PENDIDIKAN

Kepala MA Plus Nurul Ummah Ingatkan Pengurus OSIS: Jangan jadi “TukCing”!

Alfarobi – i60news

Selasa, 1 Sept 26 10.18 WIB

BOGOR, i60news-Menjadi pengurus OSIS bukan sekadar mendapatkan jabatan dan mengenakan atribut organisasi. Ada amanah, tanggung jawab, serta tuntutan untuk memberikan kontribusi nyata bagi lingkungan madrasah.

Pesan itulah yang ditekankan Kepala MA Plus Nurul Ummah Bogor, Yudi Saepul Rizal, M.Pd., saat membuka kegiatan Latihan Dasar Kepemimpinan Siswa (LDKS) OSIS Masa Bakti 2026-2027.

Mengusung tema “Membentuk Pemimpin Muda yang Berkarakter, Berintegritas, Disiplin dan Berjiwa Islami”, kegiatan LDKS diarahkan untuk membentuk pengurus OSIS yang tidak hanya memahami organisasi, tetapi juga memiliki karakter kepemimpinan dan kesiapan untuk bekerja nyata.

Dalam sambutannya, Kepala Madrasah meminta seluruh peserta LDKS mengikuti kegiatan secara aktif dan seius. Ia menegaskan, setiap divisi dalam kepengurusan OSIS harus mampu menyusun program kerja yang jelas, terarah, terukur dan memberikan manfaat bagi warga madrasah.

“Para siswa yang mengikuti LDKS hendaknya harus aktif. Semua divisi yang ada harus memiliki program yang terarah dan terukur sehingga dapat dirasakan oleh seluruh siswa, guru, staf tenaga kependidikan, dan juga stakeholders,” pesannya.

Jangan Sampai “TukCing”

Ada satu istilah unik yang disampaikan oleh Kepala Madrasah untuk menggambarkan fenomena yang harus dihindari para pengurus OSIS, yakni “TukCing”.

Istilah tersebut merupakan ungkapan bahasa Sunda, “dibentuk cicing”, yang secara sederhana menggambarkan seseorang yang setelah dibentuk dan dikukuhkan menjadi pengurus, justru diam, pasif, dan tidak menjalankan tugasnya.

Beliau mengingatkan, pengurus OSIS harus membuktikan bahwa amanah yang telah diberikan kepada mereka hendaknya benar-benar dilaksanakan denga baik.

Menurutnya, organisasi siswa akan memiliki makna apabila setiap pengurus mampu mengambil peran dan menghasilkan program yang benar-benar dirasakan manfaatnya oleh lingkungan madrasah.

Kepemimpinan Tak Cukup dengan Teori

Untuk memperkuat kapasitas para pengurus, LDKS membekali peserta dengan sejumlah materi penting, mulai dari Kepemimpinan Islami, Disiplin dan Tanggung Jawab, hingga Organisasi Manajemen.

Materi Kepemimpinan Islami serta Disiplin dan Tanggung Jawab disampaikan oleh Waka Kesiswaan MA Plus Nurul Ummah, Syarif H Gunawan, S.Ag. Sementara materi Organisasi dan Manajemen disampaikan oleh Dina Aulia, S.Pd.

Pembekalan tersebut diarahkan agar peserta memahami bahwa kepemimpinan bukan hanya kemampuan memberikan instruksi kepada orang lain. Seorang pemimpin juga dituntut mampu menjadi teladan, bertanggung jawab terhadap keputusan, mampu bekerja sama, serta memiliki integritas dalam menjalankan amanah.

Nilai-nilai tersebut menjadi semakin penting bagi pengurus OSIS karena mereka merupakan bagian dari wajah organisasi siswa dan salah satu representasi siswa di lingkungan madrasah.

Targetkan OSIS yang Aktif dan Berdampak

Waka Kesiswaan MA Plus Nurul Ummah, Syarif H. Gunawan, S.Ag., mengatakan bahwa LDKS diharapkan tidak berhenti pada kegiatan pelatihan semata. Pengetahuan dan keterampilan yang diperoleh peserta harus diterjemahkan dalam pelaksanaan tugas dan program kerja OSIS.

“Dengan bekal materi tersebut diharapkan siswa menjadi pemimpin yang amanah, jujur, disiplin, bertanggung jawab, mampu bekerja sama, dan memiliki keterampilan mengelola organisasi,” ujarnya.

Ia menambahkan, pembekalan melalui LDKS diharapkan dapat menjadi modal bagi pengurus OSIS dalam menjalankan organisasi secara lebih terarah dan profesioanl.

Syarif yang juga merupakan guru mata pelajaran bahasa Inggris itu berharap seluruh divisi OSIS mampu menyusun program kerja yang tidak hanya banyak secara kuantitas, tetapi juga memiliki tujuan yang jelas, indikator keberhasilan yang terukur, serta memberikan dampak positif bagi warga madrasah.

Membangun Pemimpin dari Lingkungan Madrasah

LDKS OSIS MA Plus Nurul Ummah Masa Bakti 2026-2027 pada akhirnya tidak hanya menjadi ruang mengenalkan struktur dan mekanisme organisasi kepada para pengurus.

Lebih jauh, kegiatan tersebut menjadi bagian dari proses kaderisasi pemimpin muda yang diharapkan memiliki karakter kuat, integritas, kedisplinan, tanggung jawab, kemampuan bekerja sama, dan nilai-nilai keislaman.

Para pengurus OSIS diharapkan mampu membuktikan bahwa mereka bukan sekedar nama yang tercantum dalam struktur kepengurusan. Mereka adalah siswa yang dipercaya untuk membawa organisasi bergerak, membuat program, menyelesaikan persoalan, dan memberikan kontribusi nyata.

Dengan semangat tersebut, pesan “jangan TukCing” menjadi pengingat bahwa sebuah kepemimpinan tidak berhenti pada saat dibentuk atau dilantik, tetapi justru dimulai ketika amanah itu diberikan.

(SAA)

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *