Kisah Dramatis Paramedis yang Bantu Korban Virus Corona di New York

0
55

BBC Magazine – detikNews

Rabu, 15 Apr 2020 07:33 WIB

New York –

Tim medis di New York kewalahan menangani lonjakan orang jatuh sakit akibat wabah virus corona. (Getty Images)

Seorang paramedis di New York menuturkan kisahnya membantu 12 orang dalam sehari yang tak bisa diselamatkan. Ia menggambarkan, orang-orang meninggal seperti bom diledakkan di kota.

Inilah kisah Anthony Almojera, paramedis di New York, Amerika Serikat, yang ikut membantu menangani orang-orang jatuh sakit di tengah wabah virus corona.

Almojera memulai tugas pada pukul 06:00 pagi dan ia bertugas selama 16 jam, yang membuatnya hanya punya waktu tidur lima jam saja.

Apa yang ia tuturkan ini terjadi pada hari Minggu, 5 April, yang ia gambarkan sebagai hari paling sulit selama kariernya sebagai paramedis.

Ia mengatakan wabah virus corona membuat dokter dan paramedis kewalahan. “Sejak tengah malam, kami menerima 1.500 telepon permintaan bantuan,” tuturnya.

Sumber daya terbatas, sementara permintaan bantuan melonjak sejak wabah menghajar kota.

Per hari mereka bisa menerima lebih dari 6.500 permintaan bantuan.

Sistem layanan darurat Kota New York adalah salah satu yang paling sibuk di dunia, setiap hari bisa menerima 4.000 telepon permintaan bantuan.

Seperti serangan 11 September 2001, setiap hari

Kadang ada kejadian luar biasa atau bencana besar di kota itu. Hari-hari tersibuk adalah ketika terjadi serangan 11 September pada 2001.

Pada hari ketika Menara Kembar diserang, layanan darurat menerima 6.400 permintaan bantuan.

Wabah virus corona membuat permintaan bantuan meningkat tajam menjadi lebih dari 6.500 dan itu terjadi setiap hari.

Berikut kisah Almojera seperti yang ia tuturkan kepada wartawan BBC Alice Cuddy.

Kami mencermati lonjakan kasus virus corona terjadi sejak 20 Maret. Namun dua hari kemudian, korban berjatuhan seakan-akan ada bom besar dijatuhkan di New York.

Ketika kasus meningkat tajam, sistem layanan kesehatan tidak siap. Kami bertanya ke diri kami sendiri, “Bagaimana mungkin kami akan bekerja dalam situasi seperti ini, dengan sumber daya yang terbatas?”

Pada akhirnya, pertanyaan ini kami kesampingkan, karena kami harus bekerja, apa pun situasinya.

Saat ini, sekitar 20% dari total staf medis tengah sakit. Sejumlah di antaranya terkena virus corona, yang lainnya menjalani perawatan intensif. Dua di antaranya harus dibantu dengan alat pernafasan.

Situasi ini membayangi pikiran ketika saya harus menangani panggilan darurat pertama.

Orang pertama yang saya tangani ini laki-laki.

Keluarganya mengatakan, ia demam dan batuk-batuk dalam lima hari terakhir. Ketika kami datang, ia kesulitan bernafas. Kami membantunya selama 30 menit sebelum ia menghembuskan nafasnya yang terakhir.

Setelah semuanya selesai, saya dan tim kembali ke mobil, membersihkan diri dan semua peralatan. Setelah itu, kami menekan tombol di alat kami, yang menandakan bahwa kami siap melaksanakan tugas berikutnya.

Dua puluh menit kemudian kami mendapat panggilan, lagi-lagi pasien yang mengalami masalah jantung.

Ia menunjukkan gejala yang sama, kami melakukan prosedur yang sama pula, dan ia juga tak bisa diselamatkan.

Virus corona menyerang paru-paru, yang berakibat pada tubuh kehilangan pasokan oksigen, yang pada akhirnya membuat organ-organ penting tak bisa berfungsi.

Saya tekan tombol, yang kemudian diikuti dengan panggilan darurat. Hasilnya sama: korban meninggal dunia.

Kejadian yang terus berulang sepanjang hari

Saya tekan tombol lagi, dan tak lama kemudian ada panggilan darurat. Kali ini orang yang kami tangani tak ada hubungannya dengan wabah virus corona. Ia meninggal karena bunuh diri.

Saya sedikit lega, untuk pertama kalinya dalam tugas saya hari ini, saya menangani kasus yang tak berhubungan dengan virus corona.

Hingga pukul 11:00 hari ini, saya telah menangani kasus henti jantung (cardiac arrest).

Di waktu normal, saya menangani kasus henti jantung antara dua hingga tiga per minggu. Memang, kadang bisa lebih, tapi apa yang saya alami pagi ini, tak pernah terjadi sebelumnya. Tak pernah terjadi sebelumnya.

