Virus Corona Berbahaya Bagi Siapa Saja, Bahkan Balita Sekalipun

0
65
Foto: Ilustrasi corona (Fauzan Kamil/detikcom)

Rakhmad Hidayatulloh Permana – detikNews

Minggu, 05 Apr 2020 12:50 WIB

Jakarta – Virus Corona (COVID-19) menjadi pandemi global. Para lansia merupakan kelompok yang paling rentan terhadap virus ini. Namun, virus ini juga bisa berbahaya bagi anak-anak.

Mulanya, sejak Februari belum ada laporan soal kematian pasien Corona pada usia 0-9 tahun. Saat itu, China masih tengah berjuang melawan wabah ini.

Mengutip jurnal penelitian bertajuk ‘Characteristics of and Important Lessons From the Coronavirus Disease 2019 (COVID-19)’. Jurnal yang terbit pada 24 Februari 2020 ini ditulis oleh Zunyou Wu dan Jennifer M McGoogan. Penelitian ini meneliti data 72.314 kasus positif Corona.

Berdasarkan data yang dikumpulkan rata-rata pasien Corona yang meninggal didominasi oleh para lansia. Ketika itu belum ada korban meninggal dari kelompok usia anak-anak usia 0-9 tahun.

Berikut ini tingkat kematian akibat Coroa sesuai golongan umur berdasarkan data yang dikeluarkan oleh Chinese Center for Disease Control and Prevention Report:

≥80 tahun: 3% (1408 kasus)

30-79 tahun: 87% (38 680 kasus)

20-29 tahun: 8% (3619 kasus)

10-19 tahun: 1% (549 kasus)

<10 tahun: 1% (416 kasus)

Kematian akibat Corona juga merupakan dampak dari penyakit yang diidap. Tingkat kematian akibat penyakit ini jika pasien tersebut memiliki penyakit penyerta lainnya ialah sebagai berikut:

Kondisi tanpa penyakit penyerta apapun: 0,9%
Pasien dengan penyakit kardiovaskular: 10,5%
Diabetes: 7,3%
Saluran pernapasan kronis: 6,3%
Tekanan darah tinggi: 6%
Kanker: 5,6%

Namun, seperti yang dilansir BBC pada 30 Maret 2020, Organisasi Kesehatan Dunia (WHO) memperingatkan anak-anak muda agar tidak merasa menjadi ‘orang yang tidak akan terkena oleh virus corona atau kalaupun terkena akan baik-baik saja’.

Perkiraan terakhir dari Imperial College London, tingkat kematian hampir 10 kali lipat bagi orang berusia 80 tahun ke atas dan lebih rendah bagi yang berumur di bawah 40.

Dan bagi orang tua, ketika mereka dirawat di rumah sakit, lebih besar kemungkinan mereka membutuhkan unit perawatan intensif.

Kurang dari 5% dari usia di bawah 50 tahun perlu dirawat di rumah sakit karena gejala penyakit ini, tetapi angka ini meningkat hingga 24% bagi yang berusia antara 70-79 tahun.

Kendati demikian, beberapa negara telah melaporkan kasus kematian akibat Corona dari kelompok anak-anak. Kasus kematian anak-anak akibat Corona ini terjadi di Amerika Serikat (AS) dan Inggris.

Seorang bayi berumur enam minggu di Amerika Serikat telah meninggal karena komplikasi terkait infeksi virus corona. Kematian bayi tersebut disampaikan Gubernur Connecticut, Ned Lamont pada Rabu (1/4) waktu setempat.

Dalam postingan di Twitter, Lamont menyebut bahwa bayi baru lahir itu “dibawa tak sadarkan diri ke rumah sakit pekan lalu dan tak bisa diselamatkan.”

“Hasil tes semalam telah mengonfirmasi bahwa bayi baru lahir itu positif COVID-19,” kata Lamont seperti dilansir kantor berita AFP, Kamis (2/4/2020).

“Ini benar-benar memilukan. Kami percaya ini adalah salah satu jiwa termuda di manapun yang meninggal karena komplikasi terkait COVID-19,” imbuh gubernur negara bagian Connecticut itu.

Sepekan sebelumnya, otoritas Illinois menyatakan tengah menyelidiki kematian seorang anak berumur kurang dari setahun yang positif coronavirus. Menurut media lokal, bayi tersebut berumur 9 bulan.

Selama ini diyakini bahwa virus ini lebih berbahaya bagi orang dewasa, namun belakangan makin banyak pasien-pasien muda di AS yang dirawat di rumah sakit karena virus ini.

Sementara itu, yang terbaru ialah pasien Corona berusia 5 tahun yang meninggal dunia di Inggris.

“Pasien berusia antara lima tahun dan 104 tahun. 40 dari 637 pasien (berusia antara 48 dan 93 tahun) kondisi kesehatannya belum diketahui,” pernyataan otoritas kesehatan Inggris dilansir AFP seperti dikutip detikcom, Minggu (5/4/2020).

Pemerintah Inggris tidak mengungumkan identitas bocah 5 tahun itu. Pihak keluarga tidak berkenan identitas pasien disebarluaskan.

Perdana Menteri Inggris Boris Johnson telah memberlakukan kebijakan lockdown itu selama 3 minggu sejak 23 Maret. Kementerian Kesehatan Inggris mengumumkan 4.313 orang positif terjangkit virus Corona. Jumlah korban yang meninggal dunia terus meningkat setiap harinya.

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here