Pneumonia Misterius di China Bikin Trauma, Pakar Bersiap Kemungkinan Terburuk

0
24

Vidya Pinandhita – detikHealth
Jumat, 01 Des 2023 14:31 WIB

Jakarta – China kini diterpa lonjakan kasus penyakit pernapasan pneumonia ‘misterius’ yang marak menyerang anak-anak. Menyusul itu, praktisi kesehatan mengeluarkan peringatan potensi wabah di Eropa yang disebutnya mirip dengan pneumonia yang kini merebak di China.
Imbas penyakit misterius tersebut, rumah sakit di China kewalahan menangani melonjaknya jumlah pasien anak. Sekolah-sekolah pun ditutup. Kini muncul kekhawatiran, bahwa wabah tersebut telah merembet ke Eropa lantaran Belanda tiba-tiba ikut melaporkan lonjakan kasus pneumonia pada anak-anak.

Dokter spesialis penyakit menular, dr Joseph Ambani, menegaskan Eropa kini perlu meningkatkan tindakan pencegahan. Sebab menurutnya, kesiapan sistem layanan kesehatan untuk menangani wabah tersebut kini ‘terabaikan’.

Menurutnya, hingga kini pihaknya belum cukup mengetahui secara jelas perihal penyakit pernapasan yang ‘mengkhawatirkan’ itu. Ia menekankan, sistem layanan kesehatan Eropa harus bersiap menghadapi kemungkinan terburuk.

“(Memahami) apakah itu virus baru atau mutasi dari virus yang sudah ada sangatlah penting. Pengetahuan ini membentuk prediksi kita tentang penyebaran dan virulensinya. Jika itu adalah virus baru, kita akan mencoba menyelidikinya,” jelasnya dikutip dari Mirror News UK, Jumat (1/12/2023).

“Hal yang tidak diketahui, dengan potensi virulensi yang lebih tinggi dan kurangnya kekebalan pada populasi,” ujar dr Ambani lebih lanjut.

Sejauh ini, China mengklaim bahwa penyakit pernapasan yang merebak kini disebabkan oleh infeksi bakteri, RSV, influenza, dan virus flu biasa. Namun melihat penyakitnya terus merebak kini di kelompok anak-anak, muncul kekhawatiran bahwa tingkat keparahan penyakit ini cenderung terabaikan.

dr Ambani menyebut, ada tantangan besar lantaran penyebab dan penyebaran penyakit ini masih tidak diketahui secara pasti. Ditegaskannya, sistem layanan kesehatan Eropa harus bersiap menghadapi lonjakan kasus infeksi ini.

“Eropa tidak hanya harus meningkatkan pengawasan tetapi juga memastikan infrastruktur layanan kesehatan mulai dari ICU hingga layanan kesehatan primer dilengkapi untuk menangani potensi lonjakan kasus. Kesiapsiagaan ini mencakup penimbunan pasokan medis penting dan pelatihan profesional layanan kesehatan dalam manajemen epidemi,” pungkasnya.

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here