Kasus yang ketujuh hari ini membuat saya terpukul.

Kami masuk ke rumah yang berada di lantai tujuh satu blok apartemen. Seorang perempuan sulit bernafas, anaknya mencoba menolong, tapi tak banyak membantu.

Sang anak mengatakan kepada kami bahwa ibunya “menunjukkan gejala terkena virus corona”.

Ibunya memang tidak menjalani tes, namun ia sangat yakin bahwa ibunya telah terkena virus.

Saya bertanya kepadanya, “Apakah kamu satu-satunya anggota keluarga di sini?” Ia menjawab iya. Ia mengatakan bahwa beberapa hari sebelumnya tim medis datang untuk menolong ayahnya.

Sang ayah punya gejala yang sama dan meninggal dunia.

Di salah satu kamar, tim medis mencoba menolong sang ibu. Saya berharap ia masih bisa diselamatkan.

Saya melihat wajah anaknya dan ia menunjukkan raut wajah yang sudah sangat familiar, setelah bekerja sebagai anggota tim medis dalam 17 tahun. Tatapan yang meminta saya menyampaikan kabar baik.

Mata dokter yang merawatnya mengatakan tidak.

Sekarang saya harus mengatakan kepadanya bahwa ia kehilangan kedua orang tua hanya dalam hitungan hari.

Ayahnya belum dimakamkan dan karenanya ia akan menghadiri dua pemakaman sekaligus. Itu pun kalau ia beruntung, ada prosedur pemakaman bagi ayah dan ibunya.

Saat ini pemerintah kota tidak melaksanakan prosedur pemakaman sebagaimana lazimnya.

Tim medis menyadari risiko yang mereka hadapi: mereka sendiri bisa terpapar virus, yang digambarkan sebagai ‘peluru yang tak terlihat’. (Getty Images)

Saya keluar apartemen, mencoba mencari udara segar. Kami duduk dan saya bisa merasakan seluruh anggota tim terpukul dengan kejadian di apartemen ini.

Kami, anggota tim medis dan dokter, memang biasanya tak membahas kasus. Tapi kami merasakan hal yang sama.

Kami menekan tombol lagi.

Kejadian yang sama terulang. Pada pukul 18:00 petang, saya mencatat telah menangani 10 kasus serangan jantung.

Yang terbaru terjadi di satu keluarga Asia, yang kehilangan sang paman.

Ada sepuluh orang di keluarga ini. Mereka meminta saya melakukan sesuatu, tapi sejujurnya sudah tak ada yang bisa saya lakukan. Rumah sakit tak akan menerima pasien, jika semua tanda-tanda kehidupan telah hilang.

Saya tak pernah menghadapi situasi seperti ini sebelumnya: situasi ini membuat kondisi emosi saya sangat tertekan.

Apa yang kita alami dan rasakan akan berada di pikiran kita selamanya, pengalaman itu tidak akan mudah kita lupakan.

Saya dan tim medis yang lain menuju pintu keluar dan kami disambut dengan udara dingin. Kami berpelukan untuk memberikan dukungan psikologis.

Kemudian kami menekan tombol, untuk mengirim tanda bahwa kami siap menjalankan tugas berikutnya.

Jam menunjukkan pukul 21:30 dan sekitar satu setengah jam lagi tugas hari ini akan berakhir. Kami menerima panggilan. Orang yang kami bantu, lagi-lagi, mengalami demam dan batuk-batuk selama beberapa hari.

Ini adalah kasus ke-12 saya. Dan saya harus mengabarkan kabar duka ke pihak keluarga: ia tak bisa diselamatkan.

Wabah virus corona telah mengubah banyak hal, termasuk interaksi antara tim medis dan anggota keluarga mereka. Kami berada di garis depan, membantu orang-orang yang sakit, yang membuat kami bisa terpapar virus kapan saja.

Ini membuat banyak rekan kerja saya yang harus tidur atau istirahat di mobil, karena mereka tidak ingin menularkan virus ke anggota keluarga yang lain,

Saya capek secara emosi. Saya sadar betul bahwa besok saya akan melaksanakan tugas selama 16 jam dan saya akan mengalami seperti yang saya alami hari ini.

Sebagai paramedis, saya terbiasa menghadapi pasien yang meninggal dunia dan saya akan mengatakan, “Mungkin pasien berikutnya bisa saya selamatkan.”

Tapi kondisinya sekarang lain. Kita berhadapan dengan virus, virus yang membunuh tidak hanya pasien, tapi juga pekerja medis, rekan kerja saya.

Catatan: semua pasien yang dibantu Anthony Almojera menunjukkan gejala terkena virus corona, namun tidak menjalani tes, sehingga mereka tidak dimasukkan ke dalam data resmi orang yang meninggal dunia akibat virus tersebut.

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here