Bahaya Demam Berdarah Intai Indonesia di Tengah Pandemi Corona

0
54
Foto ilustrasi nyamuk pembawa penyakit demam berdarah. (iStock)

Tim detikcom – detikNews

Jumat, 03 Apr 2020 21:52 WIB

Jakarta – Di tengah pandemi virus Corona (COVID-19), Indonesia masih dalam intaian penyakit demam berdarah dengue (DBD). DBD masih punya peluang mengancam Indonesia karena kini memasuki masa musim pancaroba.

Peringatan itu disampaikan oleh pemerintah ketika tengah mengumumkan data terkait Corona. Diharapkan sikap waspada terhadap demam berdarah tak menimbulkan korban. Pasalnya, data kerap menunjukkan kasus DBD pada masa pancaroba selalu muncul.

“Pada musim pancaroba di bulan-bulan April-Mei, secara statistik data kita masih sering menunjukkan peningkatan kasus demam berdarah,” kata juru bicara pemerintah untuk penanganan COVID-19 Achmad Yurianto dalam konferensi pers yang disiarkan di akun YouTube BNPB, Jumat (3/4/2020).

Yuri, sapaan akrabnya, berharap masyarakat dapat mencegah demam berdarah dengan memberantas sarang nyamuk. Dia mengatakan masyarakat punya cukup waktu untuk menjaga kebersihan rumah di masa physical distancing karena pandemi Corona.

Harapannya, tidak jatuh korban demam berdarah. Sebab, saat ini Indonesia tengah berjuang menangani pandemi COVID-19.

“Oleh karena itu, jangan sampai ini memperburuk kondisi pandemi COVID. Lakukan pembersihan sarang nyamuk di rumah. Waktu kita cukup banyak berada di rumah,” ujar Yuri.

Sebelumnya, anggota DPR Komisi VI Marwan Jafar pun telah mengingatkan pemerintah juga fokus mengantisipasi ancaman DBD. Sebab, menurutnya, iklim tropis Indonesia membuat DBD rentan mewabah.

“Karena wilayah kita kategori tropis, maka penyakit ini (DBD) rentan mewabah di masyarakat hampir tiap tahun. Bahkan di beberapa daerah sudah menyatakan darurat,” kata Marwan kepada wartawan, Selasa (24/3).

Sementara itu, Wakil Presiden Ma’ruf Amin juga meminta masyarakat kembali melakukan gerakan pemberantasan sarang nyamuk. Ma’ruf menyebut gerakan tersebut dilakukan dengan gerakan 3M, yaitu menutup, menguras, dan mengubur.

“Antara lain dengan gerakan 3 M, menguras tempat tempat air, menutup tempat penampungan air, kemudian mengubur barang bekas. Termasuk juga kemungkinan adanya sarang-sarang nyamuk dimana-mana, kemudian juga membangun hidup bersih,” ujar Ma’ruf di Istana Wakil Presiden, Jalan Medan Merdeka Utara, Jakarta Pusat, Jumat (13/3).

Korban DBD

Untuk diketahui, penyakit DBD ini juga telah memakan korban di sejumlah daerah. Dari Lampung hingga Nusa Tenggara Timur (NTT).

Kementerian Kesehatan (Kemenkes) mencatat 104 orang meninggal akibat DBD dari 17.820 kasus yang terjadi dalam rentang awal Januari hingga Rabu, 11 Maret 2020.

“Kasus paling tinggi sebenarnya ada di Lampung dan yang kedua adalah Nusa Tenggara Timur, terkonsentrasi pada satu kabupaten yang sangat tinggi dibandingkan kabupaten lain,” kata Direktur Penyakit Tular Vektor dan Zoonotik Kemenkes dr. Siti Nadia Tarmizi dalam konferensi pers di gedung Kemenkes, seperti dilansir Antara, Rabu (11/3).

Menurut catatan Kemenkes, Lampung menempati posisi paling tinggi provinsi dengan jumlah kasus DBD terbanyak, yakni 3.423 kasus, yang terjadi di enam kabupaten. Sementara itu, Nusa Tenggara Timur (NTT) berada di posisi kedua dengan 2.711 kasus.

Meski demikian, katanya, kasus kematian terbanyak tercatat di NTT dengan jumlah 32 orang. Dari 32 orang itu, 14 korban jiwa di antaranya berasal dari Kabupaten Sikka, yang sebagian besar merupakan anak-anak.

Kemudian, Jawa Timur berada di posisi ketiga kasus terbanyak DBD dengan 1.761 kasus. Selanjutnya Jawa Barat dengan 1.420 kasus dan di posisi kelima ada Jambi dengan 703 kasus.

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here