Pandemi Corona, Angka Perceraian di Kabupaten Sukabumi Turun 40 Persen

0
15
"Dilihat dari perkara yang berproses, mayoritas hanya penggugat yang hadir. Untuk kondisi saat ini proses sidang mengacu pada sosial distancing dan pengecekan suhu sebelum masuk ruangan dan sebelum bersidang," jelasnya. Dalam data yang diterima detikcom, tren perceraian masih didominasi akibat perselisihan, pertengkaran terus menerus lalu menyusul akibat (perceraian) persoalan ekonomi kemudian perceraian akibat meninggalkan salah satu pihak dan terakhir poligami. "Pengajuan perceraian akibat perselisihan dan pertengkaran berkaitan erat dengan persoalan ekonomi, angkanya paling banyak," ungkap Zaenal. Untuk Januari terdapat sebanyak 213 putusan cerai, Februari sebanyak 197 putusan cerai, Maret 171 putusan cerai dan April 75 putusan cerai. Untuk tiga kecamatan di Kabupaten Sukabumi yang paling tinggi angka perceraian selama 4 bulan tersebut, tertinggi berada di wilayah Kecamatan Cisaat dengan jumlah 38 kasus perceraian, menyusul Kecamatan Cibadak 35 kasus dan Kecamatan Cikakak 29.

Syahdan Alamsyah – detikNews

Senin, 11 Mei 2020 13:42 WIB

Sukabumi – Selama masa pandemi Corona, angka perceraian di Kabupaten Sukabumi mengalami penurunan signifikan. Hal itu terlihat mulai periode Januari hingga Maret.

Hal ini diungkap Zenal Mutakin , Panitera Muda Gugatan Pengadilan Agama Kelas 1B Cibadak kepada wartawan, Senin (11/5/2020). Menurut Zenal, pada masa pandemi ini ada tren penurunan sekitar 40 persen.

“Kasus perceraian di masa pandemi virus Corona ada penurunan sekitar 40 persen. Untuk hari ini ada sidang 17 perkara, kasusnya diakibatkan faktor ekonomi,” kata Zenal, kepada wartawan Senin (11/5/2020).

Dijelaskan Zenal, dalam proses sidang mayoritas yang hadir hanya penggugat saja. Pihaknya secara ketat memberlakukan protokol kesehatan.

“Dilihat dari perkara yang berproses, mayoritas hanya penggugat yang hadir. Untuk kondisi saat ini proses sidang mengacu pada sosial distancing dan pengecekan suhu sebelum masuk ruangan dan sebelum bersidang,” jelasnya.

Dalam data yang diterima detikcom, tren perceraian masih didominasi akibat perselisihan, pertengkaran terus menerus lalu menyusul akibat (perceraian) persoalan ekonomi kemudian perceraian akibat meninggalkan salah satu pihak dan terakhir poligami.

“Pengajuan perceraian akibat perselisihan dan pertengkaran berkaitan erat dengan persoalan ekonomi, angkanya paling banyak,” ungkap Zaenal.

Untuk Januari terdapat sebanyak 213 putusan cerai, Februari sebanyak 197 putusan cerai, Maret 171 putusan cerai dan April 75 putusan cerai.

Untuk tiga kecamatan di Kabupaten Sukabumi yang paling tinggi angka perceraian selama 4 bulan tersebut, tertinggi berada di wilayah Kecamatan Cisaat dengan jumlah 38 kasus perceraian, menyusul Kecamatan Cibadak 35 kasus dan Kecamatan Cikakak 29.

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here