdamaian (YLP) di Desa Tenggulun, Kecamatan Solokuro, Rabu (21/10/2020).

Pihaknya, kata Rafly, masih menunggu setelah pandemi global COVID-19 ini reda baru akan mengirimkan tim untuk melakukan verifikasi data. Untuk bisa dipulangkan kembali, kata Rafly, masih perlu waktu dan masih perlu untuk dirapatkan dengan lintas menteri.https://c2a067a713b0b25bc0b7f7975502afef.safeframe.googlesyndication.com/safeframe/1-0-37/html/container.html

“Perlu dirapatkan dengan lintas kementerian, perlu waktu setelah proses verifikasi data,” kata Rafly.

Boy Rafly mengatakan, kunjungannya ke YLP yang dipimpin oleh ustaz Ali Fauzi Manzi di Desa Tenggulun, Kecamatan Solokuro ini untuk melihat program kegiatan yang dilakukan oleh yayasan yang membina para mantan narapidana terorisme (Napiter) ini. Boy Rafly berharap, semua kegiatan adalah program-program yang mengarah ke peningkatan kesejahteraan para anggota, khususnya pada bidang usaha yang cocok dilakukan.

“Jadi kegiatan-kegiatan yang dilakukan yayasan ini tentu kita harapkan terus dikembangkan dengan memanfaatkan sumberdaya dan dukungan baik itu yang bersumber dari pemerintah pusat maupun daerah,” terangnya.

Sementara, Ketua Yayasan Lingkar Perdamaian (YLP) Ustaz Ali Fauzi Manzi berterimakasih atas kehadiran Kepala BNPT ke yayasan yang dipimpinnya ini. Ali Fauzi menambahkan, belakangan ini semakin banyak yang bergabung dengan yayasan yang membina para mantan napiter ini.

“Makin ke sini makin banyak kawan-kawan yang care dan bergabung. Tentu ini menjadi atmosfer yang baik dalam penanganan tindak pidana terorisme di Indonesia,” lanjut Ustaz Ali.

Ustaz Ali menyebut, hingga kini YLP telah membina lebih dari 115 mantan napiter dan bulan ini saja ia menerima setidaknya 11 orang mantan napiter yang baru bebas dari Lapas. Kebanyakan, kata Ali, para mantan napiter yang bergabung di YLP berasal dari daerah-daerah sekitar Lamongan seperti Surabaya atau Blitar.

“Unit usaha yang kita kembangkan kita sesuaikan dengan skill masing-masing, kalau skilnya di pertanian ya kita arahkan ke pertanian, perkebunan ya ke perkebunan. Masing-masing punya skil berbeda, jadi kalau kita paksakan ya nggak bagus,”

Ditemukan Pembibitan Hiu Megalodon Berusia 24 Juta Tahun

0
Ilustrasi hiu. Foto: Neil Hammerschlag

Rachmatunnisa – detikInet

Kamis, 22 Okt 2020 06:05 WIB

Jakarta – Sekitar 24 juta tahun yang lalu, bayi hiu yang merupakan nenek moyang dari hewan raksasa megalodon, membutuhkan tempat untuk tumbuh besar sebelum menuju ke laut terbuka. Jadi, mereka berenang di sekitar pantai yang penuh dengan mangsa yang mudah ditangkap. Di Carolina Selatan, Amerika Serikat, ditemukan tempat pembibitan hiu raksasa megalodon tersebut.

Selama ini, para ilmuwan mengetahui hanya ada dua fosil pembibitan hiu. yang pertama, pembibitan hiu megalodon berusia 10 juta tahun di Panama, dan yang kedua pembibitan hiu putih besar berusia 5 juta tahun di Chili.

“Lokasi pembibitan yang baru ditemukan ini, selain merupakan menjadi tempat pembibitan hiu yang ketiga, juga merupakan pembibitan pertama yang tercatat untuk Carcharocles angustidens alias hiu gigi raksasa yang hidup selama zaman Oligosen atau sekitar 23 juta hingga 34 juta tahun lalu,” kata salah satu peneliti Robert Boessenecker dari Mace Brown Museum of Natural History, College of Charleston, California Selatan.

Beberapa fosil gigi hiu yang berhasil dikumpulkan. Foto: Robert Boessnecker

Ketika Boessenecker dan timnya memeriksa salah satu gigi hiu dari lokasi pembibitan, mereka menemukan kejutan lain. Ternyata ikan ini berasal dari C. angustidens terbesar yang pernah tercatat. Hal ini diketahui menurut persamaan yang menghitung panjang tubuh hiu berdasarkan ukuran giginya. Temuan ini mengubah pemahaman tentang seberapa besar ukuran karnivora purba ini.

Sebelumnya, pemegang rekor hiu raksasa berasal dari temuan gigi C. angustidens yang di Selandia Baru. Hiu yang sudah punah itu punya panjang maksimum 8,47 meter.

“Panjang maksimum yang kami hitung ulang untuk C. angustidens adalah 8,85 meter. Ini ternyata sedikit lebih besar dari spesimen Selandia Baru,” kata peneliti lainnya, Addison Miller dari College of Charleston.

Gigi Carcharocles angustidens ditemukan di Carolina Selatan. Foto: Addison Miller

Sebagai perbandingan, hiu putih besar modern Carcharodon carcharias dapat mencapai panjang 6 meter. Tapi kebanyakan dari jenis ini berukuran lebih kecil.

Jika didukung dengan lebih banyak bukti, temuan ini akan menunjukkan bahwa perilaku dan strategi adaptif dalam memanfaatkan area pembibitan telah berevolusi sejak zaman Oligosen sekitar 24 juta tahun yang lalu untuk garis keturunan hiu gigi raksasa.

Jejak Fredrich Yunadi dari Drama ‘Bakpao’ hingga PK di Kasus Novanto

0
Fredrich Yunadi. (Foto: Grandyos Zafna)

Hestiana Dharmastuti – detikNews

Kamis, 22 Okt 2020 05:43 WIB

Jakarta – Fredrich Yunadi, terpidana merintangi penyidikan KPK atas Setya Novanto dalam kasus korupsi proyek e-KTP terus mencari keadilan. Setelah kasasi ditolak Mahkamah Agung (MA), mantan kuasa hukum Setya Novanto ini mengajukan peninjauan kembali (PK) ke Pengadilan Negeri (PN) Jakarta Pusat

Terbaru, Fredrich melalui kuasa hukumnya mengajukan PK ke PN Jakpus pada Jumat 16 Oktober 2020. PK itu diajukan setelah Mahkamah Agung menolak kasasi Fredrich Yunadi dan menggenapkan hukumannya menjadi 7,5 tahun penjara.

Rencananya, sidang PK rencananya bakal digelar pada Jumat, 23 Oktober 2020.

Berikut jejak Fredrich Yunadi dari drama ‘Bakpao’ hingga PK di kasus Novanto:

16 Oktober 2020

Fredrich mengajukan PK ke PN Jakarta Pusat setelah MA menolak kasasi Fredrich dan menggenapkan hukumannya menjadi 7,5 tahun penjara.

Dilihat detikcom, Rabu (21/10/2020), di situs Sistem Informasi Penelusuran Perkara Pengadilan Jakarta Pusat, sipp.pn-jakartapusat.go.id, Fredrich melalui kuasa hukumnya mengajukan PK ke PN Jakpus pada Jumat (16/10).

Sidang PK rencananya bakal digelar pada Jumat, 23 Oktober 2020.

Atas PK Fredrich, KPK siap menghadapinya.

“Tanggapan adanya permohonan PK oleh terpidana Fredrich, PK merupakan hak terpidana oleh karena itu silakan diajukan. Tentu nanti jaksa KPK juga akan memberikan pendapat terkait dalil dan alasan yang diajukan oleh pemohon PK,” kata Plt Jubir KPK, Ali Fikri, kepada wartawan, Rabu (21/10/2020).

Ali mengatakan KPK yakin majelis hakim Tipikor tingkat pertama sampai dengan Kasasi telah mempertimbangkan fakta-fakta dan alat bukti yang ada dalam menjatuhkan putusan. Untuk itu, ia berharap MA mempertimbangkan harapan publik agar ada putusan yang memberikan efek jera terhadap koruptor.

21 Maret 2019

MA menambah hukuman Fredrich selama 6 bulan penjara. Total, ia harus menghuni penjara selam 7,5 tahun. Duduk sebagai ketua majelis, hakim agung Salman Luthan, dengan anggota hakim agung Prof Dr Krisna Harahap dan hakim agung Syamsul Rakan Chaniago.

10 Oktober 2018

Pengadilan Tinggi (PT) Jakarta menguatkan vonis 7 tahun penjara ke Fredrich.

28 Juni 2018

Pengadilan Tipikor Jakarta menjatuhkan hukuman 7 tahun penjara kepada Fredrich.

31 Mei 2018

Fredrich dituntut 12 tahun penjara. KPK menyebut kesalahan Fredrich:

1. Fredrich membuat rencana Setya Novanto dirawat di rumah sakit agar tidak bisa diperiksa dalam kasus proyek e-KTP oleh penyidik KPK. Fredrich menghubungi dokter Bimanesh Sutarjo karena kliennya ingin dirawat di RS Medika Permata Hijau.

2. Fredrich meminta Bimanesh mengubah diagnosis hipertensi menjadi kecelakaan. Padahal Setya Novanto sebelumnya berada di gedung DPR dan kawasan Bogor.

Hal itu diakui dalam kesaksian Dokter Bimanesh Sutarjo. Ia mengaku awalnya dihubungi Fredrich Yunadi untuk merawat Setya Novanto dengan diagnosis hipertensi. Namun tiba-tiba Bimanesh mengaku diminta Fredrich mengganti skenario, yaitu Novanto mengalami kecelakaan.

“Saya sedang tidur, terbangun dering telepon terdakwa, sore pukul 17.50 WIB ditelepon, (Fredrich bilang) ‘Dok, skenario kecelakaan’,” ucap Bimanesh.

9 Februari 2018

Fredrich duduk di kursi pesakitan.

Fredrich Yunadi didakwa merintangi penyidikan KPK atas Setya Novanto dalam kasus dugaan korupsi proyek e-KTP. Fredrich diduga bekerja sama dengan dr Bimanesh Sutarjo merekayasa sakitnya Novanto.

13 Januari 2018

Fredrich ditahan KPK.https://tpc.googlesyndication.com/safeframe/1-0-37/html/container.html

10 Januari 2018

Fredrich merupakan mantan kuasa hukum Setya Novanto yang ditetapkan tersangka karena diduga menghalangi penyidikan kasus dugaan korupsi proyek e-KTP dengan tersangka Novanto.

Dia ditetapkan KPK sebagai tersangka bersama dokter Bimanesh Sutarjo. Keduanya dijadikan tersangka karena diduga merekayasa agar Novanto dirawat inap di RS Medika Permata Hijau. Tujuannya untuk menghindarkan Novanto dari pemeriksaan KPK.

17 November 2017

Tim KPK mendapatkan kabar bila Novanto akan memenuhi panggilan di KPK. Tiba-tiba pada malam harinya, Novanto dikabarkan mengalami kecelakaan.

Mobil yang ditumpanginya menabrak tiang lampu. Mantan Ketua Umum Partai Golkar itu pun dilarikan ke rumah sakit yang tak lain adalah RS Medika Permata Hijau. Salah satunya, Fredrich mengaku kliennya mengalami luka parah, ada benjolan sebesar bakpao di kepala Novanto.

Banyak kejanggalan di kasus kecelakaan itu sehingga KPK menyelidikinya.

Relawan Uji Vaksin Corona AstraZeneca Meninggal, PKS Ingatkan Aspek Keamanan

0
Netty Prasetiyani Ahmad Heryawan (Azizah/detikcom)

Rahel Narda Chaterine – detikNews

Kamis, 22 Okt 2020 16:05 WIB

Jakarta – Seorang sukarelawan uji coba vaksin COVID-19 AstraZeneca meninggal dunia di Brasil. Berkaca dari hal tersebut, anggota Komisi IX DPR RI Netty Prasetiyani Aher meminta proses pengadaan vaksin Corona di Indonesia harus dibuat transparan.

“Semua prosesnya harus transparan. Kalau dikatakan sudah dilakukan uji klinis fase 3 di beberapa negara dan sudah ada izin penggunaan darurat (emergency use authorization) maka harus ditunjukkan hasil datanya agar mampu menjawab kekhawatiran masyarakat,” kata Netty kepada wartawan pada Kamis (22/10/2020).

Netty menilai saat ini publik mulai khawatir perihal keamanan dari vaksin Corona. Ia pun meminta pemerintah tidak memberikan vaksin yang masih ‘setengah jadi’ kepada masyarakat.

