Indonesia Masuk Negara Berpotensi Resesi, Efeknya Ngeri

0
26

Anisa Indraini – detikFinance
Senin, 18 Jul 2022 10:08 WIB

Jakarta – Dunia berada di ambang resesi akibat inflasi semakin menggerogoti ekonomi. Berdasarkan survei Bloomberg, Indonesia berada di urutan kedua terbawah dari 15 negara yang berpotensi resesi meski kemungkinannya hanya 3%.
Resesi adalah situasi yang terjadi ketika produk domestik bruto (PDB) atau pertumbuhan ekonomi suatu negara negatif selama dua kuartal berturut-turut. Indonesia pernah alami pada 2020 silam dan risiko ini tidak boleh disepelekan karena dampaknya akan sangat nyata menimpa masyarakat.

Direktur Eksekutif Center of Reform on Economics (CORE) Indonesia, Mohammad Faisal mengatakan jika resesi terjadi dampaknya ke masyarakat adalah sulitnya memperoleh barang-barang dari sisi keterjangkauan harga karena pada melambung tinggi.

“Ini yang dikhawatirkan, tapi di Indonesia kemungkinannya kecil karena bauran kebijakan pemerintah terutama menambah subsidi untuk BBM, listrik dan gas juga ditingkatkan. Sehingga ada inflasi tapi relatif bisa lebih diredam. Inflasi pangan yang lebih tinggi sebetulnya dibanding inflasi umum karena sebagian disebabkan karena faktor global,” kata Faisal, Senin (18/7/2022).

Dampak kedua jika terjadi resesi adalah banyak terjadi pemutusan hubungan kerja (PHK) karena kenaikan harga bahan baku pada tingkat produsen. Di sisi lain, permintaan atau konsumsi dari masyarakat akan menurun, sehingga terjadi penurunan omzet.

“Nah ini cenderung membuat produsen nantinya akan menahan atau menekan biaya produksi, salah satunya menekan upah buruh dan menekan penyerapan tenaga kerja,” tuturnya.

Dampak dari itu tentunya akan berkesinambungan. Saat PHK besar-besaran terjadi, otomatis pengangguran dan jumlah masyarakat miskin akan bertambah.

“Dari dampak resesi itu yang paling jelas adalah orang miskin makin bertambah karena naiknya harga biasanya ditandai oleh garis kemiskinan naik, sementara pendapatan masyarakat tetap,” kata Direktur Eksekutif Institute for Development Economics and Finance (INDEF) Tauhid Ahmad dihubungi terpisah.

Meski begitu, Tauhid menilai kalau pun nantinya Indonesia terjadi resesi, penurunan ekonomi tidak akan sedahsyat saat awal pandemi COVID-19 yang disebabkan adanya pembatasan aktivitas fisik. Jadi masyarakat nggak perlu panik ya, hanya tetap waspada terhadap kenaikan harga-harga barang.

“Sekarang mungkin tidak sedahsyat pada waktu itu, penurunan pertumbuhan ekonominya tidak se-drastis pada waktu pandemi, tapi lebih relatif soft. Memang masyarakat tidak boleh panik tapi harus antisipatif terutama fenomena inflasi itu sendiri dan fenomena kenaikan harga yang mulai merangkak naik,” tuturnya.

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here