Zunita Putri – detikNews
Kamis, 26 Feb 2026 08:04 WIB
Jakarta – Pemimpin Korea Utara Kim Jong Un mengisyaratkan negaranya bersedia berkawan dengan Amerika Serikat (AS). Namun, syaratnya AS Korea Selatan (Korsel) yang merupakan “sekutu” AS tetap menjadi musuh mereka.
Kim menyampaikan pernyataan tersebut di akhir kongres partai yang bersejarah, mendesak Washington untuk menghormati status Pyongyang sebagai kekuatan nuklir.
Pernyataannya muncul di tengah spekulasi yang berkembang bahwa Presiden AS Donald Trump mungkin akan mencari semacam pertemuan dengan Kim di sela-sela kunjungannya ke China pada bulan April.
“Jika Washington menghormati status negara kita saat ini sebagaimana diatur dalam Konstitusi… dan menarik kebijakan permusuhannya… tidak ada alasan mengapa kita tidak dapat bergaul dengan baik dengan Amerika Serikat,” kata Kim, menurut Kantor Berita Pusat Korea (KCNA) sebagaimana dilansir AFP, Kamis (26/2/2026).
Namun, ia menutup kemungkinan untuk membangun hubungan yang lebih dekat dengan Korea Selatan, dengan mengatakan bahwa ia akan “secara permanen mengecualikan” Seoul sebagai salah satu “sesama warga negara” bangsanya.
“Korea Utara sama sekali tidak berhak berurusan dengan Korea Selatan, entitas yang paling bermusuhan dengan kami,” kata Kim, menyebut upaya damai Seoul baru-baru ini sebagai “menipu”.
Pyongyang mengubah konstitusinya pada tahun 2024 untuk mendefinisikan Korea Selatan sebagai “negara musuh” untuk pertama kalinya.
Sebuah parade militer “megah” menandai akhir kongres Partai Buruh, sebuah acara yang diadakan setiap lima tahun sekali yang mengarahkan upaya negara dalam segala hal, mulai dari kebijakan luar negeri hingga perencanaan perang.
Korea Utara telah menggunakan parade semacam itu di masa lalu untuk memamerkan senjata terbarunya, menawarkan sumber wawasan langka tentang kekuatan angkatan bersenjatanya.
Upaya Trump dekati Kim
Presiden AS Donald Trump meningkatkan upaya pendekatannya kepada Kim selama kunjungannya ke Asia tahun lalu, dengan mengatakan bahwa ia “100 persen” terbuka untuk pertemuan.
Trump bahkan menentang kebijakan AS selama beberapa dekade dengan mengakui bahwa Korea Utara “semacam kekuatan nuklir”.
Pertemuan Trump-Kim pada bulan April akan menandai terobosan besar setelah bertahun-tahun diplomasi yang buntu menyusul runtuhnya pertemuan puncak mereka pada tahun 2019 di Hanoi terkait pencabutan sanksi dan apa yang bersedia dikorbankan Pyongyang dari persenjataan nuklirnya sebagai imbalannya.
Kim juga pernah muncul bersama Presiden China Xi Jinping dan Presiden Rusia Vladimir Putin dalam parade militer besar di Beijing tahun lalu — sebuah pertunjukan mencolok dari teman-teman berpengaruhnya dan statusnya yang tinggi dalam politik global.
Pyongyang khususnya telah semakin dekat dengan Moskow, mengirim ribuan pasukan untuk membantu perang Rusia melawan Ukraina.