“Karena saat ini di masyarakat isunya menjadi liar aman atau tidaknya vaksin ini? Jangan sampai vaksin yang diberikan masih setengah jadi, ini akan membahayakan penduduk,” kata Netty.

Selain itu, Wakil Ketua Fraksi PKS DPR RI ini menyoroti soal penggunaan anggaran dalam pengadaan vaksin Corona. Netty mendesak pemerintah memberikan informasi yang detail mengenai harga vaksin.

“Berapa harga vaksinnya, berapa yang harus dibayar masyarakat dan kelompok masyarakat mana yang digratiskan ini harus jelas. Pemerintah berkewajiban untuk melaporkan secara reguler dan detil. Dan sepantasnya pengadaan vaksin ini semata-mata untuk melindungi rakyat dari pandemi COVID-19 dan bukan untuk dijadikan proyek oleh orang-orang yang punya kepentingan,” tambahnya.

Netty mengingatkan pemerintah harus tetap mengetatkan protokol kesehatan meskipun sudah melakukan vaksinasi massal. Menurutnya, vaksin bukan penanda bahwa pandemi virus Corona sudah berakhir.

“Harus ada edukasi yang turun langsung ke masyarakat bahwa vaksinasi tidak berarti bebas COVID-19, pemerintah harus mampu mengantisipasi euforia masyarakat. Penerapan protokol kesehatan tetap harus diperketat, jangan sampai gara-gara euforia vaksin ini kebiasaan 3M dan 3T menjadi ambyar,” ucap Netty.

Untuk diketahui, seorang relawan uji klinis vaksin COVID-19 AstraZeneca di Brasil meninggal dunia, berdasarkan keterangan para pejabat pada Rabu (21/10). Dikutip dari The Guardian, relawan yang meninggal dilaporkan bernama Dr Joao Pedro Feitosa. Ia merupakan petugas medis berusia 28 tahun yang merawat pasien COVID-19.

Surat kabar Brasil, O Globo, melaporkan bahwa relawan tersebut telah diberi plasebo, bukan vaksin COVID-19 eksperimental. Uji klinis vaksin yang dikembangkan AstraZeneca bersama Universitas Oxford itu pun disebut akan tetap dilanjutkan.

Terkait pengadaan vaksin di Tanah Air, Menteri Luar Negeri (Menlu) Retno Marsudi bersama Menteri BUMN Erick Thohir telah melakukan kunjungan ke Inggris. Usai melakukan sejumlah pertemuan, Retno mengatakan AstraZeneca akan memberikan penyediaan vaksin sebanyak 100 juta kepada Indonesia pada 2021.

“Pertemuan dengan jajaran pimpinan AstraZeneca telah berjalan dengan baik. Indonesia telah menyampaikan permintaan penyediaan vaksin sebesar 100 juta untuk tahun 2021,” kata Retno dalam telekonferensi pada Rabu (14/10).

Selain AstraZeneca, pemerintah telah mengungkap pada akhir tahun ini akan ada 3 juta vaksin Sinovac yang masuk ke RI. Sebelum memberikan imunisasi kepada masyarakat, pemerintah akan memastikan keamanannya terlebih dahulu.

“Jadi ada 3 juta vaksin. Jadi ini diharapkan tentu masih ada sertifikasi yang diperlukan, yaitu dari BPOM. BPOM sudah mengirim timnya ke pabriknya Sinovac dan ada sebagian yang diproduksi di Bio Farma tentu cara pembuatan obat yang baik itu harus disertifikasi,” kata Ketua Komite Penanganan COVID-19 dan Pemulihan Ekonomi Nasional (KPCPEN) Airlangga Hartarto dalam talk show yang digelar BNPB Indonesia, Kamis (22/10).

Akhirnya Terungkap! Ini Motif Pelaku Bunuh Lalu Bakar Yulia dalam Mobil

0
Mobil tempat mayat Yulia ditemukan dalam kondisi terbakar di Sukoharjo. Foto: Sri Hartono/detikcom

Angling Adhitya Purbaya – detikNews

Jumat, 23 Okt 2020 12:15 WIB

Semarang – Motif pembunuhan Yulia (42) yang mayatnya ditemukan terbakar dalam mobil di Kabupaten Sukoharjo, Jawa Tengah akhirnya terungkap. Polisi menyampaikan pelaku berinisial EP (30) tega menghabisi nyawa Yulia karena masalah utang piutang.

