EKBIS

Meretas ‘Sumur Cuan’ Indonesia untuk Penyimpanan Karbon

Ardhi Suryadhi – detikFinance
Jumat, 26 Apr 2024 07:30 WIB

Hannover – Carbon Capture, Ulitisation dan Storage (CCUS) makin jadi sorotan di industri minyak dan gas lantaran diyakini bisa jadi revenue stream baru. Indonesia pun digadang-gadang punya potensi besar.
CCUS merupakan teknologi inovatif yang bisa menangkap karbondioksida (CO2) agar tidak terlepas ke atmosfer. Dikutip dari situs UGM, karbondioksida yang tertangkap kemudian didistribusikan dan disimpan di bawah permukaan tanah atau digunakan untuk berbagai tujuan, dan diyakini memiliki potensi signifikan mengurangi emisi gas rumah kaca dan membantu mitigasi perubahan iklim.

Besarnya potensi Indonesia terkait penangkapan, pemanfaatan, dan penyimpanan karbon atau carbon capture, utilization, and storage (CCUS) disampaikan dalam panggung diskusi di Hannover Messe 2024 oleh Pertamina International Shipping (PIS)

CEO PIS, Yoki Firnandi mengatakan, PIS hadir untuk menekankan potensi dan pentingnya CCUS. Terlebih Indonesia sudah memiliki Perpres Nomor 14 Tahun 2024 terkait CCUS, dimana cross border untuk CCUS sudah bisa dilakukan.

“Kita memahami CCUS sebagai salah satu solusi yang dimana Pertamina sudah ada program inisiatif dari hulu sampai ke hilir. Kebetulan PIS dapat kepercayaan dari Kemenko Marves sebagai agregator transportasi dan sistem logistik, dimana kita tahu untuk sistem logistik di Indonesia itu mengandalkan kapal dan pelabuhan di seluruh Indonesia untuk mendistribusikan energi,” jelas Yoki saat ditemui di sela Hannover Messe 2024 yang berlangsung 22-26 April di Jerman.

Alhasil, PIS bisa mengambil peran di sini lantaran untuk penangkapan dan penyimpanan karbon baik untuk aktivitas domestik dan cross border ini perlu sarana dan prasaran yang serupa, mulai dari angkutan, fasilitas penerimaan hingga injeksi khususnya untuk aktivitas offshore.

“Seperti kita tahu fasilitas terbesar untuk menampung CO2 itu Sunda Asri itu kan berada di utara pulau Jawa yang sudah resmi ditemukan injeksi melalui offshore operation. Dimana dalam kesempatan ini kami juga akan sharing bagaimana kami melakukannya dan berkolaborasi dengan para partner seperti proyek di Norwegia atau pihak-pihak yang sudah menjalankan aktivitas carbon capture ini, termasuk untuk sistem dan logistiknya,” Yoki melanjutkan.

Potensi Bisnis CCUS

Memang, Indonesia atau bahkan Asia Tenggara terbilang baru untuk ‘bermain’ di bisnis CCUS jika dibandingkan dengan Eropa dan Amerika Serikat. Dimana dua kawasan tersebut sudah mengawalinya dengan beberapa proyek CCUS.
Sedangkan di Asia dan kawasan Asia Tenggara, potensinya disebut Yoki ada di Singapura. Dimana negeri Singa itu sudah ada carbon tax dan menunjuk Exxon dan Shell sebagai agregatornya. Selain itu potensi ke depan ada Korea Selatan yang membutuhkan tempat untuk menempatkan karbon mereka.

“Kalau bicara seberapa besar potensinya, besar sekali. Bicara Pertamina saja, partner-nya sudah memetakan storage up to 9 juta giga ton kalau tidak salah di Indonesia saja, dan ini ukurannya besar sekali,” imbuhnya.

Potensi ini pun dilihat PIS dapat berimbas positif ke bisnis mereka. Sebab proses ini tak ubahnya seperti komoditas lain yang perlu diangkut.

Proses konkretnya misalkan dari Singapura itu dari fasilitas agregasinya perlu diambil dengan menggunakan kapal yang dibangun khusus mengangkut CO2 dan akan dibawa ke lokasi untuk diinjeksi.

“Nah, dibawa ke lokasi injeksi ini tergantung, kalau misalnya dia onshore artinya butuh receiving facility dan mungkin setelah itu disalurkan bisa melalui truk tangki atau jalur pipa. Tetapi kalau off shore bisa melalui fasilitas injeksi, jadi kurang lebih modelnya tak ubahnya seperti angkutan energi pada umumnya,” Yoki menjelaskan.

Jadi kalau misalkan untuk upstream migas prosesnya diambil, sedangkan untuk CCUS malah diinjeksikan ke lokasi penyimpanan yang sudah disiapkan. Jadi potensinya menggiurkan untuk Indonesia, apalagi kita punya basin yang sangat besar.

“Saat ini kita belum bisa bicara angka, justru ini adalah tantangannya, di mana keekonomian dari CCUS ini harus kita upayakan seefektif mungkin karena kalau biayanya terlalu tinggi maka upaya-upaya untuk dekarbonisasi tidak akan berjalan dengan efektif,” pungkas Yoki.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *