Ilyas Fadilah – detikFinance
Selasa, 28 Jul 2026 11:49 WIB
Jakarta – Peminat Program Magang Nasional tahun 2026 membludak. Hingga hari terakhir pendaftaran batch pertama, jumlah pendaftar telah mencapai sekitar 300 ribu orang dari ketersediaan kuota 50 ribu peserta.
Menteri Ketenagakerjaan (Menaker) Yassierli mengatakan, tingginya minat tersebut menunjukkan besarnya antusiasme lulusan perguruan tinggi terhadap program magang yang digagas pemerintah.
“Sekarang hari terakhir, pendaftaran pemagangan untuk lulusan peserta, lulus 1 tahun terakhir dari perguruan tinggi. Posisi 50 ribu (kuota), yang daftar sudah 300 ribu. Ini luar biasa, baru batch 1 ini. Tapi, ini program dari Pak Presiden luar biasa. Kita mendapatkan apresiasi,” kata Yassierli dalam pembukaan Pameran Job Fair AI Career Boost Today 2026 di Kantor Kemnaker, Jakarta, Selasa (28/7/2026).
Menurut Yassierli, program magang nasional bertujuan meningkatkan kompetensi lulusan agar lebih sesuai dengan kebutuhan dunia industri. Selama enam bulan masa magang, peserta akan memperoleh keterampilan yang dibutuhkan perusahaan sehingga lebih siap memasuki dunia kerja.
Yassierli menambahkan, peserta yang belum lolos pada batch pertama masih memiliki kesempatan mengikuti seleksi pada batch kedua dan ketiga. Secara total kuota peserta magang yang disiapkan pemerintah tahun ini mencapai 150 ribu yang dibagi menjadi 3 batch.
“Tadi saya sampaikan sudah ada 300 ribu yang mendaftar, mungkin yang terpilih cuma 50 ribu. Bagi mereka yang belum mendapatkan kesempatan magang di batch 1 kita dorong mereka untuk ikut di batch 2 dan batch 3,” jelas Yassierli.
Ia mengimbau para pendaftar agar mempertimbangkan peluang magang di daerah masing-masing. Selain itu, peserta diminta mempertimbangkan tingkat persaingan, khususnya untuk pendaftaran di perusahaan-perusahaan tertentu.
“Makanya di situ kan ada data perusahaan X, BUMN X, Sudah sekian banyak nih yang daftar. Artinya itu menunjukkan tingkat persaingan. Kami mendorong sebenarnya coba lihat peluang-peluang magang yang ada di daerah masing-masing, Itu biasanya kansnya besar,” jelas dia.
Yassierli menambahkan, masih banyak lulusan perguruan tinggi yang mengalami vertical mismatch, yakni bekerja pada posisi yang hanya membutuhkan kualifikasi lebih rendah. Lalu ada juga horizontal mismatch, yaitu bekerja di bidang yang tidak sesuai dengan ilmu yang dipelajari.
“Saya di forum internasional, saya selalu ngomong, Indonesia, kami memiliki sebuah program unggulan. Di negara lain itu tidak ada. Ini bentuk kepedulian 150 ribu orang, dan tahun ini kita juga ingin teman-teman kita difable menjadi bahagia dari 150 ribu orang itu, dan kami ingin 150 ribu orang ini tersebar merata,” tutup Yassierli.