“Motif utang piutang,” ujar Kapolda Jawa Tengah Irjen Pol Ahmad Luthfi kepada wartawan di kantornya, Jumat (23/10/2020).

Luthfi mengatakan korban mendatangi EP untuk menagih utang sebesar lebih dari seratus juta. Yulia mendatangi rumah EP di Desa Ngesong, Kabupaten Sukoharjo, Jawa Tengah.

Pelaku lalu menghabisi Yulia di kandang ayam yang berada di rumahnya. Polisi mengungkap, Yulia dibunuh dengan hantaman linggis.

Polisi mengungkap ada dua orang yang diamankan kemarin. Namun Luthfi menyebut hanya satu dari mereka yang merupakan pelaku pembunuhan Yulia.

“Pelaku baru satu, satu itu menurut keterangan tersangka hanya dipanggil untuk antar,” lanjut Luthfi.

Polisi menggelar olah TKP penemuan mayat Yulia terbakar dalam mobil di Sukoharjo, Jawa Tengah, Rabu (21/10/2020). (Foto: Sri Hartono/detikcom)

Diberitakan sebelumnya, mayat Yulia ditemukan terbakar di dalam mobilnya yang terparkir di halaman toko material bangunan di Dukuh Cendono Baru RT 4/7 Desa Sugihan, Kecamatan Bendosari, Kabupaten Sukoharjo Selasa (20/10) sekitar pukul 22.00 WIB. Sejumlah saksi telah diperiksa polisi mulai dari keluarga hingga warga yang menemukan mobil dan mayat terbakar di Sukoharjo.

Dari olah TKP, polisi sempat mengungkap ada selotip di tangan korban. selain itu dari autopsi diketahui, korban mengalami sejumlah luka akibat benda tajam dan benda tumpul.

Jenazah Yulia telah dimakamkan kemarin Taman Memorial Delingan, Karanganyar kemarin.

Xi Jinping Lontarkan Peringatan untuk Calon ‘Penyerang’ China

0

Novi Christiastuti – detikNews

Jumat, 23 Okt 2020 13:30 WIB

Beijing – Presiden China, Xi Jinping, melontarkan peringatan tajam terhadap calon ‘penyerang’ bahwa militer China memiliki kekuatan besar. Para pengamat menilai peringatan Xi ini jelas ditujukan kepada Amerika Serikat (AS).

Seperti dilansir AFP, Jumat (23/10/2020), Xi menyampaikan hal tersebut saat berbicara dalam peringatan 70 tahun keterlibatan China dalam Perang Korea — yang menjadi satu-satunya perang saat militer China berhadapan langsung dengan militer AS.

Pemerintah China menyebut lebih dari 197 ribu tentara China gugur dalam perang selama tiga tahun itu, saat koalisi Perserikatan Bangsa-bangsa (PBB) yang dipimpin AS mendorong garis paralel ke-38 yang memisahkan Semenanjung Korea. China mendukung pasukan komunis Korea Utara (Korut) dalam perang itu.

Dalam pidatonya yang panjang, Xi menyebut bahwa kemenangan dalam perang Korea tahun 1950-1953 silam menjadi pengingat bawa China siap melawan siapa saja yang ‘menciptakan masalah … di dekat wilayah China’.

China diketahui sering menggunakan peringatan perang untuk memberikan peringatan terselubung kepada AS soal kekuatan militer dari ‘China yang baru’.

Perang Korea menjadi fondasi utama bagi Partai Komunis yang berkuasa di China, yang beberapa tahun terakhir menjadi target Presiden AS, Donald Trump, dalam perselisihan sengit kedua negara, mulai dari soal perdagangan, teknologi, HAM, hingga soal status Taiwan — yang oleh China dianggap bagian wilayahnya.

“Orang-orang China tidak membuat masalah, kita juga tidak takut pada mereka,” ucap Xi yang disambut tepuk tangan.

“Kita tidak akan pernah duduk diam dan melihat kerusakan terjadi pada kedaulatan nasional kita … dan kita tidak akan pernah membiarkan kekuatan apapun untuk menyerang atau memecah-belah wilayah suci tanah air,” tegasnya.

Pada Rabu (21/10) waktu setempat, Pentagon mengumumkan kesepakatan menjual persenjataan rudal senilai lebih dari US$ 1 miliar kepada Taiwan.

