Tangan-tangan Difabel di Balik Cantiknya Batik Kultur

0
71
Deretan koleksi busana Batik Kultur by Dea Valencia yang ditampilkan pada peragaan busana perdananya di Kaca Coffee & Eatery, Sudirman, Jakarta Pusat, Sabtu (23/3/2019).(KOMPAS.com/Nabilla Tashandra)

KOMPAS.com – Rasa haru menyelimuti Dea Valencia. Show perdana brandnya, “Batik Kultur”, sukses dan mendapatkan apresiasi yang meriah dari para pengunjung.

Suaranya bergetar ketika menyampaikan ucapan terima kasih di akhir sesi peragaan busana.

Hal yang paling membuatnya bangga dan terharu adalah kerja kerasnya dan rekan-rekannya, para pekerja difabel dan non-difabel, yang berada di balik setiap karya Batik Kultur.

Tema “Behind The Seams” atau “Di Balik Jahitan” pun dipilih untuk show yang diselenggarakan Sabtu (24/3/2019) siang itu.

Peragaan busana tersebut sekaligus menjadi momentum grand opening gerai Batik Kultur di Jakarta yang terletak di Kaca Coffee & Eatery, Sudirman, Jakarta Pusat.

Menurut Dea, dari sekitar 120 orang pekerja di Batik Kultur, 50 persennya adalah penyandang disabilitas.

“Pada show kali ini saya ingin apresiasi (mereka), yang terkadang underapreciated. Saya merasa orang-orang di balik Batik Kultur, yang menggabungkan cerita kita, meskipun tidak kelihatan tapi tanpa mereka tidak ada kita seperti sekarang,” tuturnya.

Para penyandang disabilitas yang bekerja di Batik Kultur memiliki tugas yang berbeda-beda.

Mulai dari menjahit, penjaga toko, fotografer produk, dan lainnya.

Dea menuturkan, pertemuannya dengan kelompok difabilitas itu diawali sekitar tahun 2013 ketika ia baru merintis bisnis pakaiannya.

Ketika mendatangi satu pemasok di Ungaran Jawa Tengah, ia bertemu dengan beberapa murid BBRSBD Prof. Dr. Soeharso Surakarta yang sedang magang.

Dea pun berkenalan dan salah satu penyandang disabilitas yang bertemu dengannya saat itu meminta pekerjaan padanya.

“Awalnya bingung karena itu awal saya berkomunikasi dengan mereka,” tuturnya.

Founder Batik Kultur Dea Valencia.(KOMPAS.com/Nabilla Tashandra)

Namun, Dea melihat bahwa para penyandang disabilitas tersebut bisa membuktikan bahwa mereka mampu melakukan segalanya, sama seperti orang pada umumnya. Mereka juga memiliki semangat juang yang tinggi bahkan melebihi dugaan banyak orang.

Dea mencontohkan salah satu pekerja disabilitas di Batik Kultur, yaitu Idris Harahap, yang berperan sebagai fotografer.

Idris sebelumnya memiliki anggota tubuh yang normal. Namun, ia yang saat itu bekerja sebagai tukang bangunan mendapatkan musibah tersengat listrik hingga terpaksa kehilangan kedua tangannya.

“Aku bayangin, kalau itu terjadi pada aku, aku tidak yakin bisa sekuat dia. Jadi aku harus melakukan apapun untuk mengakomodasi mereka yang mau terus belajar,” kata Dea.

Selama delapan tahun merintis bisnis, Dea merasa titik awal adalah momentum paling sulit.

Terutama bagaimana ia mengorbankan waktu-waktu luangnya pada masa kuliah untuk sesuatu yang bermanfaat. Apalagi, Dea memulainya sangat dini, yaitu di sekitar usia 17 tahun.

“Dulu usia 17 sampai 20 tahunan ada main-main sekarang kebanyakan orang kerja serius. Saya kebalik, dulu jarang main sama teman tapi istilahnya saya sudah mulai duluan (kerja) sehingga sudah seperti sekarang,” kata Dea.

Batik segala usia 

Pada sesi Grand Opening, Dea Valencia menampilkan 30 koleksi ready to wear yang terdiri dari 6 mini collection busana wanita dan pria untuk segala usia serta bentuk tubuh.

Tak hanya deretan busana batik formal, Dea juga menampilkan batik dengan desain-desain kasual modern.

Pada dasarnya Dea ingin memberi pesan bahwa batik bisa digunakan oleh siapa saja dan dalam segala kesempatan. Sebab saat ini masih banyak orang-orang yang belum suka menggunakan batik karena dianggap terlalu formal dan kaku.

Motif burung-burungan dan flora tampak mendominasi koleksi busana batik karya perempuan berusia 25 tahun itu. Motif-motif kesukaannya tersebut dituangkan pada kain bersiluet sederhana dan dibubuhkan melalui penempatan yang unik.

Agar tampilan keseluruhan tak tampak berat, Dea banyak mengkombinasikan kain dengan bahan lainnya, seperti brokat atau katun bordir.

Adapun batik yang digunakan berasal dari beberapa daerah, misalnya Solo dan Pekalongan.

“Batik kadang kalau penuh tampak terlalu berat dan formal. Jadi hampir semua kombinasi,” ucapnya.

Aplikasi payet sederhana juga dilakukan oleh Dea untuk memberi efek sedikit berkilau. Sebanyak 30 koleksi busana Batik Kultur secara umum dibagi menjadi dua palet warna, yaitu terang dan gelap.

Warna terang terinspirasi dari warna-warna batu permata.

Sosok pengusaha muda Dita Soedardjo pun dihadirkan sebagai ‘muse’ peragaan busana perdana Batik Kultur.

Dita tampil mengenakan dress batik bernuansa hitam dan biru muda, dengan motif sulur-sulur bunga menghiasi bagian dada dengan cantik.

Jiwa sosial Dita dinilai sejalan dengan visi Batik Kultur. Selain itu, cucu Kartini Muljadi itu dianggap mampu merepresentasikan busana batik yang modern dan muda, sesuai dengan nafas milenial.

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here