ENERGI

Rencana Besar Pemerintah Ganti LPG 3 Kg

Heri Purnomo – detikFinance
Kamis, 07 Mei 2026 07:29 WIB

Jakarta – Pemerintah tengah menyiapkan pengganti LPG 3 kilogram (kg). Ada langkah yang dilakukan, pertama, proyek batu bara menjadi Dimethyl Ether (DME).
Kedua, penggunaan Compressed Natural Gas (CNG) dalam tabung gas 3 kg

Menteri Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM) Bahlil Lahadalia menyampaikan pengembangan kedua proyek tersebut dilakukan sebagai langkah untuk mengurangi impor LPG Indonesia. Pasalnya saat ini impor LPG sekitar 7 juta ton per tahunnya.

Ia mengatakan untuk impor LPG tersebut, pemerintah harus mengeluarkan devisa sebesar Rp 130 sampai Rp 140 triliun. Di mana sekitar Rp 80 triliun hingga Rp 87 triliun merupakan subsidi yang ditanggung oleh pemerintah.

“Devisa kita setiap tahun hanya untuk membeli LPG saja, sekitar Rp 130 sampai Rp 140 triliun. Apalagi kalau harga minyak dunia seperti sekarang, itu pasti lebih besar lagi. Dan subsidi kita, itu Rp 80 sampai Rp 87 triliun,” ujar Bahlil saat ditemui di Kementerian ESDM, Jakarta, Rabu (6/5/2026).

Berikut dua proyek untuk menggantikan LPG 3 kg
1. Batu bara menjadi Dimethyl Ether (DME)
Asal tahu saja, proyek DME ini bukan proyek baru yang direncanakan pemerintah sebagai substitusi pengganti LPG. Proyek ini sudah lama direncanakan namun karena beberapa hal, pelaksanaannya belum juga jalan.

Kini di pemerintahan Presiden Prabowo, proyek DME bakal mulai jalan. Hal ini ditandai dengan telah dilakukan grounbreaking 13 Proyek Hilirisasi Nasional Fase II senilai Rp 116 triliun.

Di mana dalam 13 proyek tersebut, salah satunya yakni pengembangan fasilitas produksi DME berkapasitas 1,4 juta ton per tahun di Tanjung Enim (Sumatera Selatan).

“Menurut pendapat saya ini cukup bersejarah dan sangat membanggakan yaitu groundbreaking hilirisasi tahap kedua, yang mencakup 13 proyek strategis hilirisasi senilai kurang lebih Rp 116 triliun meliputi lima proyek di sektor energi 5 proyek di sektor mineral, 3 proyek di sektor pertanian,” kata Prabowo dikutip detikFinance dari peresmian yang dilakukan virtual, Rabu (29/4/2026).

Baginya, hilirisasi adalah jalan menuju kebangkitan bangsa Indonesia. Proyek hilirisasi juga disebutnya tidak instan karena fondasinya telah dipupuk oleh presiden-presiden sebelumnya.

“Kita lakukan di banyak bidang dalam tahun pertama pemerintahan yang saya pimpin yang kita lakukan adalah memperkuat pondasi yang sudah dilakukan oleh presiden-presiden terdahulu dari mulai presiden pertama sampai ke presiden ke-7,” ujar Prabowo.

Lantas, apa itu DME sebagai energi alternatif sebagai pengganti LPG?

Dilansir dari laman Kementerian ESDM, DME memiliki kesamaan baik sifat kimia maupun fisika dengan LPG. Lantaran mirip, DME dapat menggunakan infrastruktur LPG yang ada sekarang, seperti tabung, storage dan handling eksisting.

DME memiliki kandungan panas (calorific value) sebesar 7.749 Kcal/Kg, sementara kandungan panas LPG senilai 12.076 Kcal/Kg. Kendati begitu, DME memiliki massa jenis yang lebih tinggi sehingga kalau dalam perbandingan kalori antara DME dengan LPG sekitar 1 berbanding 1,6.

Adapun pemilihan DME untuk subtitusi sumber energi juga mempertimbangkan dampak lingkungan. DME dinilai mudah terurai di udara sehingga tidak merusak ozon dan meminimalisir gas rumah kaca hingga 20%.

Di samping itu, kualitas nyala api yang dihasilkan DME lebih biru dan stabil, tidak menghasilkan partikulat matter (pm) dan NOx, serta tidak mengandung sulfur.

DME merupakan senyawa eter paling sederhana mengandung oksigen dengan rumus kimia CH3OCH3 yang berwujud gas sehingga proses pembakarannya berlangsung lebih cepat dibandingkan LPG.

2. Pemanfaatan CNG
Pemanfaatan Compressed natural gas (CNG) sebagai pengganti LPG sedang diuji coba pada penggunaan tabung ukuran 3 kilogram sebelum diimplementasikan secara luas ke masyarakat.

Bahlil mengatakan bahwa sebenarnya penggunaan CNG sudah dilakukan. Namun penggunaan tersebut hanya pada tabung 12 kg dan 20 kg.

“Tapi kan untuk CNG ini, untuk yang 12 kilogran yang 20 kilogram tu sudah jalan, untuk dipakai di hotel dan restoran. Dan kemudian bagus, dan itu lebih efisien. Tapi kan rakyat kan enggak mungkin kita suruh yang berat-berat itu, 20 kilogra.. Nah, ini yang kita lagi godok. Dan ini sudah kita kerjakan sebenarnya sejak setahun lalu. Tapi untuk mendapatkan teknologi yang 3 kilogramnya, ini lagi kita tes. Gitu, ya,” terang Bahlil di Kementerian ESDM Jakarta, Rabu (6/5/2026).

Bahlil mengatakan nantinya CNG akan disubsidi, seperti LPG 3 kg. Pemberian subsidi ini sesuai dengan arahan Presiden Prabowo Subianto agar masyarakat mendapatkan harga terjangkau.

“Arahan Bapak Presiden, baik itu CNG maupun LPG akan selalu mengedepankan untuk membantu rakyat yang memang harus kita bantu. Dengan demikian, subsidi saya pastikan masih menjadi yang harus dilakukan untuk rakyat ya,” ujar Bahlil.

Pada kesempatan terpisah, Bahlil menyatakan harga CNG diklaim 30% lebih murah dibandingkan LPG.

“CNG itu sudah dilakukan kajian. Harganya jauh lebih murah, kurang lebih sekitar 30% lah lebih murah,” ujar Bahlil di Kompleks Istana Kepresidenan, Jakarta Pusat, Selasa (5/5/2026).

Menurutnya, harga CNG murah karena pasokan bahan bakunya melimpah di Indonesia. Beda dengan LPG yang mahal karena impor, CNG tak perlu mengeluarkan ongkos transportasi besar untuk impor.

“Kenapa dia lebih murah? Karena yang pertama gasnya itu ada di kita dan industrinya kan ada di kita, di dalam negeri. Jadi, tidak kita melakukan impor. Cost transportasinya aja udah bisa meng-cover. Dan yang kedua, dia itu berada di hampir semua wilayah yang ada sumber-sumber gasnya, jadi itu jauh lebih efisien,” kata Bahlil.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *