EKBIS

Jepang dan Inggris Masuk Jurang Resesi!

Shafira Cendra Arini – detikFinance
Jumat, 16 Feb 2024 06:00 WIB

Jakarta – Dua negara ekonomi besar dunia yakni Jepang dan Inggris telah masuk ke dalam jurang resesi. Perekonomian kedua negara tersebut sudah mengalami penyusutan selama dua kuartal berturut-turut sehingga secara masuk resesi teknis.
Melansir dari Reuters, Kamis (15/2/2024), pemerintah Jepang mencatat, Produk domestik bruto (PDB) turun 0,4% secara tahunan (year-on-year/yoy) pada periode Oktober-Desember 2023, setelah turun 3,3% pada kuartal sebelumnya.

Sebelumnya ekonom justru memperkirakan median pertumbuhannya akan ada kenaikan sebesar 1,4%. Sedangkan secara triwulanan, PDB turun 0,1% dibandingkan perkiraan median yang memperkirakan kenaikan 0,3%. Penyusutan ini terjadi akibat lemahnya permintaan domestik

Lemahnya kinerja ekonomi ini membuat Jepang kehilangan predikatnya sebagai negara dengan perekonomian terbesar ketiga di dunia, digantikan oleh Jerman. Kondisi ini juga menimbulkan keraguan terhadap bank sentral Jepang, Bank of Japan (BOJ), bahwa kenaikan upah akan mendukung konsumsi, serta membenarkan penghentian stimulus moneter besar-besaran secara bertahap.

“Ada risiko ekonomi akan menyusut lagi pada kuartal Januari-Maret karena melambatnya pertumbuhan global, lemahnya permintaan domestik dan dampak gempa Tahun Baru di Jepang bagian barat,” kata Kepala Ekonom di Credit Agricole, Takuji Aida.

“BoJ mungkin terpaksa menurunkan tajam perkiraan PDB-nya untuk tahun 2023 dan 2024,” tambahnya.

Inggris juga Masuk Jurang Resesi

Selain Jepang, Inggris juga secara teknis sudah masuk ke dalam jurang resesi. tercatat PDB negara ini mengalami penurunan sebesar 0,3% di kuartal IV-2023. Padahal sebelumnya perekonomian negara yang dipimpin Raja Charles ini sudah menyusut sebesar 0,1% antara Juli dan September (kuartal III-2024).

Meski belum ada pengumuman resmi dari pemerintah Inggris soal resesi, namun secara teknis negara ini sudah jatuh ke dalam jurang resesi. Sebab jika ekonomi sebuah negara tumbuh negatif dalam dua kuartal berturut artinya sudah masuk dalam kondisi resesi teknikal.

Jatuhnya Inggris ke dalam resesi ini tentu dapat meningkatkan tekanan pada Bank Sentral Inggris (Bank of England/BOE) untuk segera menurunkan suku bunga. Selain itu para pengusaha negara itu juga sudah meminta bantuan dari pemerintah agar bisa meningkatkan daya saing mereka saat ini.

“Pemerintah harus menggunakan anggarannya dalam waktu kurang dari tiga minggu untuk menetapkan jalur yang jelas bagi perusahaan dan perekonomian agar bisa tumbuh,” kata Alex Veitch selaku direktur kebijakan dan wawasan di Kamar Dagang Inggris.

Namun di sisi lain, Menteri Keuangan Jeremy Hunt mengatakan perekonomian Inggris saat ini mulai menunjukkan tanda-tanda mulai membaik. Karena itu menurutnya saat ini pemerintah masih harus tetap berpegang pada kebijakan pemotongan pajak untuk para pekerja dan usaha guna membangun perekonomian yang lebih kuat.

(shc/rrd)

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *