Pembatasan Orang Masuk, Kapal Swasta Samarinda-Parepare Setop Operasi

0
42
Pelabuhan Samarinda (Suriyatman/detikcom)

Suriyatman – detikNews

Kamis, 09 Apr 2020 16:10 WIB

Samarinda – Dampak pembatasan masuk orang membuat operator pelayaran swasta yang melayani rute Samarinda (Kalimantan Timur)-Parepare (Sulawesi Selatan) menghentikan operasional pelayaran mulai hari ini. Tiga kapal laut rute Samarinda-Parepare dan sebaliknya, yakni KM Adhitiya, KM Prince Soya, dan KM Queen Soya, berhenti beroperasi.

“Kami sudah sepakat untuk berhenti beroperasi mulai hari ini, karena biaya yang kami keluarkan sudah tidak sebanding dengan jumlah operasional kapal,” kata Haji Saraping pemilik kapal Prince Soya kepada detikcom di dermaga pelabuhan Samarinda, Kamis (9/4/2020) siang.

Saraping mengatakan biaya ongkos angkut barang yang selama ini dilakukannya tidak sebanding dengan biaya operasional kapal. Dia mengatakan, mengangkut hasil bumi seperti sayuran dan beras ke Samarinda merupakan upaya untuk membantu para petani di Sulawesi menjual hasil bumi.

“Namun kami tidak pernah patok harga, seperti hari ini satu kapal penuh dengan sayuran dan buah-buahan kami hanya dapat Rp 60 juta, padahal kami harus keluarkan biaya BBM sebesar Rp 180 juta, kami jelas tidak mau rugi banyak lebih baik kami istirahat sampai kondisi benar-benar baik,” ujarnya.

Disinggung kapan akan kembali berlayar, pengusaha asal Sulawesi Selatan ini mengaku belum bisa memastikan. Kemungkinan sampai virus Corona hilang.

“Kita nunggu saja, kalau memang pemerintah mencabut surat larangan masuk bagi penumpang mungkin kami akan jalan, namun jika tetap tidak boleh ada penumpang kami akan istirahat,” tegasnya.

Untuk angkutan lebaran, pengusaha kapal pelayaran swasta ini enggan mengomentarinya. “Kita tunggu saja keputusan pemerintah,” kata Saraping.

Sementara itu, Kepala KSOP Samarinda Dwi Yanto mengatakan apa pun keputusan yang dilakukan operator, pemerintah tidak bisa berbuat banyak.

“Itu keputusan operator kita tidak bisa memaksa, untuk mencari kapal pengganti agak susah, apalagi mengingat alur sungai Mahakam yang seperti ini tidak memungkinkan untuk dilayari kapal besar,” kata Dwi Yanto.

Sesuai dengan instruksi Wali Kota Samarinda, lanjut Dwi, para operator menyanggupi tidak akan mengangkut penumpang dari pelabuhan Parepare. Kendati ada konsekuensi tidak mendapat pemasukan tambahan untuk operasional kapal.

“Operator menyanggupi untuk tidak membawa penumpang dari Parepare ke sini hanya membawa muatan. Tapi kalau dari sini tidak bawa penumpang, mereka kan dari sini tidak ada muatan, kapal ini besar operasionalnya, solarnya ton-tonan. Sementara pemerintah Parepare masih memperbolehkan penumpang dan tidak sereaktif Samarinda,” katanya.

“Ya itu konsekuensi yang harus ditanggung, keputusan operator untuk tidak beroperasi karena mengalami kerugian juga tidak bisa dipaksakan tetap beroperasi, mau diapain lagi,” kata Dwi Yanto.

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here