Demonstran di AS Ramai-ramai Protes Warga Asia Jadi Korban Serangan

0
107

Tim Detikcom – detikNews

Selasa, 23 Mar 2021 04:59 WIB

Jakarta – Warga Amerika Serikat kembali menggelar aksi demo untuk mengecam serangan anti-Asia. Ribuan orang di berbagai wilayah Amerika Serikat turun ke jalan untuk mengecam serangan anti-Asia yang marak beberapa waktu terakhir. Aksi protes ini digelar setelah penembakan massal di Atlanta yang menewaskan 8 orang, termasuk enam wanita Asia, pekan lalu.

Salah satu demonstran bernama Xin Hua, yang keturunan Asia-Amerika, menyatakan dirinya ‘sangat marah’ bahwa polisi di Atlanta belum juga menyebut penembakan brutal itu didasari motif ras.

“Faktanya adalah enam wanita Asia tewas,” ucap Xin yang berusia 37 tahun ini kepada AFP di Washington, di mana ratusan demonstran ikut aksi protes tersebut.

Pelaku penembakan di Atlanta, Robert Aaron Long, ditangkap pada Selasa (16/3) waktu setempat, setelah menembaki tiga panti pijat dan spa setempat.

Dia mengakui tindak kejahatannya dan telah didakwa atas pembunuhan. Namun dalam interogasi, Long membantah aksinya itu didasari oleh kebencian ras. Dia justru mengakui menderita kecanduan seks dan ingin ‘memusnahkan’ godaan.

“Saya bukan godaan Anda,” demikian bunyi salah satu poster yang dibawa demonstran dalam aksi di Washington.

“Saya pernah didekati di aplikasi kencan oleh pria-pria yang mengatakan, ‘Saya perlu menyembuhkan demam kuning saya’,” tutur serang demonstran berusia 31 tahun kepada AFP, yang menolak fetishisasi seksual terhadap wanita Asia.

Kandidat Wali Kota New York, Andrew Yang, yang juga pernah menjadi kandidat capres Partai Demokrat mengundang demonstran untuk mengangkat tangan jika melihat lonjakan kasus rasisme anti-Asia sejak pandemi virus Corona (COVID-19) bermula. Para aktivis menyebut sentimen anti-Asia meningkat di AS akibat komentar mantan Presiden Donald Trump yang berkali-kali menyebut COVID-19 sebagai ‘virus China’.

Di Montreal, menurut laporan fotografer AFP, ratusan orang juga turun ke jalanan untuk menggelar aksi protes.

“Kita memprotes rasisme anti-Asia selama bertahun-tahun, yang dipicu oleh seorang presiden pendukung supremasi kulit putih di AS, yang bersikeras menyebut virus itu sebagai ‘virus China’, yang mendorong kebencian dan serangan terhadap semua kelompok minoritas tertindas,” cetus May Chiu dari Kelompok Progresif Keturunan China di Quebec.

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here