Para pengamat menilai peringatan Xi itu jelas ditujukan untuk AS. “Ini seharusnya dilihat sebagai pesan langsung yang ditujukan untuk Amerika Serikat, tidak ada ambiguitas di sini,” cetus analis spesialis China pada Institut Studi Keamanan Uni Eropa.

“Xi menggunakan semangat perang dalam arti luas,” sebutnya.

“China menyatakan kepada AS bahwa mereka tidak takut pada AS di masa lalu, dan masih tidak takut pada AS sekarang,” ucap profesor politik internasional pada Universitas Renmin, Shi Yinhong. “Itu untuk mempersiapkan kemungkinan konflik militer terbatas dengan AS,” ujarnya.

Imbas Dahsyat Corona, Matahari Rugi Rp 617 M dan Tutup 7 Toko!

0

Soraya Novika – detikFinance

Jumat, 23 Okt 2020 12:46 WIB

Jakarta – Pandemi COVID-19 berimbas pada berbagai sektor usaha termasuk ritel seperti PT Matahari Department Store Tbk (LPPF). Gegara pandemi ini, Matahari sampai harus menutup 7 gerainya dan menanggung kerugian bersih Rp 617 miliar dari Januari- September 2020.

“Pandemi COVID-19 mempercepat penutupan gerai-gerai yang berkinerja kurang baik, sejalan dengan upaya Matahari dalam merestrukturisasi bisnis. Sepanjang tahun ini, tujuh gerai format besar dan seluruh gerai khusus ditutup,” ujar CEO dan Wakil Presiden Direktur Matahari mengatakan dalam rilis resminya di Keterbukaan Informasi BEI, Jumat (23/10/2020).

Sehingga saat ini, Matahari hanya mengoperasikan 153 gerai di 76 kota di seluruh Indonesia. Rencananya, emiten berkode saham LPPF ini bakal menutup 3 gerai lainnya hingga akhir tahun.

Lantaran, pendapatan perusahaan tersebut sepanjang tahun ini semakin terjun bebas. Emiten ini hanya mampu melaporkan penjualan kotor sebesar Rp 5,9 triliun alias anjlok sebanyak 57,6% dibanding periode yang sama tahun lalu. Pendapatan bersihnya pun demikian merosot 57,5% menjadi Rp 3,3 triliun dibanding periode yang sama tahun lalu.

Matahari Department Store mengaku sudah mulai pulih secara stabil pada Juli, Agustus, dan hingga pertengahan September lalu. Namun, ketika pada tanggal 14 September, PSBB diimplementasikan kembali di Jakarta dan adanya pembatasan operasional di lokasi lainnya, menyebabkan perseroan menutup beberapa gerainya untuk sementara, sehingga memperlambat kinerja emiten pada kuartal tersebut.

Untuk mengurangi dampak pandemi, perseroan mengklaim telah mengupayakan berbagai pengetatan biaya, termasuk negosiasi untuk memperoleh keringanan sewa yang menghasilkan penurunan beban operasional sebesar 26,2% pada kuartal ketiga dan 29,3% pada periode Januari-September 2020.

“Kami telah melunasi fasilitas kredit tambahan yang diperoleh di bulan Mei tahun ini. Kami melakukan kontrol yang ketat atas pengeluaran kami dan pembekuan belanja modal kami masih berlaku selain terkait dua toko yang dibuka pada kuartal ini,” sambungnya.

Perlahan perseroan juga telah memulihkan kembali kebijakan pemotongan gaji terhadap para karyawannya. Matahari Department Store menargetkan, gaji karyawannya bakal balik utuh sepenuhnya pada Kuartal IV-2020 mendatang.

Kisah Pria Hampir Meninggal karena COVID-19 Usai Sebelumnya Yakin Corona Hoax

0
Kisah pria yang hampir meninggal karena anggap virus Corona hoax. (Foto ilustrasi: shutterstock)

Jumat, 23 Okt 2020 12:18 WIB

Sarah Oktaviani Alam – detikHealth

Jakarta – Seorang pria asal Texas hampir saja meninggal akibat infeksi virus Corona. Bahkan kondisinya sudah semakin memburuk. Sebelum sakit, pria bernama William ‘Bill’ Bloom ini satu orang yang tidak percaya akan keberadaan virus Corona, dan tidak pernah menggunakan masker.

“Saya tidak percaya. Saya tidak peduli untuk memakai masker. Saya tidak berpikir itu (virus Corona) akan mempengaruhi saya,” katanya yang dikutip dari NBC, Jumat (23/10/2020).

