Panic Buying dan Keterlambatan Distribusi Jadi ‘Dalang’ Kelangkaan Minyak Goreng

0
41
Etalase minyak goreng tampak kosong di salah satu supermarket, di Lembang, Kabupaten Bandung Barat, Sabtu (5/3/2022). Terbatasnya stok dan distribusi minyak goreng saat ini, membuat pasokan ke pasaran lungsung ludes diserbu konsumen.

Senin 07 Mar 2022 08:10 WIB

Rep: M Fauzi Ridwan/ Red: Bilal Ramadhan

Disdagin Bandung ungkap panic buying jadi penyebab kelangkaan minyak goreng.

REPUBLIKA.CO.ID, BANDUNG — Dinas Perdagangan dan Perindustrian (Disdagin) Kabupaten Bandung mengungkapkan penyebab kelangkaan minyak goreng yaitu panic buying masyarakat. Selain itu penyaluran minyak goreng dari distributor ke suplier dan grosir mengalami keterlambatan.

Kepala Disdagin Kabupaten Bandung Dicky Anugrah mengatakan pasca kebijakan pemerintah pusat yang menetapkan harga jual minyak goreng kemasan premium menjadi Rp 14 ribu per liter masyarakat berbondong-bondong membeli. Bahkan menyetok barang tersebut.

“Memang saat ini pasca dari penetapan itu skala nasional masyarakat antusias terkait kebijakan HET (harga eceran tertinggi) itu yang paling menyebabkan adanya stok di lapangan habis, ada panic buying jadi masyarakat antusias membeli dengan menyetok masing-masing rumah,” ujar Dicky, Ahad (6/3/2022).

Saat ini ia menuturkan pemerintah mengeluarkan kebijakan satu orang konsumen hanya dapat membeli dua liter. Namun pihaknya tidak dapat mengintervensi terhadap orang-orang yang masih berada dalam kepala keluarga dan membeli minyak goreng.

“Walau ada kebijakan ritel 1 orang dua liter tapi tidak bisa intervensi keseluruhan misal ada satu KK lima orang ngantre. Artinya kebutuhan minyak goreng tinggi,” katanya.

Ia menyebut terdapat konsumen yang membeli minyak goreng sesuai kebutuhan namun terdapat pula yang menyetok. Pihaknya juga mengatakan penyebab kelangkaan minyak goreng disebabkan permintaan tinggi sehingga distribusi di lapangan terlambat.

“Permintaan tinggi, distribusi ke lapangan memang agak terlambat mulai distributor ke suplier ke grosir itu memang ada keterlambatan karena jumlah permintaan tinggi,” katanya.

Terlebih Dicky menjelaskan penyaluran minyak goreng ke ritel atau minimarket satu pekan satu kali. Kondisi tersebut pun terjadi sebelum kebijakan Rp 14 ribu per liter berlaku. Dengan permintaan yang tinggi maka cepat habis.

“Akhirnya mereka (ritel) mengatur penyimpanan di rak antara pagi dan sore. Kalau disimpan langsung bisa habis satu hari. Mereka mengatur bisa menjual lagi sambil menunggu distribusi datang,” kata dia.

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here