Kisah Pilu Penolakan Jenazah Perawat Corona di Semarang

0
42
Iustrasi. Foto: iStock

Tim Detikcom – detikNews

Sabtu, 11 Apr 2020 09:53 WIB

Semarang – Kisah pilu penolakan jenazah seorang perawat RSUP Kariadi Semarang terjadi di Kabupaten Semarang pada Kamis (9/4). Jenazah perawat perempuan yang positif Virus Corona atau COVID-19 itu ditolak saat akan dimakamkan di samping makam ayahnya di Kecamatan Ungaran Barat.

Perawat warga Susukan Kabupaten Semarang itu hendak dimakamkan di Tempat Pemakaman Umum (TPU) Siwarak, lingkungan Sewakul, Kelurahan Bandarjo, Kecamatan Ungaran Barat hari Kamis (9/4).

Humas Gugus Tugas Pencegahan COVID-19 Kabupaten Semarang, Alexander Gunawan mengatakan perawat RSUP dr Kariadi Semarang itu berstatus positif COVID-19.

“Memang tinggal di Susukan, keluarga besar dimakamkan di Sewakul, jadi minta di sebelah bapaknya, ada penolakan,” kata Alexander saat dihubungi detikcom, Jumat (10/4/2020).

Ketua DPW Persatuan Perawat Nasional Indonesia (PPNI) Jawa Tengah, Edy Wuryanto mengungkap, jenaah perawat itu akhirnya dibawa lagi ke Kota Semarang dan diputuskan untuk dimakamkan di kompleks Pemakaman dr Kariadi yang berada di kawasan TPU Bergota.

“Jadi akhirnya yang bersangkutan dimakamkan di makam keluarga dr Kariadi, pahlawan Nasional yang namanya diabadikan di RSUP dr Kariadi. Semalam jam 19.00 sampai 20.00-an, itu bukan kompleks makam umum tapi lokasinya RSUP dr Kariadi di Bergota,” kata Edy.

Edy mengatakan pihaknya menyayangkan penolakan terhadap perawat yang sudah berjuang di lini depan menangani Corona. Stigma negatif berlebihan tersebut menimbulkan kekecewaan.

Pria yang melakukan penolakan jenazah perawat postif Corona di Kabupaten Semarang mendapat cecaran di media sosial. Kini pria bernama Purbo itu meminta maaf terkait penolakan tersebut.

Permintaan maaf disampaikan Purbo di samping Ketua DPW PPNI Jawa Tengah, Edy Wuryanto, di kantor PPNI Jateng. Purbo yang merupakan Ketua RT 6 Dusun Sewakul, Bandarjo, Ungaran Barat, Kabupaten Semarang itu minta maaf kepada keluarga besar almarhumah.

“Saya minta maaf kepada keluarga besar almarhumah yang sempat tidak jadi dimakamkan di Sewakul. Secara pribadi menyesal, saya mohon maaf sekali,” kata Purbo, Jumat (10/4/2020).

Ia menjelaskan, selaku ketua RT ia hanya menampung aspirasi warga dan menyampaikan kepada perangkat desa.

“Saya tidak punya daya, itu aspirasi warga dan saya hanya kewajiban untuk koordinasi ke perangkat desa saja,” katanya.

“Saya atas nama pribadi dan juga mewakili masyarakat saya, mohon maaf atas kejadian kemarin. Saya juga meminta maaf kepada perawat seluruh Indonesia,” imbuhnya.

Gubernur Jawa Tengah, Ganjar Pranowo juga angkat bicara soal kejadian ini. Dia meminta maaf atas peristiwa tersebut dan meminta warganya mengedepankan rasa kemanusiaan di masa pandemi Virus Corona.

Ganjar menyatakan permintaan maafnya lewat video yang juga dia unggah di akun media sosial miliknya. Ia mengaku terkejut ketika dilapori soal penolakan jenazah perawat.

“Saya mendapatkan laporan yang mengejutkan, peristiwa yang membuat tatu ati (sakit hati). Sekelompok warga Ungaran menolak pemakaman pasien COVID-19. Ini kejadian kesekian kali. Dan saya mohon maaf, saya ingin kembali mengajak bapak ibu untuk ngrogoh rasa kamanungsan (memakai rasa kemanusiaan) yang kita miliki,” kata Ganjar, Jumat (10/4).

Ia juga kembali menjelaskan prosedur pengurusan jenazah pasien Corona yang syar’i dan sudah sesuai prosedur. Ganjar juga menyebut pesan ahli terkait virus yang akan mati ketika inangnya mati dan tidak bisa menjangkiti orang ketika sudah dikubur.

“Saya tegaskan sekali lagi kalau jenazah itu sudah dikubur, virusnya ikut mati di dalam tanah. Tidak bisa keluar dan menjangkiti warga. Majelis ulama pun sudah berfatwa bahwa mengurus jenazah itu wajib hukumnya, sementara menolak jenazah itu dosa. Karena itu saya berharap kejadian di Ungaran ini menjadi yang terakhir, jangan lagi ada penolakan jenazah apalagi seorang perawat,” jelasnya.

Ganjar berharap seluruh orang paham bahwa dokter, perawat dan tenaga medis adalah pahlawan kemanusiaan apalagi di masa pandemi karena mereka berani mengambil resiko yang membahayakan nyawa.

“Kepada perawat, dokter, tenaga medis, saya mewakili seluruh warga Jawa Tengah mengharap maaf dari panjenengan (Anda) semua, mari berjuang bersama-sama melawan Corona,” katanya.

“Dan kepada pihak-pihak yang mengurus jenazah pasien COVID-19 tolong sekali lagi tolong berkomunikasi dengan pemerintah desa dan tokoh masyarakat setempat. Kalau warga sudah paham saya yakin semua menerima dan mencegah berkembangnya isu yang tidak benar atau hoaks yang sering kali ini memecah belah masyarakat,” urai Ganjar.

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here