Presiden Donald Trump melakukan kampanye pemilhannya kembali saat pemakzulannya oleh DPR diputuskan. Trump mengatakan, Partai Demokrat melakukan tindakan bunuh diri. Foto: AP Rencana Demokrat menghadirkan saksi kunci gagal. REPUBLIKA.CO.ID, WASHINGTON -- Sidang pertama Senat tentang permakzulan Presiden Amerika Serikat (AS) Donald Trump diwarnai debat panjang sekitar 13 jam. Pada pukul 02.00 waktu AS, Rabu (22/1), Senat akhirnya menyetujui tata cara sidang pemakzulan dengan suara 53 banding 47 suara. Hakim Agung John Roberts membuka sidang ini dan bersumpah memberikan keadilan yang tak memihak. Sementara itu, anggota House of Representative bertindak sebagai jaksa dan tim hukum Trump. Sidang pembukaan ini berlangsung hingga larut malam. Para senator bertahan di tempat mereka sampai pukul 22.30 waktu setempat. Tidak ada telepon genggam atau perangkat elektronik yang boleh dinyalakan. Awalnya, Partai Republik meminta sidang dipadatkan dalam waktu dua hari untuk kedua belah pihak. Upaya ini tampaknya merupakan strategi untuk mempercepat proses sidang. Rencana ini langsung diprotes Partai Demokrat. Akhirnya, sidang dengar diperpanjang satu hari. Ketua Senat dari Partai Republik Mitch McConnell memberikan penawaran kepada Partai Demokrat untuk menggelar pemungutan suara lebih cepat. Namun, Ketua Senat dari Partai Demokrat Chuck Schumer menolaknya. Tidak ada kesepakatan yang berhasil diraih. \"Bukan tugas kami untuk membuat ini lebih mudah bagi Anda. Tugas kami adalah mempersulit upaya menghilangkan pengadilan yang adil untuk rakyat Amerika,\" kata Ketua Komite Intelijen House Adam Schiff yang memimpin jaksa dalam persidangan ini. Perubahan situasi ini menjadi langkah mundur bagi McConnell dan tim hukum Trump. Hal ini juga memperlihatkan adanya perpecahan di antara petinggi Partai Republik. Bukan tak mungkin gejolak internal ini menumbuhkan retak politik lebih dalam pada sidang pemakzulan yang ketiga kalinya sepanjang sejarah AS. Sementara itu, Demokrat mendesak lebih banyak saksi untuk dipanggil ke sidang demi mengungkapkan pelanggaran-pelanggaran yang dilakukan Trump. Namun, Partai Republik menolak permintaan Demokrat untuk meminta dokumen dari Gedung Putih, Departemen Luar Negeri, Departemen Pertahanan, dan kantor anggaran AS. Demokrat juga akan gagal untuk menghadirkan saksi kunci. Sebelumnya, mantan penasihat Keamanan Nasional (NSA) John Bolton menyatakan akan bersedia bersaksi jika diperintahkan pengadilan. Bolton dikenal sebagai orang terdekat Trump sebelum ia mengundurkan diri. Partai Republik memiliki 53 kursi, sementara Partai Demokrat hanya 47. Demokrat pun gagal memanggil Pelaksana Tugas Kepala Staf Gedung Putih Mick Mulvaney untuk bersaksi dalam persidangan. Sidang dilanjutkan pada Rabu. Dipenuhi tamu Gedung parlemen Capitol Hill dipenuhi tamu, salah satunya aktris