Namun, akhirnya ia terinfeksi virus Corona. Ia dirawat selama enam minggu di rumah sakit, tetapi masih belum percaya terhadap keberadaan virus tersebut.

Kondisinya pun semakin parah dari hari ke hari. Dokter yang pertama kali melihat keadaan Bloom mengatakan bahwa kesempatan hidup Bloom hanya tersisa beberapa hari saja.

“Pada hari kedua saya melihat Tuan Bloom, fungsi pernapasan Bloom memburuk dan membutuhkan bantuan oksigen tingkat tinggi,” jelas dokter paru yang merawat Bloom, Dr Christopher Everett.

“Saya membuat keputusan untuk memindahkannya (Bloom) ke ruang ICU, agar mendapatkan perawatan yang lebih tinggi dan kemungkinan intubasi,” lanjutnya.

Untuk menyelamatkan hidup Bloom, ia harus menggunakan ventilator selama 17 hari. Meskipun saat ini Bloom sudah keluar dari rumah sakit, ia masih harus menjalani masa pemulihan yang panjang.

“Saya sudah di rumah selama berminggu-minggu dan masih merasakan sakit yang luar biasa,” ujar Bloom.

Meski begitu, Bloom tetap berterima kasih pada dokter dan perawat di rumah sakit tempatnya dirawat. Ia juga mengingatkan bahwa pandemi virus Corona masih terjadi sampai saat ini.

“Jika saya bisa menghentikan satu orang, saya akan melakukan sesuatu yang baik. Sederhana saja, pakai masker, jaga jarak, dan jaga tangan tetap bersih,”imbuhnya.

Wanita 19 Tahun Meninggal Setelah 14 Bulan Koma karena Operasi Payudara

0
Emmalyn Nguyen. Foto: Instagram/@emmxlyn

Hestianingsih – wolipop Kamis, 15 Okt 2020 05:30 WIB

Colorado – Seorang wanita asal Colorado, Amerika Serikat, harus meregang nyawa karena prosedur kecantikan yang salah. Dia meninggal dunia setelah operasi pembesaran payudara.

Emmalyn Nguyen, nama wanita tersebut, sempat koma selama 14 bulan pascaoperasi sebelum meninggal pada 4 Oktober 2020. Kabar kematian Emmalyn baru diumumkan keluarganya saat pemakaman, Minggu (11/10/2020).

Peristiwa naas itu bermula ketika Emmalyn, yang saat itu masih berusia 18 tahun, melakukan operasi pembesaran payudara pada 1 Agustus 2019. Ia membayar biaya operasi sebesar Rp 88,4 juta hasil dari uang yang dikumpulkannya sendiri.

Namun operasi estetika tersebut rupanya tak berjalan baik. Menurut pengacara keluarga David Woodruff, perawat yang bertugas memberikan anestesi kepada Emmalyn, meninggalkannya selama 15 menit dan ketika kembali ke ruang operasi tubuh sang pasien sudah membiru.

Seperti diberitakan Nextshark, prosedur pembesaran payudara tetap berjalan dan memakan waktu hingga lima jam. Operasi selesai, tapi Emmalyn tidak kunjung sadar.

Saat itu dokter hanya mengatakan pada Lynn Fam, ibu yang Emmalyn yang menungguinya selama operasi, bahwa puntrinya hanya perlu waktu lebih lama karena usianya masih muda. Sampai akhirnya kondisi Emmalyn mulai mengkhawatirkan dan perawat anestesi yang bernama Rex Meeker akhirnya menelepon ambulans.

“Dia tidak sadar. Kami sudah memeriksanya. Kami memperkirakan skor Glasgow antara 6 atau 7,” terang David, mengulangi ucapan Rex.

Glasgow Coma Scale (GCS) adalah skala yang digunakan untuk mengetahui tingkat kesadaran seseorang. Pasen bisa dinyatakan berada dalam kondisi koma jika skor GCS hanya berada di skala 3 – 8.

Petugas medis yang datang ke klinik langsung memberikan pertolongan darurat dengan CPR, tapi wanita berdarah Vietnam itu tidak juga bangun. Emmalyn pun langsung dilarikan ke rumah sakit.

Hasil pemeriksaan medis menunjukkan bahwa Emmalyn mengalami henti jantung dua kali dan kerusakan otak saat operasi masih berlangsung. Keluarga menuding Rex Meeker tidak melakukan prosedur yang tepat dan tidak memonitor kondisi pasien setelah pemberian anestesi.

Kelalaian tersebut membuat Emmalyn berada pada kondisi vegetatif atau gangguan fungsi otak kronis yang membuat dirinya tak bisa berjalan, bicara atau makan sendiri. Keluarga memutuskan membawanya ke rumah perawatan agar mendapat pemantauan 24 jam.

Selama berada di rumah perawatan Emmalyn makan melalui selang dan dibantu mesin oksigen agar bisa bernapas. Lebih dari satu tahun hanya bisa terbaring di tempat tidur, Emmalyn sempat menunjukkan kemajuan dan bisa tersenyum. Secara medis kondisinya pun lebih stabil.

Namun pada 2 Oktober 2020 dia mengalami pneumonia dan beberapa kali henti jantung dalam 24 jam. Hingga akhirnya Emmalyn tertidur untuk selamanya.

Keluarga Emmalyn kini meminta keadilan pada Colorado Aesthetic and Plastic Surgery, klinik di mana Emmalyn menjalani operasi. Mereka meminta menuntut Geoffrey Kim, M.D., dokter yang melakukan prosedur pembesaran payudara dan perawat anestesi Rex Meeker atas tuduhan kelalaian yang menyebabkan kematian.

Brigjen EP yang Terlibat LGBT Didemosi Selama 3 Tahun

0
Foto: Brigjen Awi Setiyono (Dok: Divisi Humas Polri)

Kadek Melda – detikNews

Rabu, 21 Okt 2020 16:50 WIB

Jakarta – Seorang perwira tinggi Polri, Brigjen EP terbukti terlibat dalam kelompok lesbian, gay, biseksual dan transgender (LGBT). Atas perbuatannya, Brigjen EP disanksi demosi atau pemindahan ke jabatan yang lebih rendah selama tiga tahun.

“Yang bersangkutan dipindah tugaskan ke jabatan yang berbeda yang bersifat demosi selama 3 tahun,” kata Karopenmas Divisi Humas Polri Brigjen Awi Setiyono di Mabes Polri, Rabu (21/10/2020).

Awi menuturkan Brigjen EP juga wajib meminta maaf secara lisan kepada pimpinan serta pihak-pihak yang dirugikan. Tak hanya itu, Brigjen EP juga wajib mengikuti pembinaan mental selama satu bulan.

“Kemudian kewajiban pelanggar untuk meminta maaf secara lisan kepada, di depan sidang KKEP (Komisi Kode Etik Profesi) dan atau kepada pimpinan Polri dan pihak-pihak yang dirugikan. Kewajiban pelanggar untuk mengikuti pembinaan mental kepribadian, kejiwaan, keagamaan, dan pengetahuan profesi selama satu bulan,” tuturnya.

Awi menyampaikan sidang etik terhadap Brigjen EP telah dilakukan pada akhir Januari lalu. Dari hasil persidangan, perbuatan yang bersangkutan dinyatakan sebagai perbuatan tercela.

“Terkait keputusan selama ini yang ditanyakan adanya LGBT di tubuh Polri, bahwasanya pada tanggal 31 Januari 2020 yang lalu telah dilakukan sidang KKEP Polri terhadap BJP EP. Dan hasil keputusannya antara lain bahwasanya perilaku pelanggar dinyatakan sebagai perbuatan tercela,” imbuhnya.

Sebelumnya, Asisten Kapolri bidang Sumber Daya Manusia, Irjen Sutrisno Yudi Hermawan mengatakan Brigjen EP telah dijatuhi sanksi karena terlibat LGBT. Polri menjatuhkan sanksi nonjob terhadap Brigjen EP hingga dirinya pensiun.

“Salah satu sanksi yakni nonjob (tidak diberi jabatan) sampai purna,” kata Yudi Hermawan kepada detikcom, Selasa (20/10).

Yudi menjelaskan perkara Brigjen EP terlibat LGBT telah selesai akhir tahun lalu. Brigjen EP telah diperiksa Divisi Propam Polri dan dikenai sanksi pada akhir 2019.

“Sudah diperiksa, disidangkan dan sudah diberikan sanksi oleh Div Propam Mabes pada akhir tahun 2019,” jelas Yudi.