Jejak Fredrich Yunadi dari Drama ‘Bakpao’ hingga PK di Kasus Novanto

0
15
Fredrich Yunadi. (Foto: Grandyos Zafna)

Hestiana Dharmastuti – detikNews

Kamis, 22 Okt 2020 05:43 WIB

Jakarta – Fredrich Yunadi, terpidana merintangi penyidikan KPK atas Setya Novanto dalam kasus korupsi proyek e-KTP terus mencari keadilan. Setelah kasasi ditolak Mahkamah Agung (MA), mantan kuasa hukum Setya Novanto ini mengajukan peninjauan kembali (PK) ke Pengadilan Negeri (PN) Jakarta Pusat

Terbaru, Fredrich melalui kuasa hukumnya mengajukan PK ke PN Jakpus pada Jumat 16 Oktober 2020. PK itu diajukan setelah Mahkamah Agung menolak kasasi Fredrich Yunadi dan menggenapkan hukumannya menjadi 7,5 tahun penjara.

Rencananya, sidang PK rencananya bakal digelar pada Jumat, 23 Oktober 2020.

Berikut jejak Fredrich Yunadi dari drama ‘Bakpao’ hingga PK di kasus Novanto:

16 Oktober 2020

Fredrich mengajukan PK ke PN Jakarta Pusat setelah MA menolak kasasi Fredrich dan menggenapkan hukumannya menjadi 7,5 tahun penjara.

Dilihat detikcom, Rabu (21/10/2020), di situs Sistem Informasi Penelusuran Perkara Pengadilan Jakarta Pusat, sipp.pn-jakartapusat.go.id, Fredrich melalui kuasa hukumnya mengajukan PK ke PN Jakpus pada Jumat (16/10).

Sidang PK rencananya bakal digelar pada Jumat, 23 Oktober 2020.

Atas PK Fredrich, KPK siap menghadapinya.

“Tanggapan adanya permohonan PK oleh terpidana Fredrich, PK merupakan hak terpidana oleh karena itu silakan diajukan. Tentu nanti jaksa KPK juga akan memberikan pendapat terkait dalil dan alasan yang diajukan oleh pemohon PK,” kata Plt Jubir KPK, Ali Fikri, kepada wartawan, Rabu (21/10/2020).

Ali mengatakan KPK yakin majelis hakim Tipikor tingkat pertama sampai dengan Kasasi telah mempertimbangkan fakta-fakta dan alat bukti yang ada dalam menjatuhkan putusan. Untuk itu, ia berharap MA mempertimbangkan harapan publik agar ada putusan yang memberikan efek jera terhadap koruptor.

21 Maret 2019

MA menambah hukuman Fredrich selama 6 bulan penjara. Total, ia harus menghuni penjara selam 7,5 tahun. Duduk sebagai ketua majelis, hakim agung Salman Luthan, dengan anggota hakim agung Prof Dr Krisna Harahap dan hakim agung Syamsul Rakan Chaniago.

10 Oktober 2018

Pengadilan Tinggi (PT) Jakarta menguatkan vonis 7 tahun penjara ke Fredrich.

28 Juni 2018

Pengadilan Tipikor Jakarta menjatuhkan hukuman 7 tahun penjara kepada Fredrich.

31 Mei 2018

Fredrich dituntut 12 tahun penjara. KPK menyebut kesalahan Fredrich:

1. Fredrich membuat rencana Setya Novanto dirawat di rumah sakit agar tidak bisa diperiksa dalam kasus proyek e-KTP oleh penyidik KPK. Fredrich menghubungi dokter Bimanesh Sutarjo karena kliennya ingin dirawat di RS Medika Permata Hijau.

2. Fredrich meminta Bimanesh mengubah diagnosis hipertensi menjadi kecelakaan. Padahal Setya Novanto sebelumnya berada di gedung DPR dan kawasan Bogor.

Hal itu diakui dalam kesaksian Dokter Bimanesh Sutarjo. Ia mengaku awalnya dihubungi Fredrich Yunadi untuk merawat Setya Novanto dengan diagnosis hipertensi. Namun tiba-tiba Bimanesh mengaku diminta Fredrich mengganti skenario, yaitu Novanto mengalami kecelakaan.

“Saya sedang tidur, terbangun dering telepon terdakwa, sore pukul 17.50 WIB ditelepon, (Fredrich bilang) ‘Dok, skenario kecelakaan’,” ucap Bimanesh.

9 Februari 2018

Fredrich duduk di kursi pesakitan.

Fredrich Yunadi didakwa merintangi penyidikan KPK atas Setya Novanto dalam kasus dugaan korupsi proyek e-KTP. Fredrich diduga bekerja sama dengan dr Bimanesh Sutarjo merekayasa sakitnya Novanto.

13 Januari 2018

Fredrich ditahan KPK.https://tpc.googlesyndication.com/safeframe/1-0-37/html/container.html

10 Januari 2018

Fredrich merupakan mantan kuasa hukum Setya Novanto yang ditetapkan tersangka karena diduga menghalangi penyidikan kasus dugaan korupsi proyek e-KTP dengan tersangka Novanto.

Dia ditetapkan KPK sebagai tersangka bersama dokter Bimanesh Sutarjo. Keduanya dijadikan tersangka karena diduga merekayasa agar Novanto dirawat inap di RS Medika Permata Hijau. Tujuannya untuk menghindarkan Novanto dari pemeriksaan KPK.

17 November 2017

Tim KPK mendapatkan kabar bila Novanto akan memenuhi panggilan di KPK. Tiba-tiba pada malam harinya, Novanto dikabarkan mengalami kecelakaan.

Mobil yang ditumpanginya menabrak tiang lampu. Mantan Ketua Umum Partai Golkar itu pun dilarikan ke rumah sakit yang tak lain adalah RS Medika Permata Hijau. Salah satunya, Fredrich mengaku kliennya mengalami luka parah, ada benjolan sebesar bakpao di kepala Novanto.

Banyak kejanggalan di kasus kecelakaan itu sehingga KPK menyelidikinya.

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here