Dokter Ingatkan Pasien COVID-19 Tak Sembarangan Coba Obat

0
20
Direktur RSU dr Soetomo Surabaya dr Joni Wahyuhadi/Foto: Hilda Meilisa Rinanda/detikcom

Hilda Meilisa Rinanda – detikNews

Jumat, 30 Jul 2021 16:31 WIB

Surabaya – Perawatan pasien COVID-19 tidak bisa dilakukan sembarangan. Dokter mengingatkan masyarakat tidak sembarangan coba-coba meminum obat yang diklaim mampu melawan virus Corona.

Untuk itu, dokter menyarankan pasien yang isolasi mandiri untuk melakukan konsultasi secara telemedicine dengan dokter. Nantinya, dokter akan memberikan resep sesuai dengan gejala yang dialami pasien.

Direktur RSU dr Soetomo Surabaya dr Joni Wahyuhadi meminta masyarakat tidak mudah termakan isu. Dia mengatakan ada sejumlah obat yang belum masuk standar, namun sudah banyak diburu masyarakat dan dipercaya bisa menyembuhkan COVID-19.

“Barangkali ini menjadi usulan, treatment dari COVID-19 ini perlu ketegasan, karena isu di luar itu sangat mempengaruhi kawan-kawan dokter penanggung jawab pasien,” kata Joni secara virtual di sela acara pemberian rekomendasi penanganan COVID-19 oleh Gubes FK Unair di Surabaya, Jumat (30/7/2021).

“Obat-obat yang belum masuk standar, pun yang sudah masuk standar tapi trial, itu masyarakat sudah tahu. Sehingga pemakaian obat-obatan tertentu yang belum masuk standar atau yang sudah masuk clinical trial itu harus dengan indikasi ketat,” tambahnya.

Namun, Joni menyayangkan sejumlah keluarga pasien yang mendesak RS untuk memberikan obat-obatan tertentu. Padahal, pemberian obat harus sesuai dengan indikasi yang tepat.

“Pemakaian obat tertentu harus dengan ketepatan indikasi yang akurat, tetapi masyarakat begitu ada keluarganya yang masuk RS, sudah ingin mendapat obat seperti itu bahkan mendesak RS melakukan treatment yang belum merupakan standar atau treatment yang perlu penanganan khusus,” ungkap Joni.

Joni menambahkan, pihaknya juga selalu berhati-hati dalam menggunakan antivirus. Karena, sejumlah antivirus bisa mengakibatkan kerusakan organ tubuh.

Selain itu, Joni juga menemukan sejumlah pasien yang sudah menggunakan antivirus, padahal belum mendapat rekomendasi dokter. Joni menyayangkan hal ini karena beberapa pasien menjadi resisten atau kebal pada antivirus.

“Pemakaian antivirus kami hati-hati betul. Karena kita tahu dari hasil evaluasi kami, semua antivirus hepatotoksik, frenotoksik, makanya kami terus pantau fungsi organ yang menjadi target dari treatment itu,” jelasnya.

“Pemakaian obat-obatan di luar RS menyebabkan pasien yang datang ke UGD dalam kondisi frenotoksik hepatotoksik, bahkan tak jarang datang ke UGD sudah resisten karena sudah memakai antibiotik yang harusnya baru dipakai di RS atau RS rujukan. Ini saya kira perlu ketegasan kita semua bagaimana treatment COVID-19 ini proper,” pungkas Joni.

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here