Siwang Binih Menembus Ekspor

0
61
Ika Juliana belajar membuat siwang dari nol secara autodidak

Selasa 11 Feb 2020 05:10 WIB

Rep: Lilis Sri Handayani/ Red: Yudha Manggala P Putra

Ika Juliana belajar membuat siwang dari nol secara autodidak

REPUBLIKA.CO.ID, INDRAMAYU — Semula, Ika Julia adalah seorang wanita karier, yang bekerja di salah satu bank plat merah. Namun, kesibukannya dalam meniti karier itu telah menyita waktunya sebagai seorang istri maupun ibu dari anak-anaknya. Karena itulah, dia memutuskan untuk berhenti dari pekerjaannya.

Usai keluar dari pekerjaannya, perempuan kelahiran Indramayu pada 1990 itu tak henti berkegiatan. Dia terus mencari kesibukan sambil tetap menjalankan tugasnya sebagai istri dan ibu. Untuk itu, dia menjajal menjadi agen, distributor maupun reseller yang menjual produk milik orang lain.

Meski semua kegiatan itu bisa berjalan dengan baik, namun tak memberi kepuasan pada Ika. Dia ingin untuk memiliki produk sendiri, tak sekedar menjual produk milik orang lain.

Di saat itulah, Ika menyadari banyak di antara tetangganya di Desa Sukadana, Kecamatan Tukdana, Kabupaten Indramayu yang memproduksi dan menjual siwang. Yakni, makanan yang terbuat dari terasi dan bawang.

Siwang merupakan salah satu makanan khas Indramayu. Makanan itu telah akrab di tengah masyarakat sebagai lauk pendamping nasi atau sekedar menjadi cemilan.

Namun sayang, meski rasanya enak, siwang yang diproduksi oleh tetangga Ika hanya dikemas secara sederhana. Penjualannya pun masih terbatas.

Untuk itu, Ika menawarkan kerja sama dengan tetangga yang memproduksi siwang tersebut. Dalam arti, sang tetangga yang memproduksi siwang, sedangkan dia yang mengemasnya sekaligus mempromosikan dan memasarkannya. Namun, tawaran kerja sama itu ditolak.

‘’Akhirnya saya minta izin untuk bikin siwang sendiri, dengan brand sendiri dan standarisasi kualitas sendiri,’’ kata Ika kepada Republika, kemarin.

Dari situlah, Ika mulai belajar membuat siwang. Dia belajar dari nol secara autodidak. Dia pun masih mengemasnya secara sederhana. Sambil menjual produk siwang yang dibuatnya sendiri, dia terus berusaha untuk menyempurnakan resepnya.

Setelah tiga tahun mencoba sejak 2016, Ika akhirnya baru menemukan resep siwang yang bisa memuaskannya pada Januari 2019. Terbukti, siwang produksinya semakin mendapat sambutan positif dari pelanggan. Selain rasa orisinil dan rasa pedas, dia juga berhasil membuat siwang teri dan siwang rasa jengkol.

Selain menggunakan bahan berupa terasi dan bawang merah pilihan, Ika juga memasak siwangnya dengan cara yang berbeda. Tak cukup hanya digoreng biasa, dia memasak siwangnya dengan spinner untuk menghilangkan minyaknya.

Di samping spinner, Ika juga memakai vacuum frying untuk menyedot uap supaya bawangnya lebih kering (crunchy) meskipun tanpa tambahan tepung. Hal itu berbeda dengan bawang goreng lainnya yang biasa ditambahkan tepung agar lebih kering.

‘’Siwang yang saya produksi ini bawang merahnya murni tanpa tambahan tepung,’’ kata Ika.

Ika memberi merek siwangnya dengan nama Siwang Binih. Kata Binih itu diambil dari kata bini, yang berarti istri dalama bahasa Betawi. Selain perannya yang memang seorang istri, sejumlah pekerja yang membantu pembuatan siwang miliknya juga merupakan kelompok ibu-ibu.

Setelah menemukan resep yang dirasa pas, Ika pun mulai serius menggarap kemasan siwangnya agar nampak eye catching. Untuk itu, dia menggandeng desainer khusus yang bisa merancang kemasan yang menarik sesuai keinginannya.

Ika juga melengkapi kemasan Siwang Binih dengan barcode. Dengan kemasan yang terbuat dari alumunium foil, cita rasa siwang yang diproduksinya tetap terjaga. 

Selain soal kemasan, Ika juga melengkapi produknya dengan berbagai perizinan. Seperti, izin Produk Industri Rumah Tangga (PIRT), sertifikat halal, maupun komposisi gizi dari produksinya serta HAKI. Semua pengurusan perizinan itu difasilitasi oleh Disperindag Kabupaten Indramayu. 

Siwang Binih pun makin laris manis diburu konsumen. Tak hanya di wilayah Indramayu, dengan sistem online, Siwang Binih telah dipasarkan hingga ke Riau, Batam, Bali, Kalimantan, bahkan luar negeri seperti Korea dan Turki. Dia juga telah menandatangani kerja sama dengan sejumlah ritel untuk menjual Siwang Binih di gerai milik mereka.

Ika mengemas Siwang Binih menjadi kemasan 100 gram yang dibanderol dengan harga Rp 25 ribu per kemasan. Selain itu, adapula kemasan 50 gram, yang hanya dijual di toko ritel dan toko oleh-oleh. Kedepan, Siwang Binih juga akan dikemas secara sachet agar bisa menjangkau pasar tradisional.

Sepanjang 2019, Siwang Binih berhasil dijual rata-rata 1.000 kemasan per bulan. Dengan tingginya permintaan dari konsumen, Ika pun semakin banyak menyerap tenaga kerja. Saat ini, jumlah pekerjanya sudah lebih dari 14 orang, yang khusus bekerja di bagian produksi. Jumlah itu belum termasuk tim marketing dan promosi.

‘’Selain ibu-ibu, banyak pula anak-anak muda yang sekarang juga ikut bergabung,’’ tutur Ika.

Pemasaran Siwang binih yang semakin berkembang di dalam negeri, tak membuat Ika merasa puas. Dia ingin bisa mengekspor siwangnya ke luar negeri.

Keinginan Ika akhirnya menemukan jalannya saat dia berhasil menjadi juara dalam lomba UMKM Juara Naik Kelas, yang merupakan program Gubernur Jawa Barat, Ridwan Kamil. Dalam lomba yang diumumkan pada November 2019 itu, dia menjadi salah satu dari enam pemenang lomba. Padahal, peserta yang mengikuti lomba itu totalnya mencapai sekitar 2.500 pelaku UMKM se-Jawa Barat.

Dengan menjadi juara dalam lomba tersebut, Ika pun diikutsertakan oleh Pemprov Jawa Barat untuk menjadi peserta pameran di Kualalumpur, Malaysia. Di luar ekspektasinya, dalam pameran yang berlangsung pada 11-14 Desember 2019 itu, Siwang Binih laris tak bersisa hanya dalam waktu dua hari. Bahkan, banyak pengunjung yang kecewa karena tak kebagian siwang.

Ika pun kemudian mendapat permintaan pesanan Siwang Binih dari buyer di Malaysia dengan jumlah 1.000 kemasan. Dengan adanya permintaan itu, keinginannya untuk bisa mengekspor Siwang Binih ke luar negeri menjadi terkabul.

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here