Ignacio Geordi Oswaldo – detikFinance
Selasa, 29 Sep 2026 15:05 WIB
Jakarta – Nilai tukar rupiah terhadap dolar Amerika Serikat (AS) diramal akan terus berada di sekitar 18.000 hingga akhir tahun. Kondisi ini utamanya dikarenakan penguatan mata uang Paman Sam secara global seiring dengan tren kenaikan suku bunga oleh Bank Sentral AS (Federal Reserve/The Fed).
Chief Asia Economist & Co-head Global Investment Research Asia HSBC, Frederic Neumann, mengatakan penguatan mata uang Paman Sam tersebut tidak hanya berdampak pada rupiah, namun juga pada berbagai mata uang utama dunia seperti Yen Jepang, Dolar Selandia Baru, hingga Euro.
“Terkait rupiah, kita harus mengakui bahwa The Fed saat ini sedang menaikkan suku bunga, sehingga dolar mendapatkan banyak dukungan. Kita melihat dolar menguat terhadap berbagai mata uang, misalnya mata uang Jepang, Selandia Baru, dan juga Euro,” kata Frederic dalam Media Briefing HSBC Indonesia Summit 2026, Jakarta Selatan, Selasa (29/9/2026).
“Mengingat waktu yang tersisa hanya tiga bulan hingga akhir tahun, kita melihat posisi rupiah cenderung stabil, mungkin sedikit melemah, namun tidak signifikan. Hal ini lebih mencerminkan kekuatan dolar daripada kelemahan fundamental rupiah,” jelasnya lagi.
Dalam hal ini, ia memperkirakan tingkat pergerakan mata uang Garuda akan berada di kisaran Rp 18.000 per dolar AS hingga akhir tahun ini, bisa sedikit di bawah atau di atas. Menurutnya kisaran ini merupakan target yang masuk akal dan menunjukkan penguatan dolar AS secara keseluruhan daripada pelemahan fundamental rupiah.
“Jadi jika Anda menanyakan target kepada saya, sekitar 18.000 misalnya, akan menjadi target yang masuk akal. Itu lebih menunjukkan kekuatan dolar dibandingkan kelemahan rupiah,” ujarnya.
Namun pergerakan nilai tukar ini diperkirakan akan berbalik pada awal tahun depan ketika penguatan dolar AS mulai mereda. Artinya mulai 2027, rupiah diramal akan kembali menguat.
“Tahun depan situasi itu bisa saja berbalik, karena pada titik tertentu nilai dolar akan melemah dan saat itulah rupiah akan mendapat dorongan positif. Pesan utamanya adalah bahwa pelemahan khusus pada rupiah yang kita alami di awal tahun sudah tidak ada lagi. Kondisi itu sudah teratasi,” tambahnya.
Lebih lanjut, Frederic mengatakan penguatan rupiah mulai 2027 mendatang juga didorong oleh berbagai langkah tegas dan agresif dari Bank Indonesia (BI) dalam menaikkan suku bunga acuan pada awal tahun ini, yang memberikan kepastian bagi para investor.
“Kita hampir mencapai akhir siklus pengetatan moneter di Indonesia. Kita telah melihat Bank Indonesia mengambil langkah yang sangat agresif pada awal tahun ini, sehingga mereka telah melakukan sebagian besar upaya untuk menstabilkan nilai tukar rupiah dan hal tersebut sangat berperan dalam meyakinkan para investor mengenai stabilitas mata uang,” ungkapnya.
Di luar itu, ia memperkirakan BI hanya akan menaikkan suku bunga acuan satu kali lagi menjelang akhir tahun sebelum akhirnya menghentikan siklus pengetatan. Karena itu, menurutnya pergerakan nilai tukar mata uang Garuda akan sangat terbatas.
“Anda sudah melihat adanya stabilitas pada nilai tukar rupiah dan kembalinya arus masuk modal. Jadi kami memperkirakan bahwa pada tahun depan, pergerakan nilai tukar rupiah akan berada dalam kisaran yang relatif sempit,” pungkas Frederic.
(igo/fdl)