dan aktivis Alyssa Milano. Sementara itu, sekutu-sekutu terdekat Trump duduk di kursi paling belakang. Tim hukum Trump tidak membantah tindakan Trump yang menahan bantuan militer dan meminta Ukraina menyelidiki kandidat calon presiden AS dari Partai Demokrat Joe Biden. Namun, menurut mereka, Presiden AS itu tidak melakukan pelanggaran apa pun. Sementara itu, Trump yang sedang berada di World Economic Forum di Davos, Swiss, menyempatkan diri untuk mencicit melalui Twitter. Ia menuliskan dalam hurup kapital, “READ THE TRANSCRIPTS!” atau diartikan, "Baca transkripnya!" Hal tersebut mengacu pada transkrip percakapan telepon Trump dengan Presiden Ukraina Volodymyr Zelenskiy. Percakapan itulah yang kemudian menggiring Trump pada sidang pemakzulan. n lintar satria/reuters/ap, ed: yeyen rostiyani Baca Juga Demokrat Tuduh Trump Lakukan Tindakan Korup Debat Kubu Demokrat dan Republik di Sidang Pemakzulan Trump Sidang Pemakzulan Trump, Demokrat Sampaikan Argumen Pembuka BACA JUGA: Update Berita-Berita Politik Persepektif Republika.co.id, Klik di Sini Komentar 0 Dapatkan Update Berita Republika Masukan Email Anda pemakzulan trump senat trump BERITA TERKAIT Menlu AS akan ke Ukraina dalam Waktu Dekat Presiden Komisi Eropa: "Kami Akan Bekerjasama dengan Presiden Trump" Debat Kubu Demokrat dan Republik di Sidang Pemakzulan Trump Trump akan Tambah Negara yang Dilarang Masuk Dokter yang Selidiki Wabah Virus Korona di China Terinfeksi KORPORASI Crazy Rich Surabaya Hermanto Tanoko Sukses Berkat Berbakti Kepada Sang Ayah Lowongan Kerja BUMN Terbaru 2020, Buruan Daftar! Garuda Jangan Ulangi Kesalahan Erick Minta Garuda Perbaiki Kinerja dan Citra BERITA LAINNYA KORPORASI Crazy Rich Surabaya Hermanto Tanoko Sukses Berkat Berbakti Kepada Sang Ayah Soetikno berbisnis toko cat yang dibesarkan dengan saudara tirinya, Suwandi Tanoko. POLITIK Jokowi Instruksikan TNI dan Polri Perkuat Pertahanan Negara Jokowi menegaskan, kedaulatan negara tak bisa ditawar. TIMUR TENGAH Pemerintahan Baru Lebanon Disambut Aksi Protes Lebanon mengumumkan pembentukan pemerintahan baru pada Selasa lalu AMERIKA Senat Setujui Tata Cara Sidang Trump Rencana Demokrat menghadirkan saksi kunci gagal. TIMUR TENGAH PBB: Ada Bukti Saudi Meretas Ponsel Bos Amazon Ponsel Bezos diretas melalui video yang dikirim akun Whatsapp Putra Mahkota Saudi. TERPOPULER Bandara di Tripoli Dihantam Roket Dunia Bersiap Hadapi Virus Wuhan Saudi Dukung Siprus dalam Sengketa Wilayah dengan Turki PBB: Ada Bukti Putra Mahkota Saudi Meretas Ponsel Bos Amazon Dubes Iran: Kami tak Ingin Perang AS Kecam Ancaman Iran Keluar dari Kesepakatan Nuklir WNI Kembali Diculik, Indonesia Kritik Malaysia Trump akan Tambah Negara yang Dilarang Masuk Wabah Virus Korona, Masker Terjual Habis di China Virus Wuhan Masuk ke Filipina-Taiwan NATO Anggap Turki Berperan Penting