INDUSTRI

AS di Ujung Jurang Resesi

Herdi Alif Al Hikam – detikFinance
Rabu, 27 Apr 2022 10:43 WIB

Jakarta – Amerika Serikat (AS) diprediksi bakal tenggelam dalam jurang resesi tahun ini. Peringatan itu datang dari Deutsche Bank.
Peringatan akan penurunan pertumbuhan ekonomi yang lebih lambat disebabkan oleh upaya Federal Reserve untuk menurunkan inflasi yang sangat tinggi dengan menaikkan suku bunga. “Kita (AS) akan mengalami resesi besar,” tulis ekonom Deutsche Bank dalam laporan kepada kliennya dilansir dari CNN, Rabu (27/4/2022).

Menurut Deutsche Bank, saat inflasi mungkin akan memuncak dan itu akan memakan waktu lama sebelum kembali ke tujuan The Fed sebesar 2%. Dengan begitu, kemungkinan bank sentral akan menaikkan suku bunga secara agresif, sehingga merugikan perekonomian.

“Kami menganggapnya sangat mungkin bahwa The Fed (Federal Reserve) harus menginjak rem lebih kuat, dan resesi yang dalam akan terjadi,” tulis ekonom Deutsche Bank dalam laporannya.

Untuk membuktikan seberapa besar resesi akan terjadi, Deutsche Bank membuat indeks yang melacak jarak antara inflasi dan pengangguran selama 60 tahun terakhir.

“Sejarah menunjukkan The Fed tidak pernah dapat memperbaiki inflasi dan lapangan kerja yang lebih kecil lagi tanpa mendorong ekonomi ke dalam resesi yang signifikan,” tulis analisa Deutsche Bank.

Kabar baiknya adalah bahwa Deutsche Bank melihat ekonomi rebound pada pertengahan 2024 karena The Fed membalikkan arah dalam pertarungan inflasinya.

Senada dengan Deutsche Bank, Goldman Sachs mengakui resesi ada di depan mata negeri Paman Sam. Akan sangat menantang dan sulit untuk menurunkan inflasi tinggi serta pertumbuhan upah tanpa menghindari resesi.

“Kita memang tidak membutuhkan dan mengharapkan resesi, tetapi ekonomi mungkin perlu momentum pertumbuhan melambat. Jalur itu lah yang meningkatkan risiko resesi,” tulis ekonom Goldman Sachs dalam sebuah laporan.

Deutsche Bank mengatakan faktor terpenting di balik pandangannya yang lebih negatif adalah kemungkinan inflasi akan tetap terus meningkat lebih lama dari yang diperkirakan secara umum.
Mereka mengatakan beberapa perkembangan akan berkontribusi pada inflasi yang lebih tinggi dari yang ditakuti. Mulai dari perubahan iklim, gangguan rantai pasokan lebih lanjut yang disebabkan oleh perang di Ukraina dan penguncian COVID di China, hingga peningkatan ekspektasi inflasi yang akan datang.

“Momok inflasi telah timbul dan kembali muncul, mereka akan tetap ada,” kata Deutsche Bank.

Jika inflasi tetap tinggi, The Fed akan dipaksa untuk mempertimbangkan kenaikan suku bunga yang lebih dramatis. The Fed menaikkan suku bunga seperempat poin persentase pada bulan Maret dan Gubernur The Fed Jerome Powell mengakui pekan lalu bahwa kenaikan setengah poin akan terjadi lagi.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *