Rahel Narda Chaterine – detikNews
Rabu, 21 Okt 2020 16:13 WIB
Jakarta – Sejumlah pengamat di negeri China menilai kunjungan Perdana Menteri (MPM) Jepang Yoshihide Suga ke Indonesia untuk bertemu dengan Presiden Joko Widodo (Jokowi) sebagai ancaman. Komisi I DPR RI mengatakan tak perlu ada kekhawatiran dari lawatan PM Jepang itu.
“Hal tersebut bukan pandangan China sebagai negara, bukan disampaikan oleh pemerintah China namun sebagai pengamat, sah-sah saja penilaian pengamat,” kata Ketua Komisi I DPR RI, Meutya Hafid kepada wartawan, Rabu (21/10/2020).
Meutya mengatakan tidak perlu ada yang dikhawatirkan dari pertemuan Indonesia dan Jepang kemarin. Politikus Partai Golkar itu menjelaskan kedua negara telah berelasi dan melakukan kerja sama sejak lama.
“Jepang dan Indonesia sudah kawan lama sejak dulu. Jadi tidak perlu ada yang dikhawatirkan. Ini di masa penuh tantangan seperti ini sudah sepatutnya negara-negara baik secara multilateral maupun bilateral mengintensifkan komunikasi dan kerjasama. Apalagi dengan kawan sendiri,” jelas Meutya.
Lebih lanjut, Komisi I DPR RI berharap kerja sama Indonesia dengan Jepang dapat mendorong kawasan Indo-Pasifik menjadi wilayah yang lebih stabil. Khususnya dalam kaitannya dengan penegakan hukum laut internasional.
“Selain kerja sama ekonomi, DPR juga harapkan kerjasama dengan Jepang dapat mendorong Indonesia pasifik menjadi kawasan yang lebih stabil misalnya kerja sama dalam penegakan hukum, termasuk hukum laut internasional,” ujar Meutya.
Sebelumnya, PM Jepang Yoshihide Suga bertemu dengan Presiden Jokowi disepakati untuk melanjutkan kerjasama di berbagai bidang, terutama kesehatan, keamanan, dan ekonomi. Dalam pertemuan, Selasa (20/10), salah satu kesepakatan yang dicapai oleh dua pemimpin negara itu adalah mempercepat pembahasan ekspor senjata dan teknologi militer dari Jepang ke Indonesia.
Namun, sejumlah pengamat di China mengatakan kunjungan PM Suga ke Vietnam dan Indonesia menandakan jika Jepang secara aktif mulai membantu dan memastikan strategi Indo-Pasifik untuk menahan pengaruh China di kawasan Asia Tenggara.
Media milik Partai Komunis China, The Global Times, melaporkan para pengamat juga mengkhawatirkan jika kesepakatan yang dibuat oleh Jepang di Asia Tenggara justru akan mengancam stabilitas perdamaian di kawasan.
The Global Time mengutip pernyataan Da Zhigang, direktur dan peneliti dari Institute of Northeast Asian Studies di Heilongjiang Provincial Academy of Social Sciences yang mengatakan kesepakatan militer malah akan meningkatkan kesulitan untuk mencapai konsensus multilateral atas sengketa Laut China Selatan.



