Anisa Indraini – detikFinance
Rabu, 01 Apr 2026 13:27 WIB
Jakarta – Impor Indonesia sepanjang Januari-Februari 2026 naik 14,44% secara tahunan dengan nilai mencapai US$ 42,09 miliar. Salah satu komoditas yang impornya mengalami kenaikan tinggi yaitu logam mulia dan perhiasan/permata dari Australia.
Deputi Bidang Statistik Distribusi dan Jasa BPS, Ateng Hartono, mengatakan impor logam mulia dan perhiasan/permata dari Australia mencapai US$ 865,74 juta pada Januari-Februari 2026. Jumlah itu naik tinggi hingga 646% dibandingkan periode yang sama tahun lalu (year on year/yoy).
“Jadi perhiasan logam mulia cukup banyak nih dari Australia, bahkan tumbuh sangat tinggi yaitu 646% secara c-to-c,” kata Ateng dalam konferensi pers virtual, Rabu (1/4/2026).
Logam mulia dan perhiasan/permata menjadi salah satu komoditas impor non migas dari Australia dengan total nilai US$ 2,07 miliar. Sisanya ada serealia dengan nilai US$ 291,18 juta atau naik 60,44% dan bahan bakar mineral US$ 168,71 juta atau turun 37,80%.
“Impor non migas dari Australia tercatat US$ 2,07 miliar, terutama didominasi impor logam mulia dan perhiasan/permata dengan share 41,84%” jelas Ateng.
Selain dari Australia, Indonesia juga tercatat impor logam mulia dan perhiasan/permata dari Singapura. Sepanjang Januari-Februari 2026, nilainya mencapai US$ 323,43 juta atau naik 196,50%.



