Positive SSL
Home Blog Page 5

Tuntut Utang Rp 13,8 T, Korban KSP Indosurya Banjiri PN Jakpus

0
Foto: Nasabah KSP Indosurya di PN Jakpus/Dok Nasabah

Jumat, 19 Jun 2020 14:08 WIB

Herdi Alif Alhikam – detikFinance

Jakarta – Puluhan nasabah Koperasi Simpan Pinjam (KSP) Indosurya Cipta yang menjadi korban gagal bayar mendatangi Pengadilan Negeri Jakarta Pusat. Mereka datang untuk mengawal pengajuan sidang Penundaan Kewajiban Pembayaran Utang (PKPU) untuk penyelesaian kasus gagal bayar Indosurya.

Menurut salah satu nasabah yang enggan menyebutkan namanya, mereka ingin kasus gagal bayar ini bisa diselesaikan secara perdata dengan sidang PKPU. Menurutnya, usai Indosurya gagal bayar medio Februari lalu, upaya perdamaian dari pihak KSP Indosurya dinilai tak masuk akal.

Dia mengatakan bahwa Indosurya mau membayar kegagalan bayar dengan dicicil dalam jangka waktu tertentu, paling lama 10 tahun. Hal ini dikeluhkan, khawatirnya, cicilan yang dilakukan mandek di tengah jalan.

“Yang mereka tawarkan ini nggak masuk akal. Masak mau dibayar cicil selama 10 tahun, kita khawatir ini berhenti di jalan atau gimana. Makanya kita bawa ke PKPU biar ada kejelasan,” ujarnya kepada detikcom, di Kantor Pengadilan Negeri Jakarta Pusat, Jumat (19/6/2020).

Dia menyebut setidaknya ada 5 ribu lebih nasabah yang sudah mengajukan kasus ini ke PKPU. Total utang yang belum dibayarkan koperasi sekitar Rp 13,8 triliun.

Sidang sendiri menurut Kuasa Hukum para nasabah, Sukisari, belum memasuki agenda pembicaraan perdamaian. Sidang baru membahas masalah pencocokan tagihan dari para peserta yang mengajukan PKPU. Menurut Sukisari, sidang pencocokan ini akan diteruskan Senin besok.

“Sidang hari ini pencocokan tagihan, tapi tidak dilakukan pencocokan satu per satu jadi teman-teman kurang puas, banyak juga belum masuk. Menurut UU setiap tagihan mesti dicocokkan, nanti tanggal 22 akan sidang pencocokan tagihan lagi,” ungkap Sukisari.

Para nasabah sendiri sempat melakukan aksi damai di depan gedung Pengadilan Negeri Jakarta. Aksi ini dilakukan sebagai bentuk solidaritas antar nasabah yang menjadi korban gagal bayar KSP Indosurya.

Selamat Jalan Prabawati Sukarta, Pengisi Suara Shizuka di Doraemon

0
Prabawati Sukarta. (dok.IG/indonesian voice talent)

Sabtu, 20 Jun 2020 05:30 WIB Asep Syaifullah – detikHot

Jakarta – Para pecinta kartun Doraemon kini tengah berduka usai kehilangan sosok pengisi suara salah satu karakternya untuk penayangan di Indonesia. Beliau adalah Prabawati Sukarta, wanita di balik suara Shizuka Minamoto.

Ia menjadi pengisi suara teman Nobita dan Doraemon sejak awal penayangan animasi tersebut di salah satu televisi swasta hingga pada 2006 lalu. Jika ditotal, hampir 20 tahun sudah suara Prabawati menemani masa kecil anak-anak Indonesia kala menyaksikan Doraemon.

“Jadi pas Doraemon tayang di sini itu, saya barengan beliau jadi pengisi suaranya di tahun 1989,” ujar Ely Kusuma salah satu sahabat dekat Prabawati Sukarta lewat sambungan telepon kepada detikcom.

Hingga saat ini, sudah ada tiga orang yang tampil mengisi suara karakter Shizuka setelah beliau memutuskan untuk pensiun pada 2006 lalu. Setelah pensiun sebagai dubber, ia pun memilih aktif siaran di radio.

Wanita kelahiran 1956 itu sempat menjadi salah satu penyiar di Radio Republik Indonesia (RRI) lalu pensiun pada 2013. Prabawati memilih pensiun karena faktor kesehatan yang mulai menurun.