untuk Melawan ISIS Eks Kepala Interpol China Dipenjara Ponsel Bos Amazon Diduga Diretas Putra Mahkota Saudi Otoritas Pastikan Pawai Obor di Fukushima Aman dari Radiasi Maskapai Korsel Batalkan Penerbangan Pertama Rute Wuhan Bandara di Tripoli Dihantam Roket Dunia Bersiap Hadapi Virus Wuhan Saudi Dukung Siprus dalam Sengketa Wilayah dengan Turki PBB: Ada Bukti Putra Mahkota Saudi Meretas Ponsel Bos Amazon Dubes Iran: Kami tak Ingin Perang AS Kecam Ancaman Iran Keluar dari Kesepakatan Nuklir WNI Kembali Diculik, Indonesia Kritik Malaysia Trump akan Tambah Negara yang Dilarang Masuk Wabah Virus Korona, Masker Terjual Habis di China Virus Wuhan Masuk ke Filipina-Taiwan NATO Anggap Turki Berperan Penting untuk Melawan ISIS Eks Kepala Interpol China Dipenjara Ponsel Bos Amazon Diduga Diretas Putra Mahkota Saudi Otoritas Pastikan Pawai Obor di Fukushima Aman dari Radiasi Maskapai Korsel Batalkan Penerbangan Pertama Rute Wuhan Bandara di Tripoli Dihantam Roket Dunia Bersiap Hadapi Virus Wuhan Saudi Dukung Siprus dalam Sengketa Wilayah dengan Turki PBB: Ada Bukti Putra Mahkota Saudi Meretas Ponsel Bos Amazon Dubes Iran: Kami tak Ingin Perang AS Kecam Ancaman Iran Keluar dari Kesepakatan Nuklir WNI Kembali Diculik, Indonesia Kritik Malaysia Trump akan Tambah Negara yang Dilarang Masuk Wabah Virus Korona, Masker Terjual Habis di China Virus Wuhan Masuk ke Filipina-Taiwan NATO Anggap Turki Berperan Penting untuk Melawan ISIS Eks Kepala Interpol China Dipenjara Ponsel Bos Amazon Diduga Diretas Putra Mahkota Saudi Otoritas Pastikan Pawai Obor di Fukushima Aman dari Radiasi Maskapai Korsel Batalkan Penerbangan Pertama Rute Wuhan IN PICTURES 9 PHOTO Cegah Virus Korona, Bandara Soetta Perketat Pengawasan 5 PHOTO Kasus Me Miles: Sejumlah Pesohor Dipanggil Polda Jatim 5 PHOTO Lintas Ekbis: BNI Catat Laba Meningkat jadi Rp 15,38 Triliun 5 PHOTO Tiga Pekan Berlalu, Desa Ini Masih Ditimbun Material Longsor 6 PHOTO Berdiri Sejak 1920, Gamelan Bah Omo Ekspor ke Mancanegara 9 PHOTO Cegah Virus Korona, Bandara Soetta Perketat Pengawasan 5 PHOTO Kasus Me Miles: Sejumlah Pesohor Dipanggil Polda Jatim PrevNext 12345 POLITIK Dasco: RUU Cipta Lapangan Kerja Akomodasi Semua Kepentingan Yasonna Bukti Kekhawatiran Saat Menkumham Petugas Partai Pengusutan Kasus Jiwasraya tak Cukup Hanya Lewat Panja HUKUM Arsul Lega Romi tak Terbukti Terima Suap Harun Masiku Masih Bebas, KPK Kesulitan Menangkap? Kejakgung Pilah Barang Bukti Kasus Jiwasraya PENDIDIKAN Presensi Online Diterapkan, Rektor IPB Sambangi Ruang Kuliah Setelah 100 Tahun, ITB Akhirnya Punya Rektor Perempuan Kak Seto: Kepekaan Lingkungan Harus Ditingkatkan INFOGRAFIS UMUM 118 Ribu PNS Dipindah ke Ibu Kota Baru, Bagaimana Caranya? Joserizal Jurnalis, Keberanian Sang Pahlawan Kemanusiaan Ternak Harus Divaksin Antraks Agar tak Tulari Manu
INTERNASIONAL

