Wanita Cianjur Tewas, Komnas Perempuan Ingatkan Risiko Dinikahi Siri WNA

0
7

Arief Ikhsanudin – detikNews
Senin, 22 Nov 2021 07:15 WIB

Jakarta – Komnas Perempuan menanggapi peristiwa Sarah (21) meninggal usai disiram air keras oleh suami sirinya yang merupakan warga negara asing (WNA). Komnas Perempuan menyampaikan, pernikahan siri memiliki risiko kekerasan terhadap perempuan.
“Pernikahan siri, baik yang dilakukan dengan WNI ataupun WNA, menempatkan perempuan pada risiko terjadinya kekerasan dalam rumah tangga, baik fisik, psikis, seksual maupun penelantaran,” ucap Komisioner Komnas Perempuan, Siti Aminah Tardi, saat dihubungi, Minggu (21/11/2021).

Kondisi disebut semakin rentan apabila perempuan dinikahi siri oleh WNA. Terlebih, nikah siri dilakukan dalam jangka waktu tertentu atau disebut kawin kontrak.

“Hal ini akan diperburuk jika perkawinan siri dilakukan dengan WNA, dan dalam jangka waktu tertentu, karena perbedaan budaya, ketidakpastian hukum, dan ketidakpastian keberlangsungan perkawinan. Kondisi ini menempatkan perempuan sebagai objek dan subordinat dalam perkawinan,” katanya.

Penyerangan air keras terhadap perempuan, seperti dalam kasus Sarah, sering terjadi di beberapa negara.

“Dalam kasus ini terdapat pola serangan air keras (acid attact) yang umumnya terjadi di negara negara seperti Kolombia, Pakistan, Nepal, Bangladesh, Uganda, dan India,” ucapnya.

Angka Kekerasan Akibatkan Kematian Wanita Naik

Komnas Perempuan menyebut kasus yang dialami oleh Sarah merupakan kasus yang dikategorikan sebagai femisida, yaitu kekerasan yang mengakibatkan kematian perempuan. Selama tiga tahun, kasus femisida diklaim naik.

“Pemberitaan terkait femisida selama tiga tahun ini terus meningkat. Pada tahun 2017 terdapat 730 pemberitaan kasus pembunuhan perempuan, meningkat menjadi 1.184 pemberitaan, dan sampai dengan tahun 2020 telah terpantau pemberitaan 1.156 kasus femisida,” ucap Siti.

Menurut Siti, Femisida dibagi dalam dua kluster besar, yaitu pembunuhan perempuan dan pembunuhan oleh pasangan atau mantan pasangan.

“Sepanjang 3 tahun terdapat 58% pembunuhan terhadap perempuan, dan di urutan kedua adalah pembunuhan oleh suami kepada isterinya terdapat 34%. Pembunuhan dalam relasi perkawinan atau pacaran ini tetap ajeg selama tiga tahun,” kata Siti.

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here