Ia menderita penyakit ginjal yang membuatnya harus rutin cuci darah.

“Terus ibu pensiun di tahun 2013. Di tahun itu juga, ibu (divonis) sakit ginjal,” ungkap Wike, menantu mendiang Prabawati Sukarta.

Prabawati Sukarta meninggal dunia pada Senin (15/6) dan dimakamkan di Tambun, Jawa Barat. Tak hanya keluarga saja yang berduka atas kepergiannya, para penggemar kartun Doraemon pun turut mengucapkan rasa belasungkawa di media sosial.

“Terima kasih banyak ya bu, suara ibu sudah menemani saya waktu kecil di kartun Doraemon,” ungkap pemilik akun Manches***.

“Jaman dulu nggak pernah ketinggalan nonton Doraemon. RIP bu, selamat jalan Shizuka,” timpal akun orang****.

Kembali Cetak Rekor, India Catat 14 Ribu Kasus Corona dalam Sehari

0
Ilustrasi (BBC World)

Novi Christiastuti – detikNews

Sabtu, 20 Jun 2020 16:03 WIB

New Delhi – Otoritas India kembali mencetak rekor tertinggi untuk tambahan kasus virus Corona (COVID-19) harian di wilayahnya. Kali ini, otoritas kesehatan India melaporkan lebih dari 14 ribu kasus Corona dalam sehari.

Seperti dilansir CNN, Sabtu (20/6/2020), sudah tiga hari berturut-turut India mencetak rekor untuk tambahan kasus harian tertinggi di wilayahnya. Pada Jumat (19/6) kemarin, India mencatatkan lebih dari 13 ribu kasus dalam sehari.

Laporan terbaru Kementerian Kesehatan dan Kesejahteraan Keluarga India menyebut 14.516 kasus baru tercatat dalam 24 jam terakhir, atau hingga Sabtu (20/6) pagi, pukul 08.00 waktu setempat.

Dengan lonjakan tersebut, total kasus virus Corona di India kini mencapai 395.048 kasus. Dengan angka ini, India masih berada di peringkat 4 untuk negara dengan total kasus Corona terbanyak di dunia, setelah Amerika Serikat (AS), Brasil, dan Rusia.

Dalam laporannya, Kementerian Kesehatan dan Kesejahteraan Keluarga India juga menyebut adanya 375 kematian dalam sehari. Dengan demikian, total kematian akibat virus Corona di India kini mencapai 12.948 orang.

Selama sepekan terakhir, tercatat ada lebih dari 86 ribu tambahan kasus Corona di India. Menurut Dewan Penelitian Medis India, sudah 6.616.496 tes Corona yang dilakukan di negara ini, dengan 189.869 tes di antaranya dilakukan pada 19 Juni.

Kemenkes: Kasus DBD di Indonesia Saat Ini Capai 68 Ribu, 346 Meninggal

0
Direktur Pencegahan dan Pengendalian Penyakit Tular Vektor dan Zoonotik Kemenkes Siti Nadia (Foto: Tangkapan layar)

Tiara Aliya Azzahra – detikNews

Senin, 22 Jun 2020 12:07 WIB

Jakarta – Kementerian Kesehatan (Kemenkes) mencatat ada 68 ribu kasus demam berdarah yang tersebar di seluruh wilayah Indonesia. Kasus tertinggi ada di Provinsi Jawa Barat, Lampung, dan Nusa Tenggara Timur (NTT).

“Kalau kita lihat jumlah kasus ada 68 ribu kasus DBD seluruh Indonesia di mana kita tentu melihat kembali lagi provinsi-provinsi yang juga memiliki kasus COVID tertinggi dan juga kasus DBD tertinggi,” kata Direktur Pencegahan dan Pengendalian Penyakit Tular Vektor dan Zoonotik Siti Nadia dalam tayangan yang disiarkan akun YouTube BNPB, Senin (22/6/2020).

“Jadi kalau kita lihat, saat ini yang tertinggi misalnya Provinsi Jabar, kemudian ada Provinsi Lampung, kemudian ada NTT, Jatim, Jateng, dan Yogyakarta. Termasuk juga Sulawesi Selatan yang kita tahu juga secara jumlah kasus COVID-nya cukup tinggi,” sambungnya.

Siti mengatakan fase masa DBD kali ini berbeda dari tahun-tahun sebelumnya. Siti menyebut puncak DBD sebelumnya terjadi pada Maret, tapi tahun ini hingga Juni masih ada penambahan kasus.

“Jadi kalau kita lihat DBD kita lihat puncak kasusnya setiap tahunnya selalu terjadi bulan Maret. Dan ada satu hal yang berbeda tentunya pada tahun ini adalah kami melihat penambahan kasusnya sampai di bulan Juni kami masih temukan penambahan kasus yang cukup banyak. Artinya, angka ini adalah sesuatu yang berbeda dari tahun-tahun sebelumnya. Kita melihat bahwa sampai saat ini kita masih temukan 100-500 kasus per hari,” ujarnya.

Lebih lanjut, angka kematian DBD sampai saat ini mencapai 346. Siti menyebut kasus kematian akibat DBD tertinggi berada di Provinsi Jabar, Jateng, dan Jatim.

“Angka kematian kita saat ini mencapai angka 346 dan sama kurang-lebih gambarannya sama di provinsi-provinsi yang tadi. Jadi ada Jabar, Jateng, Jatim yang merupakan kasus-kasus tertinggi kematian,” jelas Siti.

Kasus Corona di Brasil Tembus 1 Juta, WHO Sebut Dunia dalam Fase Berbahaya

0
Situasi di Sao Paulo, Brasil setelah pertokoan dibuka kembali di tengah pandemi Corona (AP Photo/Andre Penner)

Novi Christiastuti – detikNews

Sabtu, 20 Jun 2020 17:36 WIB

Jakarta – Jumlah kasus virus Corona (COVID-19) di Brasil terus bertambah hingga menembus angka 1 juta kasus. Organisasi Kesehatan Dunia (WHO) menyatakan pandemi Corona menyebar semakin cepat, dan kini dunia dalam fase baru dan berbahaya.

Kementerian Kesehatan Brasil melaporkan total kasus Corona di negara ini telah melampaui angka 1 juta kasus, yang tercatat sebagai angka tertinggi ke-2 di dunia setelah Amerika Serikat (AS). Penambahan jumlah kasus terjadi setelah Brasil melaporkan lonjakan lebih dari 54 ribu kasus dalam 24 jam terakhir.

Sementara itu, Direktur Jenderal WHO, Tedros Adhanom Ghebreyesus, menyatakan bahwa pandemi Corona global kini ada dalam ‘fase baru dan berbahaya’. Tedros menyebut virus Corona menyebar semakin cepat saat orang-orang mulai lelah dengan lockdown dan pembatasan sosial.

Tedros mendorong negara-negara dan warganya untuk tetap waspada tinggi, karena jumlah kasus yang dilaporkan ke Badan Kesehatan PBB ini mencapai puncak baru.

Berikut ini berita-berita internasional yang menarik perhatian pembaca detikcom, hari ini, Sabtu (20/6/2020):

– Catat Rekor 54 Ribu Kasus Sehari, Total Kasus Corona di Brasil Tembus 1 Juta

Otoritas Brasil melaporkan rekor tambahan kasus virus Corona (COVID-19) harian tertinggi dengan lebih dari 54 ribu kasus baru dalam sehari. Total kasus Corona di Brasil kini telah melampaui angka 1 juta kasus, yang masih tercatat sebagai tertinggi ke-2 di dunia setelah Amerika Serikat (AS).

Seperti dilansir Reuters dan AFP, Sabtu (20/6/2020), Kementerian Kesehatan Brasil melaporkan 54.771 kasus baru dalam 24 jam terakhir, yang tercatat sebagai tambahan kasus harian tertinggi di negara ini. Lonjakan kasus ini dilaporkan pada Jumat (19/6) waktu setempat.

Dengan lonjakan itu, total kasus Corona di Brasil kini mencapai 1.032.913 kasus. Angka ini tercatat sebagai total kasus Corona terbanyak kedua di dunia, setelah AS dengan lebih dari 2,2 juta kasus.

– 3 Bulan Tutup Imbas Corona, Masjid-masjid di Mekah Buka Kembali 21 Juni

Arab Saudi berencana membuka kembali masjid-masjid yang ada di kota suci Mekah mulai Minggu (21/6) besok. Pembukaan kembali dilakukan setelah masjid-masjid ini ditutup sementara selama 3 bulan akibat pandemi virus Corona (COVID-19).

Seperti dilansir AFP, Sabtu (20/6/2020), pengumuman dibuka kembalinya masjid-masjid di Mekah ini disampaikan oleh televisi lokal yang dikelola otoritas Saudi, Al-Ekhbariya dengan mengutip keputusan Kementerian Urusan Islam.

“Masjid-masjid di kota suci akan mulai membuka kembali pintu-pintu mereka bagi umat pada Minggu (21/6) waktu setempat, setelah penutupan selama tiga bulan akibat pandemi virus Corona,” demikian dilaporkan Al-Ekhbariya.

– WHO: Pandemi Corona Semakin Cepat, Dunia dalam Fase Baru dan Berbahaya

Organisasi Kesehatan Dunia (WHO) menyatakan pandemi virus Corona (COVID-19) global kini ada dalam ‘fase baru dan berbahaya’. WHO menyebut virus Corona menyebar semakin cepat saat orang-orang mulai lelah dengan lockdown dan pembatasan sosial.

Seperti dilansir AFP, Sabtu (20/6/2020), Direktur Jenderal WHO, Tedros Adhanom Ghebreyesus, mendorong negara-negara dan warganya untuk tetap waspada tinggi, karena jumlah kasus yang dilaporkan ke Badan Kesehatan PBB ini mencapai puncak baru.

“Pandemi semakin cepat. Lebih dari 150 ribu kasus baru COVID-19 dilaporkan ke WHO kemarin — jumlah paling banyak dalam satu hari sejauh ini,” sebut Tedros dalam konferensi pers virtual pada Jumat (19/6) waktu setempat.

“Dunia ada dalam fase baru dan berbahaya. Banyak orang dipahami sudah bosan dengan berada di dalam rumah. Negara-negara dipahami sangat bersemangat untuk membuka masyarakat dan perekonomian,” ujar Tedros. “Tapi virus masih menyebar cepat, masih mematikan dan kebanyakan orang masih rentan,” imbuhnya, sembari menyebut bahwa kalangan yang paling rentan akan paling menderita.

– Tewas Saat Bentrok dengan China, Beberapa Jenazah Tentara India Dimutilasi

Bentrokan antara tentara China dan tentara India di kawasan lembah Galwan menewaskan 20 tentara India. Laporan menyebut beberapa jenazah tentara India itu ada yang dimutilasi.

Seperti dilansir India Today, Sabtu (20/6/2020), beberapa jenazah tentara India, dari 20 tentara yang tewas dalam bentrokan itu, dilaporkan ada yang dimutilasi. Laporan ini belum mendapat konfirmasi resmi dari otoritas maupun militer India.

Namun pada Kamis (18/6) waktu setempat, beredar sebuah foto yang menunjukkan senjata yang dipakai dalam bentrokan tentara India dan China. Foto tersebut menampilkan tongkat pemukul yang dipasangi paku tajam dan kawat berduri di sekelilingnya.

Media Inggris, BBC, memperoleh foto itu dari seorang perwira senior militer India di perbatasan India-China, yang mengatakan senjata itu digunakan oleh tentara China. Analis pertahanan, Ajai Shukla, yang pertama kali mencuitkan gambar tersebut, menyebut penggunaan senjata itu menandakan perilaku “barbar”.

– Eks Penasihat Keamanan AS Sebut Putin Tak Anggap Serius Trump, Ini Kata Rusia

Mantan penasihat keamanan nasional Amerika Serikat (AS) John Bolton yang tengah memicu kehebohan dengan buku barunya, kembali memicu kontroversi dengan menyebut Presiden Rusia Vladimir Putin tidak menganggap serius Presiden Donald Trump. Otoritas Rusia telah menanggapi tuduhan Bolton ini.

Seperti dilansir Associated Press dan The Independent, Sabtu (20/6/2020), tuduhan itu disampaikan Bolton dalam wawancara dengan ABC News beberapa waktu terakhir saat Bolton mempromosikan buka memoar-nya yang berjudul ‘The Room Where It Happened: A White House Memoir’ yang akan terbit pekan depan.

Dalam wawancara itu, Bolton membahas soal hubungan antara Trump dan Putin. Disebutkan Bolton bahwa Putin sebenarnya meyakini dirinya bisa mempermainkan dan memanipulasi Trump. Dia bahkan menyebut Putin tidak menganggap serius Trump dan mungkin menertawakan Trump.

