Konsumsi Rokok dan Alkohol Naik Selama Pandemi, Stres dan Bosan Jadi Pemicu

0
14

Rabu 29 Dec 2021 09:22 WIB

Red: Dwi Murdaningsih

Tidak ada jumlah alkohol atau rokok yang secara pasti aman untuk dikonsumsi.

REPUBLIKA.CO.ID, JAKARTA — Saat gelombang baru wabah korona yang dipicu oleh varian omicron meningkat, konsumsi rokok dan alkohol di berbagai negara di dunia juga ikut naik. Kecemasan dan rasa bosan dinilai menjadi pemicunya.

Sebuah studi oleh para peneliti di Inggris yang diterbitkan dalam jurnal Addiction pada Agustus 2021 menemukan bahwa selama masa penguncian wilayah atau lockdown pertama Inggris, ada 4,5 juta lebih banyak orang dewasa yang tergolong sebagai peminum alkohol berisiko tinggi. Jumlah ini meningkat 40 persen bila dibandingkan dengan masa sebelum pandemi. Lebih dari 652.000 orang dewasa muda menjadi perokok selama masa lockdown pertama, demikian menurut penelitian tersebut.

Sementara sebuah penelitian yang diterbitkan dalam European Journal of Public Health pada Oktober 2021 menemukan bahwa di antara para perokok di Prancis, hampir 27 persen dari mereka mengonsumsi rokok lebih banyak sejak lockdown pertama pada Maret 2020. Sementara itu, 19 persen persen melaporkan penurunan konsumsi rokok. Peningkatan konsumsi tembakau terjadi pada orang muda berusia 18-34 tahun yang berpendidikan tinggi dan mengalami kecemasan.

Di Jerman sendiri, beberapa iklan rokok masih boleh beredar. Di Jerman sekitar 31 persen orang berusia di atas 14 tahun juga merokok. Pada akhir 2019 jumlahnya mencapai 27 persen, menurut sebuah studi di Jerman tentang perilaku merokok jangka panjang.

Merokok membunuh hingga 120 ribu orang per tahun di Jerman, sekitar dua kali lipat jumlah orang yang meninggal karena Covid-19 di Jerman dalam jangka waktu hampir dua tahun. 

Menurut Organisasi Kesehatan Dunia (WHO), tembakau membunuh sekitar 8 juta orang di seluruh dunia setiap tahunnya, termasuk di antaranya 1,2 juta perokok pasif. Menurut WHO, lebih dari 80 persen konsumen tembakau dunia tinggal di negara-negara yang berpenghasilan rendah dan menengah.

Sementara konsumsi alkohol berkontribusi terhadap 3 juta kematian di seluruh dunia setiap tahunnya, kata WHO, dan konsumsi alkohol yang berlebihan ikut bertanggung jawab atas 5,1 persen beban penyakit global.

Stres dan bosan jadi penyebabnya

Sejak pandemi, kesempatan untuk bersosialisasi sambil minum-minum memang berkurang, tapi bukan berarti konsumsi alkohol lantas menurun. Falk Kiefer, dokter yang juga ketua asosiasi yang meneliti dan melakukan terapi terhadap pasien ketergantungan, mengatakan kepada kantor berita Jerman DPA bahwa sekitar 25 persen orang dewasa kini mengonsumsi alkohol lebih banyak daripada sebelum pandemi.

“Orang-orang yang sudah sering minum alkohol di rumah, misalnya, untuk membuat malam mereka jadi menyenangkan, untuk mengusir kesepian, kebosanan atau kekhawatiran, mereka sekarang minum lebih banyak,” ujar Kiefer.

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here