EKBIS

TikTok Shop Ditutup, Pasar Tanah Abang Menggeliat Kembali

Ignacio Geordi Oswaldo – detikFinance
Kamis, 12 Okt 2023 07:00 WIB

Jakarta – Aktivitas jual-beli di Pasar Tanah Abang, Jakarta Pusat, terasa lebih hidup usai TikTok Shop ditutup pekan lalu. Terlihat sudah cukup banyak pengunjung yang kembali lalu-lalang di kawasan pasar untuk berbelanja.
Berdasarkan pantauan detikcom di lokasi, Rabu (11/10/2023), kondisi Pasar Tanah Abang siang ini cukup ramai dengan aktivitas jual-beli. Hal ini terjadi terutama di blok A dan blok B pasar. Memasuki lobby blok A Pasar Tanah Abang, terlihat ada cukup pengunjung yang sedang duduk-duduk di tangga dengan kantong belanjaan di dekat mereka.

Masuk lebih dalam, terlihat ada cukup banyak orang yang berjalan di sekitar koridor. Kondisi ini membuat lorong-lorong pasar tampak cukup padat meski tidak sampai berdesak-desakan.

Saat berkeliling, para penjual terdengar saling sahut-menyahut menawarkan barang dagangannya. “Boleh silahkan, lihat-lihat dulu boleh silahkan,” teriak salah seorang pedagang.

Naik ke lantai 1, suasana pasar masih cukup ramai pengunjung yang berkeliling. Sesekali ditemui sejumlah pengunjung yang sedang melakukan tawar-menawar dengan pedagang.

Meski begitu kondisi pasar semakin lengang saat naik ke lantai-lantai selanjutnya, seperti saat naik ke lantai 2 dan 3. Di lantai-lantai ini detikcom masih menjumpai sejumlah pengunjung walau tidak seramai lantai-lantai di bawahnya.

Semakin naik ke atas, semakin sepi pengunjung yang terlihat. Selain itu di lantai-lantai atas pasar ini juga ditemui juga semakin banyak toko yang tutup. Bergeser ke blok B, kondisi kawasan ini tidak jauh berbeda dengan Pasar Tanah Abang blok A. Terlihat semakin lengang dengan jumlah pelanggan yang semakin sedikit.

Bahkan saat berada di lantai 3A dan 5 pusat grosir ini, terlihat semakin sepi dan banyak toko yang tutup hingga membuat suasana terasa senyap. Kondisi ini menunjukkan ramainya pengunjung masih terpusat di lantai-lantai bawah.

Beda Nasib Pedagang Pasar Tanah Abang Usai TikTok Shop Ditutup

Salah seorang penjual daster di Blok A lantai 2, Nuraini (40), mengatakan jumlah pengunjung mulai mengalami kenaikan usai TikTok Shop ditutup. Ia merasa jumlah pelanggan dari daerah mulai kembali berdatangan karena lebih milih belanja online yang lebih murah dan bisa dilakukan dari mana saja.

“Sudah rada mendingan sih kelihatan ada yang datang, dari daerah-daerah ada banyak sih. Tadinya kan (pengunjung) dari daerah juga nggak ada, yang dekat-dekat juga nggak ada. Pikir kali kalau online gitu gampang kali dari rumah, lebih murah katanya,” kata Nuraini kepada detikcom, Rabu (11/10/2023).

Menurutnya kondisi sangat berbeda jauh dengan minggu-minggu sebelumnya saat TikTok Shop masih beroperasi. Ia bahkan mengaku sebelumnya kerap tidak mendapat pembeli sama sekali.

“Kalau kemarin kan, yang biasa rame juga sepi banget. Orang yang lewat aja nggak ada. Nggak ada sama sekali yang lewat, kita gini-gini aja. Kadang malah nggak laris,” tuturnya.

Nuraini mengaku sebelumnya ia paling-paling hanya bisa membawa pulang Rp 100 ribu dalam sehari. Namun mulai minggu ini penjualannya mulai meningkat. Bahkan untuk hari ini saja ia mengaku sudah mendapat lebih dari Rp 700 ribu.

“Kemarin-kemarin kan minggu aja aku buka nggak ada orang, laris cuma Rp 100 ribu kadang-kadang nggak dapat, pengin nangis juga sih. Kalau hari ini lumayan sih tadi orang lewat banyak. Dapat sih hari ini Rp 700 lebih,” jelas Nuraini.

Meski begitu kondisi ini ternyata tidak berlaku untuk semua pedagang di pasar. Hal ini seperti yang dirasakan Hermawan (51) selaku pedagang baju koko lantai dasar blok B Pasar Tanah Abang yang masih sepi pembeli.

Ia mengaku hingga saat ini belum merasakan imbas ditutupnya TikTok Shop. Menurutnya kondisi ini terjadi karena adanya penurunan daya beli masyarakat, bukan semata-mata karena kalah saing dengan TikTok Shop.

“Sebetulnya (kondisi pasar) masih sama aja. Nggak terlalu signifikan, soalnya menurut saya sih daya beli yang turun. Sebab bukan di sini aja, saya lihat di daerah juga sama (masih sepi pembeli),” kata Hermawan.

Hermawan menjelaskan Pasar Tanah Abang merupakan pasar grosir. Artinya sebagian besar pengunjung merupakan para pedagang yang membeli produk dalam jumlah banyak untuk dijual lagi.

Saat toko-toko milik para pedagang ini sepi pembeli karena adanya penurunan daya beli, barulah para pedagang di Pasar Tanah Abang baru merasakan dampaknya.

“Kalau di sini kan orang kebanyakan beli kan partai besar ya, waktu toko-toko nggak beli baru berasa. Orang lain mungkin setahun yang lalu (sepi pembeli). Kayanya seperti itu daya belinya. Sebab bukan di sini aja, di daerah sama,” jelasnya.

Karenanya Hermawan mengaku omzet penjualannya masih loyo dibandingkan tahun lalu. Menurutnya penjualan baju koko miliknya masih mengalami penurunan hingga 50%. “Kalau dihitung sih dengan tahun lalu kan 50% drop-nya. Sehari-hari ya kalau dulu hari biasa aja di atas Rp 5 juta. Sekarang dapat Rp 4 juta aja sudah luar biasa,” ungkap Hermawan.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *