Duka Afsel Kehilangan Desmond Tutu Aktivis Antirasisme-Jurkam HAM

0
9

Tim detikcom – detikNews
Minggu, 26 Des 2021 22:29 WIB

Jakarta – Afrika Selatan kehilangan aktivis antirasisme hingga juru kampanye HAM, Desmond Tutu. Desmond Tutu dikabarkan meninggal dunia pada usia 90 tahun.
“Meninggalnya Uskup Agung Emeritus Desmond Tutu adalah babak lain dari duka dalam perpisahan bangsa kita dengan generasi Afrika Selatan yang luar biasa, yang telah mewariskan kepada kita Afrika Selatan yang telah dibebaskan,” kata Presiden Afrika Selatan, Cyril Ramaphosa dalam sebuah pernyataan, seperti dilansir AFP dan BBC, Minggu (26/12/2021).

Tutu disebut sebagai “seorang pemimpin spiritual ikonik, aktivis anti-apartheid dan juru kampanye hak asasi manusia global”.

Ramaphosa menggambarkan Tutu sebagai “seorang patriot tanpa tandingan; seorang pemimpin berprinsip dan pragmatis yang memberi makna pada wawasan alkitabiah bahwa iman tanpa perbuatan adalah mati.”

“Seorang pria dengan kecerdasan luar biasa, integritas dan tak terkalahkan melawan kekuatan apartheid, dia juga lembut dan rentan dalam belas kasihnya bagi mereka yang telah menderita penindasan, ketidakadilan dan kekerasan di bawah apartheid, dan orang-orang yang tertindas dan tertindas di seluruh dunia.” imbuhnya.

Latar Belakang Desmond Tutu

Seperti dilansir Yayasan Hadiah Nobel, Desmond Tutu lahir di Klerksdorp, Transvaal pada tahun 1931. Desmond Tutu lahir dengan latar belakang Ayah yang merupakan seorang guru.

Setamat bersekolah di SMA Johannesburg Bantu, ia pernah menjadi guru di Pretoria Bantu Normal College. Tutu melanjutkan pendidikan di Universitas Afrika Selatan dan lulus pada tahun 1954.

Setelah lulus, dia pernah menjadi guru sekolah menengah selama 3 tahun. Dia tertarik mempelajari teologi hingga ditahbiskan sebagai imam pada tahun 1960. Selanjutnya dia menjalani studi Teologi di Inggris dan lulus sebagai Master of Theology pada 1966.

Tutu sempat kembali ke Afrika untuk mengajar teologi mulai tahun 1967 hingga 1972. Dia berpindah ke Inggris selama tiga tahun sebagai asisten direktur institut teologi di London.

Pada tahun 1975 ia diangkat menjadi Dekan Katedral St Mary di Johannesburg, orang kulit hitam pertama yang memegang posisi itu. Dari tahun 1976 hingga 1978 ia adalah Uskup Lesotho, dan pada 1978 menjadi Sekretaris Jenderal kulit hitam pertama Dewan Gereja Afrika Selatan. Tutu adalah doktor kehormatan dari sejumlah universitas terkemuka di Amerika Serikat, Inggris dan Jerman.

Desmond Tutu Jurkam HAM

Masyarakat dunia mengenal Desmond Tutu lantaran merumuskan tujuannya soal ‘masyarakat yang demokratis dan adil tanpa perpecahan ras’ dan telah mengajukan poin-poin berikut sebagai tuntutan minimum:

  1. hak sipil yang sama untuk semua
  2. penghapusan undang-undang paspor Afrika Selatan
  3. sistem pendidikan bersama
  4. penghentian deportasi paksa dari Afrika Selatan

Desmond Tutu Lawan Apartheid

Tak hanya itu, Desmond Tutu juga dikenal sebagai tokoh perlawanan apartheid di Afrika Selatan. Dia mengenalkan dan mempopulerkan istilah ‘Bangsa Pelangi’ untuk menggambarkan negaranya saat dipimpin oleh Presiden kulit hitam pertama, Nelson Mandela.

Pada 1984, Desmond Tutu diberi Hadiah Nobel Perdamaian atas usahanya melawan apartheid. Pada 1986, dia diangkat sebagai Uskup Agung dan menggunakan posisinya untuk mengadvokasi sanksi internasional terhadap apartheid, dan kemudian melobi hak-hak secara global.

Pada 1997, Desmond Tutu didiagnosis menderita kanker prostat dan harus menjalani perawatan.

“Ini adalah hak istimewa yang luar biasa, ini adalah kehormatan besar bahwa orang berpikir bahwa mungkin nama Anda dapat membuat perbedaan kecil,” katanya kepada AFP sesaat sebelum ulang tahunnya yang ke-80 pada tahun 2011 lalu.

Pada Mei 2021 lalu, Tutu muncul kembali di depan publik saat menerima vaksin Covid-19. Dia terlihat di luar Rumah Sakit dengan kursi roda sambil melambai tanpa sepatah kata pun.

Desmond Tutu meninggal dunia di usianya yang ke-90 tahun.

Menurut seorang wartawan AFP, para pelayat berkumpul di luar bekas parokinya di Cape Town yaitu Katedral St George. Sementara masyarakat lainnya berkumpul di kediamannya sembari membawa karangan bunga.

“Sangat menyedihkan dia meninggal. Dia orang yang sangat baik,” kata pensiunan akuntan bernama Diane Heard.

Tim kriket Afrika Selatan juga mengenakan ban lengan berwarna hitam saat melawan India. Hal ini dilakukan sebagai bentuk penghormatan atas kematian Desmond Tutu.

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here