Pelantikan Perangkat Kesultanan Kasepuhan Cirebon Ricuh

0
24

Sudirman Wamad – detikNews

Rabu, 25 Agu 2021 11:12 WIB

Cirebon – Polemik kekuasaan di Keraton Kasepuhan Cirebon, makin panas. Bentrokan terjadi antara keluarga Sultan Sepuh XV Pangeran Raja Adipati (PRA) Luqman Zulkaedin dan Sultan Sepuh Aloeda II Raden Rahardjo Djali di Keraton Kasepuhan Cirebon.

Bentrokan antar keluarga itu terjadi saat acara pelantikan perangkat Keraton Kasepuhan Cirebon versi Rahardjo yang digelar di Bangsal Jinem Pangrawit. Tepat saat pembacaan naskah pelantikan, beberapa pengikut dan keluarga dari Sultan Sepuh XV PRA Luqman Zulkaedin mendatangi tempat pelantikan.

Suasana memanas saat kedua pengikut dan keluarga itu saling berhadapan. Perang argumen terjadi. Bahkan, sempat terjadi aksi saling dorong. Kejadian itu terjadi sekitar pukul 08.00 WIB, Rabu (25/8/2021). Ketegangan kedua pihak itu terjadi sekitar setengah jam lebih. Pihak keamanan berhasil meredam suasana.

Sementara itu, acara pelantikan perangkat Keraton Kasepuhan Cirebon versi Sultan Sepuh Aloeda II Raden Rahardjo Djali tetap digelar. Sebanyak 20 orang daei keluarga besar keraton dilantik sebagai perangkat atau kabinet yang akan membantu kerja Rahardjo.

“Semua sudah terlaksana dengan baik. Keraton dalam keadaan hangat. Saya harap ini (kabinet) akan berlangsung seterusnya,” kata Rahardjo usai melantik perangkat Kesultanan.

Rahardjo juga menyikapi tentang kericuhan yang terjadi antarkeluarga saat pelantikan perangkat kesultanan. Ia menilai kejadian kericuhan merupakan hal lumrah.

“Bagi kami hal biasa. Ada yang suka dan tidak suka. Kalau tidak suka mari selesaikan secara intelektual. Karena kita ini orang berpendidikan dan bermartabat,” kata Rahardjo.

Rahadjo mengutuk tindakan premanisme. Ia berharap pihak yang tak puas terkait polemik dualisme kekuasaan di Keraton Kasepuhan Cirebon diselesaikan secara jalur hukum.

“Mari jangan menyelesaikan masalah secara premanisme. Kalau tidak puas selesaikan jalur hukum,” kata Rahardjo.

Rahardjo juga menanggapi soal tudingan pihak Sultan Sepuh XV terkait izin acara perangkat. “Kami tidak memerlukan izin apapun untuk menggelar kegiatan di keraton ini. Karena kami ini keluarga besar Keraton Kasepuhan. Jadi, tidak memerlukan izin. Dan, ini Kasepuhan adalah satu entitas yang berbeda, dari entitas lain. Di sini berlaku hukum adat,” kata Rahardjo.

Sementara itu, Direktur Badan Pengelola Keraton Kasepuhan Cirebon Ratu Raja Alexandra Wuryaningrat yang merupakan keluarga dari Sultan Sepuh XV menolak pelantikan perangkat kesultanan Sultan Sepuh Aloeda II. Alexandra mengaku kaget dengan kegiatan pelantikan tersebut.

“Kegiatan ini tanpa izin Sultan Sepuh (XV). Di keraton itu sultan cuma satu. Tidak ada sultan dua. Kegiatan yang di keraton harus ada izin dari Sultan Sepuh XV PRA Luqman Zulkaedin,” kata Alexandra.

“Saya sebagai badan pengelola Keraton Kasepuhan berhak menegur mereka. Karena tidak ada pemberitahuan. Kegiatan itu tanpa izin,” kata Alexandra menambahkan.

Sebelumnya, Raden Rahardjo, pria keturunan Sultan Sepuh XI Radja Jamaludin Aluda Tajul Arifin yang sempat membetot perhatian publik dengan menggembok Keraton Kasepuhan Cirebon pada 2020 silam, kini dilantik sebagai Sultan Sepuh Aloeda II. Pelantikan atau jumenengan Rahardjo sebagai sultan digelar tertutup.

Rahardjo dinobatkan sebagai Sultan Sepuh Aloeda II oleh keluarga besarnya. Penobatan Rahardjo sebagai Sultan Sepuh Aloeda II digelar sehari setelah peringatan Hari Kemerdekaan, 18 Agustus kemarin.

Penobatan Rahardjo sebagai sultan ini menjadi bukti bahwa polemik yang terjadi atau perebutan takhta di Keraton Kasepuhan Cirebon masih terjadi. Sebab, saat ini Pangeran Raja Adipati (PRA) Luqman Zulkaedin pada tahun lalu telah dinobatkan sebagai Sultan Sepuh XV Keraton Kasepuhan Cirebon. Prosesi jumenangan Luqman itu digelar pada 30 Agustus 2020, sebulan setelah ayahnya yakni Sultan Sepuh XIV PRA Arief Natadiningrat mangkat.

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here