Cerita Dosen Unpad yang Tengah Belajar di Lima Negara Terjangkit COVID-19

0
33
Foto: Ilustrasi Corona

Siti Fatimah – detikNews

Sabtu, 18 Apr 2020 11:23 WIB

Bandung – Virus Corona atau COVID-19 telah menginfeksi 2,24 juta orang di 185 negara per 18 April. Berbagai upaya telah dilakukan setiap negara, mulai dari tes cepat (rapid test) sebagai skrining awal penderita corona hingga mengunci diri (lockdown).

Beberapa dosen Universitas Padjajaran (Unpad) yang tengah menyelesaikan studi berbagi cerita mengenai penanganan COVID-19 di negeri perantauannya. Ada yang di Jerman dan Korea Selatan yang saat ini dianggap sukses mencegah penyebaran COVID-19, Belanda dan Inggris juga Portugal.

Salah satu Dosen Fakultas Matematika dan Ilmu Pengetahuan Alam (FMIPA) Unpad Yudha Prawira Budiman yang saat ini berada di Jerman menceritakan awal mula kasus COVID-19 di Jerman dan penanganan yang dilakukan oleh pemerintah setempat.

“Kasus pertama 2 Februari 2020 di Muenchen, seorang perempuan yang melakukan perjalanan dari Shanghai ke Jerman kemudian ke Shanghai lagi. Ia tidak memiliki gejala (Asymptomatic),” katanya saat bincang ‘Dongeng COVID-19 dari Perantauan’ yang diselenggarakan Dosen Tetap Non PNS Unpad melalui aplikasi Zoom, Jumat (18/4/2020) malam.

Yudha mengatakan sebanyak 1,7 juta orang di Jerman melakukan tes masif, di mana angka yang terinfeksi 137.698 dengan kematian 4.052 (persentase kematian 3%) dan pasien sembuh 77 ribu (persentase sembuh 55,9%) dengan kasus aktif 56.646 (persentase aktif 41,1%).

“Jumlah tes yang masif dari Jerman membuat tingkat kematian di Jerman sedikit. Dtambah dengan kebijakan lockdown pada 23 Maret 2020. Beberapa kebijakan seperti physical distancing minimal satu setengah meter diterapkan dengan sanksi denda 250 sampai 500 euro, jika mengadakan party denda 2.500 euro,” terangnya.

“Sempat terjadi panic buying di supermarket namun hingga saat ini kebutuhan pokok masih terpenuhi, 99 persen warga Jerman setuju dengan kebijakan yang dibuat pemerintah hingga lockdown sudah diringankan saja masyarakat tetap meminta agar lockdown hingga COVID-19 benar-benar hilang,” tambah Yudha.

Lain halnya di Inggris Raya, Ikram Nur Muharram menuturkan kasus pertama terjadi 30 Januari dan pemerintah setempat hanya memberi pengumuman bagi warganya yang selesai melakukan perjalanan dari Wuhan harus isolasi selama dua minggu.

“Lockdown 23 Maret pada saat itu yang terinfeksi 6.650 dengan angka kematian 335 jiwa. Saat ini lockdown sudah diperpanjang,” kata Ikram.

Dia mengatakan di Inggris Raya kapasitas pengetesan setiap harinya sudah 15 ribu orang. “Semua kebijakan di UK terstruktur, untuk menambah dokter dan perawat yang sudah pensiun direkrut untu bekerja kembali, mahasiswa tingkat akhir juga direkrut untuk menambah tenaga kesehatan,” tambahnya.

Di bagian negara lain, Portugal dengan kultur yang tidak jauh berbeda di Indonesia yaitu gemar bersosialisasi juga terdampak COVID-19. Dosen Fakultas Ekonomi dan Bisnis Unpad Nabila As’ad yang saat ini ada di Kota Porto, Portugal berbagi cerita pengamatannya mengenai COVID-19 di sana.

“Portugal memiliki kasus COVID-19 di angka 19.022, 25.456 di antaranya ODP dan 1.284 orang dirawat.” Kata Nabila.

Menurutnya, angka kasus virus corona di Portugal jauh berbeda dibanding di negara tetangga karena informasi terkait dibuka secara transparan. Ditambah, kata dia, ada portal Kemenkes Portugal yang menjelaskan perkembangan COVID-19 di Portugal.

“Pemerintah Portugal saat ini membelakukan state of emergency yang diperpanjang hingga 1 Mei 2020, dan memberikan hak tinggal bagi imigran yang statusnya tidak jelas,” tambahnya.

Berpindah ke Belanda, ada Dosen Ilmu Kedokteran Dasar FK Unpad Rima Destya Triatin yang saat ini tinggal di Kota Nijmegen Belanda. Dia menuturkan sebagian besar pusat populasi berada di Amsterdam dan Rotterdam.

“Pemerintah membuat guide lines yang sangat detail. Jadi panduannya masyarakat harus tetap di rumah sesering mungkin, jaga jarak satu setengah meter. Sama seperti di Jerman, di Belanda denda 390 euro jika melanggar jaga jarak.” Kata Rima.

“Kalau melanggar di toko bahkan diukur satu setengah meter segimana. Disarankan stay at home, keluar untuk berbelanja. Sebetulnya bermain di taman boleh, tapi untuk orang dewasa dua orang maka dia harus berjarak satu setengah meter. Kalau kurang dari satu setengah meter dia akan didenda,” tambahnya.

Rima menambahkan, saat ini di Belanda ada sekitar 150 ribu orang di tes cepat. Diketahui 29 ribu positif dan yang dirawat 9 ribu dengan angka kematian 3 ribu.

Beralih ke salah satu negara yang menjadi contoh drive thru tes masif di Indonesia yaitu Korea Selatan. Dosen Fakultas Perikanan dan Kelautan Unpad Irfan Zidni bercerita mengenai keberhasilan penanganan COVID-19 di Korsel dilihat dari kemampuan dalam menggunakan teknologi informasi dan partisipasi masyarakat yang sangat tinggi.

“Kasus pertama ada orang tiongkok dari Wuhan ke Korea. Saat itu Korea belum siap, pemerintah antara 20 Februari sampai 20 Maret ada 30 orang yg positif.” Kata Irfan saat menceritakan kasus pertama yang terjadi di Korea Selatan.

Lebih lanjut, dia bercerita saat kondisi wabah di Korsel meningkat. “Yang membludak dari kasus ke 31, orang itu tidak mau tidak jujur dia sudah ada tanda-tanda korona, disarankan oleh dokter untuk cek tapi tidak mau. Pemerintah langsung memeriksa perjalanan. Dan luar biasanya dia adalah salah satu jamaah keagamaan yang aktif. Yang dilakukan pemerintah menaikkan level normal, waspada, sampai awas.” Tambahnya.

“Korea Selatan tidak memberlakukan lockdown, setiap pagi di televisi pemerintah (melalui Gubernur dan Wali Kota kalau di Indonesia) memberikan informasi harian untuk mencegah adanya hoax. Kemudian melakukan cek kesehatan drive thru di beberapa tempat dan membuat hukuman bagi yang melanggar aturan pemerintah,” jelas Irfan.

Kebijakan-kebijakan Pemerintah Korea dianggapnya sudah sangat tepat, kata Irfan, mulai dari pengurangan ekspor masker ke beberapa negara dan memusatkan ke Korea hingga menurunkan bunga pinjaman di bank dan menurunkan harga sewa bagi fasilitas lain.

“Dari sistem informasinya, mereka menyediakan aplikasi yang bisa mendeteksi tempat menjual masker terdekat, orang yang terinfeksi, dan update data setiap harinya.” pungkasnya.

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here