Pria 22 Tahun Kena Infeksi Paru Parah, Hampir Mati karena Kebiasaan Nge-vape

0
17

Khadijah Nur Azizah – detikHealth
Rabu, 24 Jan 2024 08:30 WIB

Jakarta – Seorang pria berusia 22 tahun harus menjalani operasi paru-paru ganda setelah menggunakan alat bantu hidup selama 70 hari. Kondisinya ini disebut dipicu pemakaian vape atau rokok elektrik.
Jackson Allard, warga Dakota Utara, Amerika Serikat, mengunjungi unit rawat darurat karena mengeluhkan sakit perut pada Oktober 2023. Ketika tim medis memeriksanya, mereka terkejut karena kadar oksigennya turun sehingga harus dirawat di RS.

Dokter mendiagnosis Allard menderita parainfluenza, virus yang dapat menyebabkan infeksi saluran pernapasan, yang kemudian berkembang menjadi pneumonia, kemudian sindrom gangguan pernapasan akut atau cedera yang mengancam jiwa yang disebabkan oleh penumpukan cairan di paru-paru.

“Saat mereka melakukan rontgen, Anda bahkan tidak bisa melihat jantungnya. Semuanya berwarna putih. Artinya seluruh paru-parunya penuh cairan,” kata Doreen Hurlburt, nenek Allard kepada NBC News.

Hurlburt mengatakan Allard telah menggunakan rokok elektrik sejak ia berusia 16 atau 17 tahun, namun belakangan ini sebelum masuk rumah sakit, dia mulai lebih sering menggunakan vape.

Baca juga:
Dokter Paru Ungkap Riset Alasan Remaja di Jakarta Pakai Vape
“Dia tidak tahu betapa buruknya hal itu baginya. Sehari sebelum dia diintubasi, dia berkata, ‘Saya tidak menyangka saya bisa sakit seperti ini,” sebutnya.

Para ilmuwan masih belum sepenuhnya memahami hubungan antara vaping dan penyakit paru-paru, sehingga tidak jelas apa peran vaping dalam kasus Allard. Beberapa penelitian menunjukkan bahwa penggunaan rokok elektrik dapat membuat orang lebih rentan terhadap infeksi saluran pernapasan.

Brian Keller, direktur medis Program Transplantasi Paru-Paru Rumah Sakit Umum Massachusetts, mengatakan penelitian yang melibatkan hewan dan sel manusia menunjukkan bahwa penggunaan rokok elektrik dapat merusak pembuluh darah dan sel-sel yang melapisi paru-paru. Namun para ilmuwan masih mencoba mempersempit senyawa mana dalam rokok elektrik yang paling buruk bagi kesehatan manusia.

“Sebenarnya ada beberapa hal yang dapat menyebabkan kerusakan, termasuk nikotin itu sendiri, tetapi juga pembakaran cairan pembawa seperti propilen glikol atau gliserol, serta penyedap rasa yang banyak orang tambahkan ke perangkat vaping mereka,” kata Dr Keller.

Pada akhir tahun lalu, ia berjuang untuk bertahan hidup: Dokter harus mengganti komponen perangkat ECMO-nya sebanyak dua kali karena terbentuknya gumpalan darah, yang bisa berakibat fatal. Kemudian pada 12 Desember, dia mengalami serangan jantung dan harus diresusitasi.

Tim medis bahkan sempat menyebut kemungkinan Allard selamat hanya 1 persen. Namun keluarga tak patah semangat dan tetap mendukung Allard sebisa mereka.

Pada akhir bulan Desember, Allard telah membaik dan mampu berdiri serta mengambil beberapa langkah, kata keluarganya.

Pada Malam Tahun Baru, ibunya mendapat telepon bahwa dokter telah mendapatkan sepasang paru-paru baru untuk putranya. Allard menerima transplantasi keesokan harinya. Pada tanggal 5 Januari, dia tidak lagi membutuhkan alat bantu hidup. Allard masih menggunakan ventilator di ICU, tapi dia bisa naik dan turun dari tempat tidur dengan bantuan.

“Para perawat menyebutnya sebagai legenda dan keajaiban,” kata Jaime Foertsch, ibu Allard.

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here