Teori Corona Tak Tahan Panas Kembali Dapat Sanggahan

0
63
Foto: Ilustrasi Corona. (Edi Wahyono-detikcom)

Tim detikcom – detikNews

Jumat, 10 Apr 2020 08:42 WIB

Jakarta – Anggapan bahwa virus Corona akan mati di tengah cuaca yang panas kembali dapat sanggahan dari ilmuwan. Sang ilmuwan menegaskan pembatasan sosial dan upaya lainnya harus dilakukan, bukan bergantung pada cuaca.

Ilmuwan membantah hal itu dan menyurati Gedung Putih. Dilansir CNN, Kamis (9/4/2020), dalam surat yang dikirimkan ke Gedung Putih, National Academy of Science (NAS) committee atau Komite Akademi Ilmu Pengetahuan Nasional mengatakan data tercampur tentang apakah virus corona menyebar dengan mudah dalam cuaca hangat seperti halnya dalam cuaca dingin. Tetapi itu dianggap tidak terlalu penting mengingat begitu sedikit orang di dunia kebal terhadap virus Corona.

“Ada beberapa bukti yang menunjukkan bahwa (Coronavirus) menular kurang efisien di suhu dengan kelembaban tinggi. Tapi, mengingat kurangnya imunitas secara global, pengurangan penularan ini tidak akan signifikan tanpa adanya intervensi kesehatan masyarakat secara bersamaan” bunyi surat tersebut.

Surat itu mencatat, sebagai contoh, sebuah studi pandemi Corona di China menunjukkan bahwa meski di bawah cuaca dengan temperatur tinggi juga kondisi lembap, virus tetap menyebar secara berlipat ganda, di mana setiap satu orang yang positif bisa menularkan dua orang lainnya.

“Meski kita berharap cuaca bisa memberikan kontribusi pada hilangnya virus ini, kita tak bisa menggantungkannya pada itu saja. Kita tetap harus melakukan pembatasan sosial dan upaya lainnya,” Sementara itu Dr William Schaffner, spesialis Penyakit Infeksi di Pusat Kesehatan Universitas Vanderbilt yang bukan anggota NAS.

Panasnya cuaca bisa membunuh Corona adalah mitos di era pagebluk ini. Begitulah kesimpulan sementara dari berdasarkan kajian sains. Sains maju karena perubahan tanpa henti, melalui falsifikasi satu ke falsifikasi lainnya. Bukan tidak mungkin kebenaran sains hari ini bisa berubah lagi di hari berikutnya. Namun setidaknya, kesimpulan bahwa virus Corona tidak bisa mati oleh panas sinar matahari disampaikan oleh Organisasi Kesehatan Dunia (WHO).

“Menjemur diri Anda di bawah matahari atau suhu yang lebih tinggi dari 25 derajat Celcius tidak mencegah penyakit akibat virus Corona (COVID-19),” demikian tertulis dalam ‘Myth busters’ situs resmi WHO, sebagaimana diberitakan kembali oleh detikcom, Jumat (3/4)

Dijelaskan WHO, COVID-19 bisa menjangkiti diri Anda tanpa peduli seterik apapun dan sepanas apapun cuacanya. Negara-negara dengan cuaca panas telah melaporkan kasus COVID-19. Maka untuk melindungi diri Anda dari COVID-19, pastikan bahwa tangan Anda bersih dengan cara sering mencucinya, hindari pula menyentuh mata, mulut, dan hidung.

“Dari bukti sejauh ini, COVID-19 dapat menyebar di semua wilayah, termasuk wilayah dengan cuaca panas dan lembap. Terlepas dari iklim, terapkanlah langkah perlindungan di tempat Anda tinggal atau di tempat yang dilaporkan terjadi COVID-19. Cara terbaik untuk melindungi diri Anda dari COVID-19 adalah dengan membersihkan tangan Anda secara sering,” kata WHO.

Paparan sinar ultaviolet dari lampu UV juga tidak bisa mensterilkan tangan atau kulit Anda. Malahan, paparan lampu UV bisa membuat iritasi kulit. Mandi air hangat juga tidak mencegah penularan COVID-19. Bagaimanapun suhu air yang digunakan untuk mandi, suhu tubuh manusia normal bakal tetap berkisar antara 36,5 derajat Celcius hingga 37 derajat Celcius. Mandi dengan air yang sangat panas bisa melukai tubuh dan membakar.

Presiden Amerika Serikat (AS) Donald Trump sempat menyatakan optimismenya pada 11 Februari 2020, saat itu jumlah kematian akibat virus Corona di AS belum sebanyak sekarang, COVID-19 juga belum ditetapkan WHO sebagai pandemi global. Saat itu, Trump yakin penyakit akibat SARS-CoV-2 itu bakal lenyap oleh panas di bulan April.

“Virus… biasanya akan hilang di April,” kata Trump seperti dikutip dari AFP, Selasa (11/2/2020).

“Panas, secara umum, membunuh virus semacam ini,” dia menambahkan.

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here