Alarm IDI soal Gelombang 3 RI, Waspada Resepsi hingga Makan di Mal dan Resto

0
26

Minggu, 14 Nov 2021 08:00 WIB

Nafilah Sri Sagita K – detikHealth

Jakarta – Ketua Satgas COVID-19 Ikatan Dokter Indonesia Prof Zubairi Djoerban mengingatkan potensi terjadinya gelombang ketiga Corona di Indonesia. Terlebih di tengah munculnya klaster baru hingga risiko masuk Corona ‘Delta Plus’ AY.4.2 yang sudah ditemukan di Malaysia.
Menurut dia, subvarian Delta AY.4.2 memiliki penularan lebih cepat dari varian Delta ‘asli’ dan bisa bertahan lebih lama hingga 2 minggu. Karenanya, meski aturan wajib karantina dipangkas menjadi 3 hari, masyarakat diimbau untuk selalu waspada.

Belakangan, klaster takziah hingga sekolah juga beberapa kali dilaporkan.

“Jadi tolong jangan euphoria, jangan berlebihan bergembira, tolong tetap kita waspada, apalagi sebentar lagi ada libur panjang Natal dan Tahun Baru,” beber Zubariri dalam Webinar Kesehatan Nasional di PKSTV, Sabtu (13/11/2021).

Tren peningkatan kasus Corona ‘Delta Plus’ AY.4.2 juga terlihat signifikan di Inggris, tercatat 11 persen dari kasus yang dilaporkan, semula hanya 5 persen. Peningkatan kasus di sejumlah negara Eropa hingga tetangga kembali terlihat, sehingga Indonesia berisiko mengalami hal serupa jika tak serius menerapkan protokol kesehatan.

Pernah tertinggi di dunia
Meski begitu, kasus mingguan Corona di Indonesia sudah jauh menurun dibandingkan saat puncak kasus Juli lalu.

“Indonesia yang pernah ranking 1 kasus kematian dan harian sekarang bisa turun drastis. 15 Juli lalu pernah 54 ribu itu amat stres, dan yang meninggal sehari lebih dari 2 ribu pada bulan Agustus,” kata dia.

“Kita amat sangat bersyukur bahwa kondisi Indonesia amat melandai, dalam kasus mingguan maupun kasus harian turun terus sampai nomor 70,” beber dia sembari mengingatkan kehati-hatian lonjakan kasus.

Di sisi lain, mobilitas di penerapan PPKM level 1 juga meningkat. Termasuk banyaknya acara yang mulai kembali digelar.

“Dan kemudian banyak sekali undangan pernikahan akhir-akhir ini, di mal hingga restoran juga wajib hati-hati, jadi tempat yang berisiko,” pungkas Prof Zubairi.

Baca artikel detikHealth, “Alarm IDI soal Gelombang 3 RI, Waspada Resepsi hingga Makan di Mal dan Resto” selengkapnya https://health.detik.com/berita-detikhealth/d-5810441/alarm-idi-soal-gelombang-3-ri-waspada-resepsi-hingga-makan-di-mal-dan-resto.

Tren peningkatan kasus Corona ‘Delta Plus’ AY.4.2 juga terlihat signifikan di Inggris, tercatat 11 persen dari kasus yang dilaporkan, semula hanya 5 persen. Peningkatan kasus di sejumlah negara Eropa hingga tetangga kembali terlihat, sehingga Indonesia berisiko mengalami hal serupa jika tak serius menerapkan protokol kesehatan.

Pernah tertinggi di dunia

Meski begitu, kasus mingguan Corona di Indonesia sudah jauh menurun dibandingkan saat puncak kasus Juli lalu.

“Indonesia yang pernah ranking 1 kasus kematian dan harian sekarang bisa turun drastis. 15 Juli lalu pernah 54 ribu itu amat stres, dan yang meninggal sehari lebih dari 2 ribu pada bulan Agustus,” kata dia.

“Kita amat sangat bersyukur bahwa kondisi Indonesia amat melandai, dalam kasus mingguan maupun kasus harian turun terus sampai nomor 70,” beber dia sembari mengingatkan kehati-hatian lonjakan kasus.

Di sisi lain, mobilitas di penerapan PPKM level 1 juga meningkat. Termasuk banyaknya acara yang mulai kembali digelar.

“Dan kemudian banyak sekali undangan pernikahan akhir-akhir ini, di mal hingga restoran juga wajib hati-hati, jadi tempat yang berisiko,” pungkas Prof Zubairi.

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here