Super Spreader Virus Corona, Pria AS Tulari 15 Orang di Pemakaman dan Pesta

0
37
Ilustrasi -- Penanganan pasien virus Corona di AS (AP Photo)

Novi Christiastuti – detikNews

Kamis, 09 Apr 2020 10:08 WIB

Chicago – Seorang pria di Amerika Serikat (AS) menjadi seorang super spreader virus Corona setelah menulari 15 orang yang ada di sekitarnya. Pria asal Chicago yang hanya mengalami gejala ringan dan tidak menyadari dirinya terinfeksi virus Corona ini, sempat menghadiri pemakaman dan pesta ulang tahun.

Seperti dilansir AFP, Kamis (9/4/2020), kasus penularan super spreader ini berawal pada akhir Februari lalu, saat AS masih berpikiran bahwa wilayahnya bebas virus Corona.

Keterangan Pusat Pengendalian dan Pencegahan Penyakit AS (CDC) menyebut bahwa seorang pria yang berasal dari Chicago — tidak disebut namanya — telah memicu rantai penularan virus Corona terhadap 15 orang lainnya, dengan tiga orang lainnya meninggal dunia.

Diketahui bahwa Chicago, kota terbesar di negara bagian Illinois, belum memberlakukan lockdown hingga 21 Maret, bersamaan dengan negara bagian AS lainnya. Namun, sebut CDC, kasus penularan super spreader ini menjadi contoh penting bahwa mematuhi rekomendasi social distancing dan aturan lockdown selama pandemi virus Corona adalah sangat penting.

Dalam kasus pria Chicago ini, tidak diketahui pasti dari mana dia terinfeksi virus Corona. Namun diyakini dia secara tidak sadar telah memiliki virus Corona saat menghadiri pemakaman yang melibatkan banyak orang dan tiga hari kemudian menghadiri pesta ulang tahun yang juga dihadiri banyak orang.

CDC dalam penjelasannya menyebut bahwa pria Chicago ini, yang disebut sebagai ‘pasien indeks’, awalnya makan malam bersama dari satu piring dengan dua temannya, sebelum menghadiri pemakaman. Selama makan bersama, yang berlangsung 3 jam, dan saat menghadiri pemakaman, selama 2 jam dan melibatkan makan bersama ala potluck — mirip prasmanan, pasien indeks itu memeluk empat orang termasuk dua teman yang ditemui sebelumnya.

Tiga orang di antara mengalami gejala virus Corona dalam waktu 2-6 hari kemudian. Salah satunya harus dirawat di rumah sakit dan akhirnya meninggal dunia sekitar sebulan kemudian. Dua orang lainnya menjalani rawat jalan dan berhasil sembuh.

Namun diketahui satu pasien — yang akhirnya meninggal dunia — sempat dijenguk oleh seorang anggota keluarganya selama dirawat di Unit Perawatan Intensif (ICU). Satu anggota keluarga itu ternyata sempat melakukan kontak dekat dengan si pasien indeks saat keduanya sama-sama menghadiri pemakaman.

Satu individu ini — yang tidak memakai perlengkapan pelindung saat menjenguk — kemudian mengalami gejala batuk-batuk dan demam, namun berhasil sembuh.

Rantai reaksi penularan virus Corona

Tiga hari usai menghadiri pemakaman, si pasien indeks menghadiri sebuah pesta ulang tahun yang juga dihadiri 9 anggota keluarganya sendiri. Dalam pesta itu, si pasien indeks ini melakukan kontak dengan semua orang selama tiga jam.

Tujuh orang di antaranya dinyatakan terinfeksi virus Corona sekitar 3-7 hari usai pesta itu. Dua orang di antaranya harus dirawat di rumah sakit dan membutuhkan ventilator. Sayangnya, keduanya meninggal dunia saat menjalani perawatan medis.

Dua orang lainnya — seorang anggota keluarga dan seorang tenaga medis — yang sempat merawat salah satu pasien yang meninggal, sama-sama menunjukkan gejala-gejala virus Corona. Satu orang di antaranya kemungkinan menularkan virus Corona ke seorang kerabatnya, yang tidak menghadiri pesta ulang tahun itu.

Sementara itu, tiga orang lainnya yang menghadiri pesta ulang tahun itu dan mengalami gejala-gejala virus Corona, sempat beribadah ke gereja setempat sekitar enam hari setelah mengalami gejala pertama. Di gereja, mereka menulari seorang tenaga medis yang duduk di dekat mereka selama ibadah. Tiga orang itu dan si tenaga medis juga diketahui sempat mengobrol selama 90 menit.

CDC menyebut bahwa para pasien yang tertular oleh si pasien indeks itu berusia antara 5 tahun hingga 86 tahun.

“Pertemuan keluarga secara luas (pesta ulang tahun, pemakaman dan kebaktian gereja), yang semuanya terjadi sebelum kebijakan social distancing diterapkan, mungkin telah memfasilitasi penularan SARS-CoV-2 (nama teknis virus Corona-red) hingga keluar kontak rumah tangga ke dalam masyarakat yang lebih luas,” sebut CDC dalam penjelasannya.

Kisah super spreader ini menyoroti betapa menularnya virus Corona, meskipun para ilmuwan masih berusaha memahami bagaimana proses penularannya. Droplet pernapasan dari batuk atau bersin yang jatuh secara langsung ke seseorang atau dari sentuhan dengan permukaan terkontaminasi dianggap sebagai penyebab utama, namun kajian lebih luas menyebut seseorang yang terinfeksi bisa menularkannya melalui pernapasan atau dengan berbicara.

Terlebih, jumlah pasien terinfeksi tanpa gejala (asymptomatic) kini dilaporkan mencapai 25-50 persen, sehingga memperkuat argumen agar semua orang menutup wajah saat bepergian keluar.

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here