Dalam tanggapannya, juru bicara Kremlin atau Istana Kepresidenan Rusia, Dmitry Peskov, menyangkal tuduhan Bolton. Ditegaskan Peskov bahwa Putin tidak menganggap Trump mudah untuk dimanipulasi.

Italia Laporkan 262 Kasus Positif Baru dan 49 Kematian Terkait Corona

0
Warga Italia Nikmati Bersepeda saat Lockdown Dilonggarkan (Foto: Getty Images/Vittorio Zunino Celotto)

Eva Safitri – detikNews

Minggu, 21 Jun 2020 04:05 WIB

Jakarta – Italia melaporkan 49 kematian akibat COVID-19 pada hari Sabtu, dibandingkan dengan 47 hari sebelumnya, Badan Perlindungan Sipil mengatakan, sementara jumlah harian kasus baru naik menjadi 262 dari 251 pada hari Jumat.

Dilansir dari reuters, Minggu (21/6/2020) total korban meninggal dunia di negara itu menjadi total 34.610, kata badan perlindungan sipil. Jumlah tersebut, tertinggi keempat di dunia setelah Amerika Serikat, Brasil, dan Inggris.

Jumlah kasus yang dikonfirmasi berjumlah 238.275, penghitungan global kedelapan tertinggi. Badan itu mengatakan perhitungan ulang dalam hitungan regional berarti dua kasus lebih sedikit dilaporkan pada hari-hari sebelumnya.

Jumlah orang yang terdaftar saat ini membawa penyakit turun menjadi 21.212 dari 21.543 sehari sebelumnya.

22 Dokter Residen FK Unair Dikabarkan Kena COVID-19, Pemkot Lakukan Tracing

0
Koordinator Bidang Pencegahan Gugus Tugas Percepatan Penanganan COVID-19 Surabaya Febria Rachmanita/Foto: Esti Widiyana

Esti Widiyana – detikNews

Minggu, 21 Jun 2020 00:15 WIB

Surabaya – Beredar kabar 22 dokter residen peserta Program Pendidikan Dokter Spesialis (PPDS) FK Unair terpapar COVID-19. Mereka tengah menjalani PPDS di RSU dr Soetomo.

Mendengar kabar tersebut, Koordinator Bidang Pencegahan Gugus Tugas Percepatan Penanganan COVID-19 Surabaya Febria Rachmanita langsung mendatangi RSU Soetomo. Kedatangannya untuk berkoordinasi dan memastikan kebenarannya.

“Kita dari Gugus Tugas selalu melakukan tracing. Tadi ke RS dr Soetomo untuk melakukan tracing eksternal,” kata Feny, sapaan akrab Febria, Sabtu (20/6/2020).

Feny menjelaskan, RSU Soetomo sudah melakukan tracing internal. Namun, untuk tracing eksternal RSU Soetomo meminta bantuan Pemkot Surabaya agar cepat mendeteksi penyebarannya.

Kini, Pemkot Surabaya masih menunggu data pendukung dari pihak manajemen rumah sakit. Agar tracing eksternal bisa dilakukan dengan cepat sesuai data yang diterima.

“Kami akan melakukan tracing eksternal setelah mendapatkan data dari RS dr Soetomo. Datanya kita masih menunggu. Setelah pertemuan tadi, besok (kami) akan bersurat kalau misalnya datanya belum ada,” jelasnya.

Dia menilai, jika tracing eksternal tidak segera dilakukan, berbahaya bagi masyarakat lainnya. Sebab, mereka yang diduga terpapar COVID-19 ini sebelumnya tidak diketahui bertemu dengan siapa saja dan dari mana saja.

“Karena kalau tidak dapat data, tidak melakukan tracing, maka di masyarakat itulah nanti yang berbahaya. Karena kalau kita tracing, harus diputus mata rantai COVID-19 dan harus ada tindak lanjut dari orang terdekat, kontak erat,” pungkasnya.

Identitas Virus Corona di Indonesia Terungkap, Samakah dengan Virus di Wuhan?

0
Virus Corona COVID-19 (Foto: AP Photo)

Kamis, 18 Jun 2020 13:23 WIB

Nafilah Sri Sagita K – detikHealth

Jakarta – Hingga saat ini total kasus Corona di Indonesia sudah mencapai 41 ribu kasus. Terakhir penambahan kasus Corona masih menyentuh angka seribu, seperti apa sih identitas virus Corona di Indonesia?

Ahli virologi Universitas Udayana Prof Ngurah Mahardika menjelaskan jenis virus Corona di Indonesia tidak berbeda jauh dengan di Wuhan. Ada beberapa perbedaan tetapi tidak membuat virus Corona di Indonesia kemudian menjadi ganas.

“Kita lihat bahwa ada beberapa virus yang bahkan persis dengan Wuhan, ada yang beda tetapi tidak banyak,” jelasnya di siaran langsung BNPB melalui kanal YouTube Kamis (18/6/2020).

“Tetapi virus di Indonesia agak berbeda dengan Wuhan tetapi tidak pada reseptor pada binding site. Kalau berubah di binding site-nya berarti virus ini (Corona) ganas kemudian antibodi tidak berperan dan sebagainya,” lanjutnya.

Prof Ngurah menjelaskan artinya virus Corona di Indonesia tidak berubah menjadi ganas. Namun Prof Ngurah mengimbau agar masyarakat Indonesia tetap mematuhi protokol kesehatan demi menghindari virus Corona di Indonesia bermutasi menjadi lebih ganas.

“Iya supaya tidak bermutasi patuhi protokol aman COVID-19. Setiap orang punya tugas untuk membuat virus ini tidak begitu bebas bermutasi dengan perilaku yang aman COVID-19,” pungkasnya.

Antibodi COVID-19 Tak Bertahan Lama, Kekebalan Jangka Panjang Dipertanyakan

0
Antibodi COVID-19 tidak bertahan lama, kekebalan jangka panjang dipertanyakan. (Foto ilustrasi: Getty Images/iStockphoto/oonal)

Kamis, 18 Jun 2020 15:00 WIB

Khadijah Nur Azizah – detikHealth

Jakarta – Penelitian tentang antibodi yang dilakukan oleh ilmuwan di China dan Amerika menyebut manusia mungkin tidak mengembangkan antibodi atau kekebalan virus Corona COVID-19.

Kesimpulan mereka didasarkan pada studi yang melihat apakah tenaga kesehatan di rumah sakit di Wuhan yang secara langsung terpapar Corona dari pasien yang terinfeksi mengembangkan antibodi COVID-19. Setidaknya telah ada lebih dari 23 ribu sampel virus yang diuji pada tahap tertentu tapi hanya 4 persen yang mengembangkan antibodi.

“Orang-orang mungkin tidak akan menghasilkan antibodi pelindung jangka panjang pada virus (COVID-19) ini,” tulis peneliti dalam makalah yang dipublikasikan di situs pracetak medRxiv.org dikutip dari South China Morning Post.

Diketuai oleh Wang Xinhuan dari Rumah Sakit Zhongnan Universitas Wuhan dan para ilmuwan dari University of Texas di Galveston, studi ini melihat sampel dari pekerja perawatan kesehatan dan staf rumah sakit. Mereka menemukan hanya 4 persen tenaga kesehatan dan 4,6 persen staf rumah sakit yang memiliki antibodi.

“Mereka yang terinfeksi bisa saja melawan virus dengan sistem kekebalan mereka sendiri,” sebutnya.

Banyak upaya yang dilakukan untuk memerangi pandemi ini salah satunya dengan asumsi bahwa antibodi akan melindungi orang yang telah terpapar dari infeksi ulang. Namun penelitian di Wuhan menunjukkan tidak semua orang yang terinfeksi memproduksi antibodi atau memilikinya dalam waktu lama.

Antibodi adalah molekul yang dihasilkan oleh sistem kekebalan untuk mengikat protein lonjakan virus dan menghentikannya dari menginfeksi sel. Beberapa antibodi seperti immunoglobulin G, atau IgG, dapat bertahan untuk waktu yang lama, seperti yang ditemukan pada pasien pernapasan akut (SARS) 12 tahun setelah mereka terinfeksi.

Dijelaskan bahwa pasien yang terkonfirmasi COVID-19 dan menunjukkan gejala cenderung menghasilkan antibodi lebih banyak. Tim juga menyebut bahwa lebih dari 10 persen orang dalam penelitian mereka mungkin kehilangan perlindungan antibodi dalam waktu kurang lebih sebulan.

Berdasarkan penelitian ini, mereka mengatakan tes antibodi mungkin tidak cukup untuk mengetahui apakah seseorang telah terinfeksi, dan keberadaan antibodi seperti IgG mungkin belum tentu memberikan kekebalan nantinya.

“Gagasan sertifikat kekebalan COVID-19 bagi pasien Corona yang sembuh sangat tidak valid,” tegasnya.

5 Fakta Lonjakan 100 Kasus Baru Virus Corona di Beijing yang Diwaspadai WHO

0
Beijing hadapi gelombang kedua Corona. (Foto ilustrasi: Getty Images)

Selasa, 16 Jun 2020 10:07 WIB

Nafilah Sri Sagita K – detikHealth

Jakarta – Baru-baru ini China kembali melaporkan lonjakan kasus Corona usai 2 bulan dinyatakan aman dari Corona. Bahkan Organisasi Kesehatan Dunia (WHO) meminta seluruh negara waspada terhadap munculnya kembali lonjakan kasus Corona di China.

Mulanya terdapat lebih dari 50 kasus Corona ditemukan di pasar Xinfadi, Beijing. Kini pemerintah setempat tengah melakukan tes massal untuk menghadapi gelombang kedua Corona, berikut 3 hal di balik desakan WHO untuk waspada terkait dengan gelombang kedua di China.

WHO konfirmasi lebih dari 100 kasus

Organisasi Kesehatan Dunia (WHO) mengonfirmasi lebih dari 100 kasus virus Corona (COVID-19) resmi tercatat dalam cluster penularan baru di Beijing, China. WHO pun memperingatkan negara-negara untuk tetap waspada.

Seperti dilansir AFP, Selasa (16/6/2020), WHO menyatakan sejauh ini tidak ada kematian yang dilaporkan dalam cluster penularan Corona terbaru di ibu kota China itu. Namun, sebut WHO, melihat pada luas dan konektivitas wilayah Beijing, kemunculan cluster baru ini patut memicu kekhawatiran serius.

“Bahkan di negara-negara yang telah menunjukkan kemampuan untuk menekan penularan, negara-negara itu harus tetap waspada pada kemungkinan kemunculan kembali,” ujar Sekretaris Jenderal WHO, Tedros Adhanom Ghebreyesus, dalam konferensi pers virtual.

Strain disebut berasal dari Eropa

Yang Peng, ahli dari Pusat Pencegahan dan Pengendalian Penyakit Beijing, membahas lonjakan kasus baru dalam wawancara televisi pada hari Minggu, mengklaim bahwa urutan genom dari strain virus di China berasal dari Eropa. Namun pihak berwenang juga mengatakan mereka masih berusaha memahami bagaimana virus ditransmisikan ke pasar grosir Xinfadi.

“Sekuensing genom menunjukkan strain sebenarnya dari Eropa, peneliti bekerja untuk menentukan dengan tepat bagaimana mereka telah mencapai pasar,” ujar Yang.

Dugaan dua kemungkinan awal wabah kedua

Yang, mengatakan ada dua kemungkinan yang diteliti tentang bagaimana virus itu masuk ke pasar. “Seseorang mungkin melalui makanan laut atau daging yang terkontaminasi (diimpor dari luar negeri)” jelasnya.

“Epidemi di negara lain masih sangat parah,” sebut Yang.

Teori lainnya adalah bahwa virus Corona dibawa ke pasar oleh orang-orang yang menyebarkan virus melalui bersin dan batuk.

Beijing lockdown 21 wilayah

Lockdown juga telah diperluas ke 21 kompleks perumahan dekat dengan pasar. Tempat-tempat olahraga dalam ruangan dan hiburan di seluruh Beijing telah diperintahkan untuk ditutup, seperti halnya banyak sekolah.

“Sesuai dengan prinsip untuk mengutamakan keselamatan masyarakat, kami telah mengambil langkah-langkah penguncian (lockdown) di pasar Xinfadi dan sekitarnya,” kata seorang pejabat setempat, Chu Junwei.

Tes massal

Pasar tutup pada Sabtu pagi dan pembatasan diberlakukan pada lingkungan terdekat. Pada hari Senin, Beijing telah mendirikan hampir 200 tempat pengujian dan menghubungi sekitar 200.000 orang yang telah mengunjungi pasar sejak akhir Mei, demikian laporan kantor berita Xinhua.