Senat Setujui Tata Cara Sidang Trump

Rencana Demokrat menghadirkan saksi kunci gagal.

Kamis 23 Jan 2020, 10:43 WIB

REPUBLIKA.CO.ID, WASHINGTON — Sidang pertama Senat tentang permakzulan Presiden Amerika Serikat (AS) Donald Trump diwarnai debat panjang sekitar 13 jam. Pada pukul 02.00 waktu AS, Rabu (22/1), Senat akhirnya menyetujui tata cara sidang pemakzulan dengan suara 53 banding 47 suara.

Hakim Agung John Roberts membuka sidang ini dan bersumpah memberikan keadilan yang tak memihak. Sementara itu, anggota House of Representative bertindak sebagai jaksa dan tim hukum Trump.

Sidang pembukaan ini berlangsung hingga larut malam. Para senator bertahan di tempat mereka sampai pukul 22.30 waktu setempat. Tidak ada telepon genggam atau perangkat elektronik yang boleh dinyalakan.

Awalnya, Partai Republik meminta sidang dipadatkan dalam waktu dua hari untuk kedua belah pihak. Upaya ini tampaknya merupakan strategi untuk mempercepat proses sidang. Rencana ini langsung diprotes Partai Demokrat. Akhirnya, sidang dengar diperpanjang satu hari.

Ketua Senat dari Partai Republik Mitch McConnell memberikan penawaran kepada Partai Demokrat untuk menggelar pemungutan suara lebih cepat. Namun, Ketua Senat dari Partai Demokrat Chuck Schumer menolaknya. Tidak ada kesepakatan yang berhasil diraih.

\”Bukan tugas kami untuk membuat ini lebih mudah bagi Anda. Tugas kami adalah mempersulit upaya menghilangkan pengadilan yang adil untuk rakyat Amerika,\” kata Ketua Komite Intelijen House Adam Schiff yang memimpin jaksa dalam persidangan ini.

Perubahan situasi ini menjadi langkah mundur bagi McConnell dan tim hukum Trump. Hal ini juga memperlihatkan adanya perpecahan di antara petinggi Partai Republik. Bukan tak mungkin gejolak internal ini menumbuhkan retak politik lebih dalam pada sidang pemakzulan yang ketiga kalinya sepanjang sejarah AS.

Sementara itu, Demokrat mendesak lebih banyak saksi untuk dipanggil ke sidang demi mengungkapkan pelanggaran-pelanggaran yang dilakukan Trump. Namun, Partai Republik menolak permintaan Demokrat untuk meminta dokumen dari Gedung Putih, Departemen Luar Negeri, Departemen Pertahanan, dan kantor anggaran AS. Demokrat juga akan gagal untuk menghadirkan saksi kunci.

Sebelumnya, mantan penasihat Keamanan Nasional (NSA) John Bolton menyatakan akan bersedia bersaksi jika diperintahkan pengadilan. Bolton dikenal sebagai orang terdekat Trump sebelum ia mengundurkan diri.

Partai Republik memiliki 53 kursi, sementara Partai Demokrat hanya 47. Demokrat pun gagal memanggil Pelaksana Tugas Kepala Staf Gedung Putih Mick Mulvaney untuk bersaksi dalam persidangan. Sidang dilanjutkan pada Rabu.

Dipenuhi tamu

Gedung parlemen Capitol Hill dipenuhi tamu, salah satunya aktris dan aktivis Alyssa Milano. Sementara itu, sekutu-sekutu terdekat Trump duduk di kursi paling belakang.

Tim hukum Trump tidak membantah tindakan Trump yang menahan bantuan militer dan meminta Ukraina menyelidiki kandidat calon presiden AS dari Partai Demokrat Joe Biden. Namun, menurut mereka, Presiden AS itu tidak melakukan pelanggaran apa pun.

Sementara itu, Trump yang sedang berada di World Economic Forum di Davos, Swiss, menyempatkan diri untuk mencicit melalui Twitter. Ia menuliskan dalam hurup kapital, “READ THE TRANSCRIPTS!” atau diartikan, “Baca transkripnya!”

Hal tersebut mengacu pada transkrip percakapan telepon Trump dengan Presiden Ukraina Volodymyr Zelenskiy. Percakapan itulah yang kemudian menggiring Trump pada sidang pemakzulan. n lintar satria/reuters/ap, ed: yeyen rostiyani

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *