Positive SSL
Home Blog

Seluruh Korban Susur Sungai SMPN 1 Turi Ditemukan, Pembina Masuk Tahanan

0
Proses evakuasi korban susur sungai. (Foto: Dok. Basarnas

Senin, 24 Feb 2020 09:19 WIB

Jauh Hari Wawan S – detikNews

Sleman – Pada operasi pencarian hari ketiga, akhirnya seluruh korban tewas susur sungai SMPN 1 Turi Sleman berhasil ditemukan. Seluruh korban berjumlah 10 orang, seluruhnya peserta perempuan. Polisi juga telah menahan pembina Pramuka di sekolah tersebut.

Dua korban terakhir yakni Yasinta Bunga dan Zahra Imelda ditemukan di Dam Mantras, sekitar 400 meter dari lokasi para pelajar tersebut hanyut terseret bah. Keduanya ditemukan pada Minggu (23/2) dalam kondisi tewas.

Dengan ditemukannya Yasinta dan Zahra maka seluruh korban siswa SMPN 1 Turi Sleman yang hanyut saat kegiatan susur Sungai Sempor telah ditemukan. Total korban meninggal berjumlah 10 orang. Basarnas pun resmi menutup operasi pencarian yang telah dilakukan selama tiga hari.

“Jadi seluruhnya ada 10 korban dan semua sudah ditemukan sehingga operasi pencarian ini kami nyatakan dihentikan tadi 08.00 WIB,” kata Kepala Basarnas DIY, Lalu Wahyu Efendi di Dusun Dukuh, Donokerto, Turi, Minggu (23/2).

Sementara itu, polisi yang telah menetapkan IYA, pembina Pramuka SMPN 1 Turi, sebagai tersangka. IYA selanjutnya ditahan. “Tadi malam telah dilakukan penahanan terhadap tersangka (IYA) karena melakukan kelalaian sehingga menimbulkan korban jiwa,” kata Wakapolda DIY, Brigjen Karyoto, Minggu (23/2).

Polisi menjerat IYA dengan Pasal 359 KUHP tentang kelalaian hingga menyebabkan orang meninggal dunia dan Pasal 360 KUHP tentang kelalaian yang menyebabkan orang luka-luka. Ancaman hukumannya 5 tahun penjara.

Sejauh ini, polisi baru menetapkan satu orang tersangka yakni IYA. Tersangka selain sebagai pembina Pramuka juga merupakan guru olahraga di sekolah tersebut dan berstatus sebagai PNS.

“Sudah 15 orang saksi yang kami periksa, termasuk tersangka juga sudah kami periksa,” kata Brigjen Karyoto.

Karyoto merinci 15 orang saksi itu terdiri dari 7 orang pembina Pramuka, 3 orang dari Kwarcab, 3 orang warga sekitar dan 2 orang siswa.

Sedangkan Kabid Humas Polda DIY, Kombes Yuliyanto menambahkan kemungkinan munculnya tersangka baru dalamm kasus tersebut. “Kami masih terus melakukan pendalaman kasus dan tidak menutup kemungkinan ada tersangka baru,” kata Yuliyanto.

Dalam 24 Jam, 2 Dokter di Wuhan Meninggal karena Virus Corona COVID-19

0
Sejumlah tenaga medis di Wuhan gugur dalam menangani virus corona COVID-19 (Foto: AP Photo)

Senin, 24 Feb 2020 08:16 WIB

AN Uyung Pramudiarja – detikHealth

Jakarta – Seorang dokter perempuan di rumah sakit Wuhan, Provinsi Hubei, meninggal dunia. Ahli pencernaan ini juga merawat pasien dengan virus corona COVID-19.

Dokter bernama Xia Sisi (29) terinfeksi saat bekerja di Union Jiangbei Hospital, Wuhan. Ia dirawat pada 19 Januari lalu dipindah ke Zhongnan Hospital pada 7 Februari karena kondisinya memburuk.

Dikutip dari Straitstimes, dr Xia meninggal pada Minggu (23/2/2020).

Dalam kurun 24 jam, kabar kematian dokter lainnya datang dari Ziaogan Central Hospital. dr Huang Wenjun yang merupakan ahli pernapasan mengalami pneumonia sebelum mengembuskan napas terakhirnya.

Otoritas kesehatan China telah meminta agensi kesehatan lokal untuk memberikan penghormatan pada tenaga medis yang gugur. Mereka juga diminta membantu keluarga yang ditinggalkan.

Laporkan Korban Tewas ke-5, Korsel ‘Siaga Satu’ Virus Corona

0
Suasana Daegu yang dihantam wabah virus corona COVID-19 Foto: (Yonhap via Reuters)

Minggu, 23 Feb 2020 17:33 WIB

AN Uyung Pramudiarja – detikHealth

Jakarta – Jumlah kasus COVID-19 di Korea Selatan meningkat pesat dalam beberapa hari terakhir. Menyusul kematian ke-5 akibat virus corona, negeri gingseng menetapkan level kewaspadaan tertinggi alias ‘siaga satu’.

Dikutip dari Reuters, peningkatan level kewaspadaan ini terkait makin banyaknya kasus baru dalam waktu singkat. Total sudah ada 602 kasus, dengan kewaspadaan ekstra di Kota Daegu dan Cheongdo yang telah ditetapkan sebagai ‘zona perawatan khusus’.

Kematian kelima dilaporkan terjadi pada wanita 56 tahun di Daegu. Wanita tersebut meninggal di Kyungpook National University Hospital. Hampir separuh dari kasus virus corona yang tercatat di Korea Selatan terjadi di kota ini.

Penularan virus corona di Daegu sebagian besar berhubungan dengan seorang jemaat sekte Shincheonji, yang disebut ‘patient 31’. Pasien wanita ini diyakini sebagai ‘super-spreader’ karena menularkan virus ke puluhan jemaat gereja Shincheonji.

Media Korsel Yonhap Agency melaporkan, kondisi ini memungkinkan pemerintah untuk memaksa warga tidak beraktivitas dan meminta sekolah tutup sementara. Meski demikian, belum ada detail langkah-langkah yang bisa diambil.

Miris, Sekeluarga Sutradara Film Ini Meninggal karena Virus Corona

0
China bangun rumah sakit khusus untuk virus corona. (Foto: Xiao Yijiu/Xinhua via AP Photo)

Selasa, 18 Feb 2020 20:41 WIB

Firdaus Anwar – detikHealth

Jakarta – Satu keluarga sutradara film di China dikabarkan meninggal karena terinfeksi virus corona (COVID-19). Chang Kai (55) beserta orang tua dan adik perempuannya meninggal dunia usai melakukan pertemuan keluarga pada malam Imlek.

Dikutip dari Mothership, rumah produksi di Hubei mengeluarkan obituari yang menjelaskan Chang meninggal pada 14 Februari di rumah sakit Distrik Huangpi, Kota Wuhan. Sementara kedua orang tua di rumah karena rumah sakit sudah penuh.

Dalam keterangan di surat wasiat Chang, seluruh keluarga tadinya sehat saat reuni di hotel tanggal 25 Januari. Namun esoknya tiba-tiba saja ayah Chang kesulitan bernapas lalu begitu juga dengan ibunya.

Akhirnya Chang bersama sang istri yang merawat kedua orang tua mereka di rumah hingga akhir hayatnya. Hanya saja karena itu Chang dan istrinya juga positif terinfeksi virus corona.

Chang memohon untuk masuk ke rumah sakit namun terus ditolak sampai kondisinya benar-benar parah. Di hari yang sama Chang meninggal, adik perempuannya juga tewas akibat virus corona.

“Selamat tinggal, untuk semua yang saya sayangi dan semua yang menyayangi saya,” tulis surat wasiat Chang untuk putranya yang kuliah di Inggris.

Sementara itu sang istri dikabarkan masih dirawat di rumah sakit.

STKIP Muhammadiyah Bogor Targetkan 1000 Mahasiswa Baru

0
STKIP Muhammadiyah Bogor

Bogor, 19 Februari 2020 09.10 WIB

Rudi Haryono – i60newsPendidikan

i60News – Bogor, STKIP Muhammadiyah Bogor yang berlokasi di Leuwiliang merupakan Perguruan Tinggi Muhammadiyah yang dikelola oleh PD Muhammadiyah Kabupaten Bogor. Kampus yang berizin operasional sejak 2009 lalu tersebut saat ini baru memiliki 4 prodi yaitu Administrasi Pendidikan, Pendidikan Bahasa Sastra Indonesia, Pendidikan Bahasa Inggris dan PG PAUD.

Pada tahun 2020 ini, STKIPM Bogor menargetkan minimal 1000 mahasiswa baru yang akan berkuliah.   Ketua STKIPM Bogor Dr. H. Edy Sukardi, M.Pd. menyampaikan hal tersebut sebagai bagian dari upaya untuk semakin memudahkan akses masyarakat dalam memperoleh pendidikan sampai perguruan tinggi atau minimal sarjana. Edi menegaskan STKIPM Bogor juga terus berupaya melakukan akselerasi untuk alih bentuk menjadi Universitas Muhammadiyah Bogor Raya yang pada saat ini sedang berproses.

Rudi Haryono, M.Pd. yang tahun ini ditunjuk sebagai ketua Panitia Penerimaan Mahasiswa Baru (PPMB) mengatakan akan secara masif dan efektif untuk terus mempromosikan STKIPM Bogor ke sekolah SMA sederajat dan juga masyarakat. Menurut Rudi, sebagian besar masyarakat masih beranggapan bahwa kuliah itu mahal dan tidak terjangkau masyarakat. Sementara masyarakat belum mencoba untuk mendaftar dan menggali informasi. Disinilah, kata Rudi, STKIPM Bogor harus dapat mensosialisasikan dirinya dan dikenal oleh masyarakat. Karena secara mutu pendidikan PTS tidak kalah dengan PTN. Tahun 2020, pola penerimaan mahasiswa baru (MABA) dilakukan juga dengan jalur beasiswa seperti beasiswa Persyarikatan, Bidik Misi dan lainnya. STKIPM Bogor juga berencana untuk melakukan kerja sama atau MoU beasiswa dengan beberapa lembaga atau instansi.

Sebagai informasi, Tahun Akademik 2019/2020, MABA yang mendaftar ke STKIPM Bogor mencapai 720 orang dari target 500 MABA, sehingga tahun 2020 target MABA dinaikkan menjadi 1000 MABA. Alhamdulillah, tahun akademik 2019/2020 jumlah total mahasiswa mencapai 1209 mahasiswa dari empat prodi yang ada.

Ketua STKIPM Bogor Edi Sukardi juga menyatakan dukungannya terhadap program Bogor Cerdas Pemkab Bogor dan berharap sinergitas yang terjalin dapat dilakukan di bidang pendidikan, penelitian dan pengabdian kepada masyarakat.

Presiden BEM STKIPM Bogor, Hendi, juga optimis target 1000 MABA akan tercapai dan siap mendukung kampusnya dengan organisasi kemahasiswaan yang ada dan jaringan alumni baik yang sudah bekerja di sekolah atau lembaga lainnya.

Badai PHK Menerjang, Tanda Ekonomi RI Tertekan?

0

Selasa, 18 Feb 2020 05:38 WIB

Vadhia Lidyana – detikFinance

Jakarta – Badai Pemutusan Hubungan Kerja (PHK) melanda Indonesia dalam satu tahun terakhir ini. Mulai dari perusahaan baja, manufaktur, telekomunikasi hingga startup yang sudah menjadi unicorn.

Sebut saja PT Indosat Tbk yang baru saja melakukan PHK terhadap 677 karyawan. Lalu, Bukalapak perusahaan yang sudah menjadi unicorn juga melakukan PHK. Begitu juga dengan PT Krakatau Steel Tbk (KRAS) yang melakukan PHK dalam rangka restrukturisasi.

Hingga saat ini, sebanyak 2.683 karyawan kontrak dari 9 vendor di lingkungan Krakatau Steel setuju untuk diberhentikan.

Menanggapi fenomena itu, Peneliti senior Institute for Development of Economics and Finance (INDEF) Fadhil Hasan menuturkan, dalam satu tahun terakhir ini memang perekonomian Indonesia turut tertekan dengan adanya faktor global. Begitu juga dengan indikator pertumbuhan ekonomi seperti investasi, daya beli, ekspor-impor yang memang tertekan.

“Setahun terakhir ini perekonomian menghadapi tantangan besar, berat. Kita lihat berbagai indikator pertumbuhan ekonomi kita juga tidak menggembirakan. Salah satunya itu terkait dengan daya beli masyarakat, kemudian dari sisi permintaan juga melemah, ekspor dan seterusnya. Sehingga banyak perusahaan yang mengalami kesulitan,” kata Fadhil kepada detikcom, Senin (17/2/2020).

Selain itu, perubahan model bisnis di pesatnya perkembangan digital juga menjadi faktor banyaknya perusahaan yang melakukan PHK demi menjaga keseimbangan perusahaan.

“Perusahaan di berbagai bidang saya kira mengalami persoalan yang sama. Permintaan melambat, persaingan ketat, pergeseran bisnis seperti online transaction,” papar Fadhil.

Namun, menurutnya ada faktor internal yakni melihat persoalan yang terjadi di setiap perusahaan, tak semuanya sama.

“Ada sifatnya kasus per kasus misalnya KS itu kan memang melakukan restrukturisasi besar-besaran sehingga harus melakukan rasionalisasi karyawannya. Kedua kalau misalnya Indosat sudah lama mengalami persoalan karena persaingan ketat, fundamental perusahaan tidak terlalu bagus sehingga me-lay off,” terang dia.

Bertambah Lagi, Korban Tewas Akibat Virus Corona di China Jadi 1.800 Orang

0
Ilustrasi penanganan pasien virus corona (Foto: AP Photo

Marlinda Oktavia Erwanti – detikNews

Selasa, 18 Feb 2020 06:21 WIB

Hubei – Jumlah korban tewas akibat COVID-19 atau virus corona di China terus bertambah. Tercatat, sudah 1.800 orang yang tewas karena virus mematikan itu.

Dilansir AFP, Selasa (18/2/2020), otoritas kesehatan China melaporkan adanya 93 kematian baru akibat virus corona di Hubei. Hal itu membuat jumlah kematian meningkat hingga 1.800 orang.

Dalam laporan hariannya, komisi kesehatan provinsi juga melaporkan 1.807 kasus baru.

Sebelumnya, otoritas kesehatan China melaporkan adanya 105 kematian baru akibat virus corona di wilayahnya. Satu pasien virus corona di Taiwan meninggal dunia pada Minggu (16/2) waktu setempat. Secara global, tercatat sudah 1.775 orang meninggal dunia akibat wabah virus corona.

Seperti dilansir Channel News Asia dan media nasional China Global Television Network (CGTN), Senin (17/2/2020), Komisi Kesehatan Nasional China (NHC) melaporkan 105 orang meninggal akibat virus corona pada Minggu (16/2) waktu setempat.

Dari jumlah itu, sekitar 100 orang meninggal di Provinsi Hubei, pusat wabah ini. Laporan kantor berita Xinhua News Agency menyebut tiga orang lainnya meninggal di Henan dan dua orang meninggal di Guangdong.

Siwang Binih Menembus Ekspor

0
Ika Juliana belajar membuat siwang dari nol secara autodidak

Selasa 11 Feb 2020 05:10 WIB

Rep: Lilis Sri Handayani/ Red: Yudha Manggala P Putra

Ika Juliana belajar membuat siwang dari nol secara autodidak

REPUBLIKA.CO.ID, INDRAMAYU — Semula, Ika Julia adalah seorang wanita karier, yang bekerja di salah satu bank plat merah. Namun, kesibukannya dalam meniti karier itu telah menyita waktunya sebagai seorang istri maupun ibu dari anak-anaknya. Karena itulah, dia memutuskan untuk berhenti dari pekerjaannya.

Usai keluar dari pekerjaannya, perempuan kelahiran Indramayu pada 1990 itu tak henti berkegiatan. Dia terus mencari kesibukan sambil tetap menjalankan tugasnya sebagai istri dan ibu. Untuk itu, dia menjajal menjadi agen, distributor maupun reseller yang menjual produk milik orang lain.

Meski semua kegiatan itu bisa berjalan dengan baik, namun tak memberi kepuasan pada Ika. Dia ingin untuk memiliki produk sendiri, tak sekedar menjual produk milik orang lain.

Di saat itulah, Ika menyadari banyak di antara tetangganya di Desa Sukadana, Kecamatan Tukdana, Kabupaten Indramayu yang memproduksi dan menjual siwang. Yakni, makanan yang terbuat dari terasi dan bawang.

Siwang merupakan salah satu makanan khas Indramayu. Makanan itu telah akrab di tengah masyarakat sebagai lauk pendamping nasi atau sekedar menjadi cemilan.

Namun sayang, meski rasanya enak, siwang yang diproduksi oleh tetangga Ika hanya dikemas secara sederhana. Penjualannya pun masih terbatas.

Untuk itu, Ika menawarkan kerja sama dengan tetangga yang memproduksi siwang tersebut. Dalam arti, sang tetangga yang memproduksi siwang, sedangkan dia yang mengemasnya sekaligus mempromosikan dan memasarkannya. Namun, tawaran kerja sama itu ditolak.

‘’Akhirnya saya minta izin untuk bikin siwang sendiri, dengan brand sendiri dan standarisasi kualitas sendiri,’’ kata Ika kepada Republika, kemarin.

Dari situlah, Ika mulai belajar membuat siwang. Dia belajar dari nol secara autodidak. Dia pun masih mengemasnya secara sederhana. Sambil menjual produk siwang yang dibuatnya sendiri, dia terus berusaha untuk menyempurnakan resepnya.

Setelah tiga tahun mencoba sejak 2016, Ika akhirnya baru menemukan resep siwang yang bisa memuaskannya pada Januari 2019. Terbukti, siwang produksinya semakin mendapat sambutan positif dari pelanggan. Selain rasa orisinil dan rasa pedas, dia juga berhasil membuat siwang teri dan siwang rasa jengkol.

Selain menggunakan bahan berupa terasi dan bawang merah pilihan, Ika juga memasak siwangnya dengan cara yang berbeda. Tak cukup hanya digoreng biasa, dia memasak siwangnya dengan spinner untuk menghilangkan minyaknya.

Di samping spinner, Ika juga memakai vacuum frying untuk menyedot uap supaya bawangnya lebih kering (crunchy) meskipun tanpa tambahan tepung. Hal itu berbeda dengan bawang goreng lainnya yang biasa ditambahkan tepung agar lebih kering.

‘’Siwang yang saya produksi ini bawang merahnya murni tanpa tambahan tepung,’’ kata Ika.

Ika memberi merek siwangnya dengan nama Siwang Binih. Kata Binih itu diambil dari kata bini, yang berarti istri dalama bahasa Betawi. Selain perannya yang memang seorang istri, sejumlah pekerja yang membantu pembuatan siwang miliknya juga merupakan kelompok ibu-ibu.

Setelah menemukan resep yang dirasa pas, Ika pun mulai serius menggarap kemasan siwangnya agar nampak eye catching. Untuk itu, dia menggandeng desainer khusus yang bisa merancang kemasan yang menarik sesuai keinginannya.

Ika juga melengkapi kemasan Siwang Binih dengan barcode. Dengan kemasan yang terbuat dari alumunium foil, cita rasa siwang yang diproduksinya tetap terjaga. 

Selain soal kemasan, Ika juga melengkapi produknya dengan berbagai perizinan. Seperti, izin Produk Industri Rumah Tangga (PIRT), sertifikat halal, maupun komposisi gizi dari produksinya serta HAKI. Semua pengurusan perizinan itu difasilitasi oleh Disperindag Kabupaten Indramayu. 

Siwang Binih pun makin laris manis diburu konsumen. Tak hanya di wilayah Indramayu, dengan sistem online, Siwang Binih telah dipasarkan hingga ke Riau, Batam, Bali, Kalimantan, bahkan luar negeri seperti Korea dan Turki. Dia juga telah menandatangani kerja sama dengan sejumlah ritel untuk menjual Siwang Binih di gerai milik mereka.

Ika mengemas Siwang Binih menjadi kemasan 100 gram yang dibanderol dengan harga Rp 25 ribu per kemasan. Selain itu, adapula kemasan 50 gram, yang hanya dijual di toko ritel dan toko oleh-oleh. Kedepan, Siwang Binih juga akan dikemas secara sachet agar bisa menjangkau pasar tradisional.

Sepanjang 2019, Siwang Binih berhasil dijual rata-rata 1.000 kemasan per bulan. Dengan tingginya permintaan dari konsumen, Ika pun semakin banyak menyerap tenaga kerja. Saat ini, jumlah pekerjanya sudah lebih dari 14 orang, yang khusus bekerja di bagian produksi. Jumlah itu belum termasuk tim marketing dan promosi.

‘’Selain ibu-ibu, banyak pula anak-anak muda yang sekarang juga ikut bergabung,’’ tutur Ika.

Pemasaran Siwang binih yang semakin berkembang di dalam negeri, tak membuat Ika merasa puas. Dia ingin bisa mengekspor siwangnya ke luar negeri.

Keinginan Ika akhirnya menemukan jalannya saat dia berhasil menjadi juara dalam lomba UMKM Juara Naik Kelas, yang merupakan program Gubernur Jawa Barat, Ridwan Kamil. Dalam lomba yang diumumkan pada November 2019 itu, dia menjadi salah satu dari enam pemenang lomba. Padahal, peserta yang mengikuti lomba itu totalnya mencapai sekitar 2.500 pelaku UMKM se-Jawa Barat.

Dengan menjadi juara dalam lomba tersebut, Ika pun diikutsertakan oleh Pemprov Jawa Barat untuk menjadi peserta pameran di Kualalumpur, Malaysia. Di luar ekspektasinya, dalam pameran yang berlangsung pada 11-14 Desember 2019 itu, Siwang Binih laris tak bersisa hanya dalam waktu dua hari. Bahkan, banyak pengunjung yang kecewa karena tak kebagian siwang.

Ika pun kemudian mendapat permintaan pesanan Siwang Binih dari buyer di Malaysia dengan jumlah 1.000 kemasan. Dengan adanya permintaan itu, keinginannya untuk bisa mengekspor Siwang Binih ke luar negeri menjadi terkabul.

Ekonomi China: Di Ambang Kejatuhan dan Angka Pengangguran

0
Pertumbuhan ekonomi Cina melambat akibat wabah virus corona

Senin 17 Feb 2020 09:58 WIB

Red: Nidia Zuraya

Pemerintah China menjanjikan keringanan pajak dan subsidi untuk perusahaan.

REPUBLIKA.CO.ID, BEIJING — Penjualan agen real estate Du Xuekun biasanya melonjak setelah liburan Tahun Baru Imlek. Tetapi tahun ini, Du hanya berada di rumah selama sebulan tanpa pendapatan setelah sebagian besar kegiatan perekonomian China ditutup dalam upaya besar-besaran menghadang penyebaran wabah virus corona.

Du, yang tinggal di Jiaozhuo, dekat pusat kota Zhengzhou, adalah satu dari jutaan orang di China yang menanggung lonjakan biaya akibat kebijakan penanggulangan wabah penyakit paling ekstrem yang pernah diberlakukan pemerintah China.

Ia biasanya berhasil membukukan dua penjualan dalam sebulan dan menghasilkan 7.000-8.000 yuan atau setara 1.000-1.100 dolar AS. Dan setiap bulannya, ia harus membayar cicilan pinjaman sebesar 3.000 yuan atau setara 430 dolar AS.

“(selama ini) Saya tidak punya gaji pokok dan hidup berdasarkan komisi,” kata Du. “Tanpa penjualan, sekarang saya tidak akan memiliki penghasilan.”

Meski beberapa kegiatan bisnis dibuka kembali, tetapi Beijing telah menginstruksikan masyarakat untuk tetap tinggal di rumah jika memungkinkan. “Orang-orang akan tetap membeli makanan dan pakaian secara online. Tetapi pasti mereka tidak akan membeli apartemen tanpa melihatnya,” kata Du.

Kegiatan industri mobil hingga ritel ditutup secara efektif mulai 23 Januari dengan penangguhan sebagian besar akses ke Wuhan, kota yang menjadi pusat wabah virus corona.

Selain itu, pembatasan perjalanan diperluas ke kota-kota dengan lebih dari 60 juta orang. sementara pembatasan bisnis menyebar ke seluruh negeri.

Liburan Tahun Baru Imlek pun diperpanjang untuk membuat pabrik dan kantor tutup. Di seluruh China, ribuan restoran dan bioskop telah ditutup untuk mencegah orang banyak berkumpul.

Akibatnya, ancaman kerugian yang meningkat kini ada di depan mata dan ini menjadi tanggung jawab politik bagi Partai Komunis yang berkuasa. Pejabat lokal telah diperintahkan untuk menghidupkan kembali kegiatan bisnis tetapi bergerak dengan hati-hati.

Pada Ahad (16/2), sekitar 1.665 kematian dan 68.500 kasus akibat virus corona telah dilaporkan dalam dua bulan sejak infeksi pertama pada Desember 2019.

Para ekonom memperingatkan optimisme bahwa wabah corona ini bisa dikendalikan dengan cepat. Bahkan jika manufaktur otomatis dan bisnis lain dilanjutkan sesuai rencana, aktivitas tidak akan kembali normal hingga setidaknya pertengahan Maret.

Kerugian diperkirakan sangat besar sehingga para analis telah memotong perkiraan untuk pertumbuhan ekonomi China.

Sejumlah analis termasuk Capital Economics mengatakan pertumbuhan ekonomi China, mungkin jatuh ke angka 2 persen dalam tiga bulan yang berakhir pada bulan Maret. Proyeksi ini turun dari angka resmi kuartal sebelumnya sebesar 6 persen.

“Jika ekonomi benar-benar mengalami kejatuhan, tantangan bagi partai akan meningkat secara substansial,” kata Steve Tsang, direktur Institut Cina di Sekolah Studi Oriental dan Afrika London.

Sementara itu menanggapi tekanan ekonomi yang meningkat, pemerintah China menjanjikan keringanan pajak dan subsidi kepada perusahaan yang dirugikan oleh kebijakan penanggulangan wabah penyakit. “Pemerintah perlu menjaga operasi ekonomi yang stabil dan keharmonisan sosial,” kata Presiden Xi Jinping, Rabu (12/2).

Pada hari Jumat (14/2), Departemen Keuangan mengumumkan bahwa perusahaan dengan penjualan bulanan di bawah 100 ribu yuan atau setara 14 ribu dolar AS akan dibebaskan dari pajak pertambahan nilai dan lainnya. Dikatakan perusahaan-perusahaan yang tidak dapat membayar pinjaman mungkin diizinkan untuk mengajukan force majeure, yakni meminta keringanan atas kewajiban dalam bencana.

Bisnis perjalanan paling terpukul setelah pemerintah membatalkan tur kelompok dan menyuruh pebisnis menunda perjalanan. Maskapai membatalkan ribuan penerbangan dan hotel ditutup.

Manajer sebuah agen perjalanan di Shenyang, kota terbesar di timur laut China, mengatakan pendapatan bulanannya, biasanya 100 ribu yuan, kini turun ke angka nol. Dia mengatakan agen masih membayar sewa dan upah 20 ribu yuan per bulan.

“Kami tidak berharap untuk melihat pemulihan ekonomi hingga Mei atau Juni,” kata manajer bernama Xu tersebut.

“Kami benar-benar berharap pemerintah dapat memberi kami pembebasan atau pengurangan pajak, tetapi kami belum melihat subsidi,” ujar Xu menambahkan.

Para pemimpin Cina telah berjuang untuk menopang pertumbuhan ekonomi yang melambat menjadi 6,1 persen pada tahun lalu berkat lemahnya permintaan konsumen dan perang tarif dengan Amerika Serikat. Beberapa ekonom, mengutip survei industri dan data lainnya, mengatakan pertumbuhan riil sudah jauh lebih lemah dari itu.

Kebijakan penanggulangan wabah corona berdampak pada tutupnya pabrik-pabrik di China yang selama ini memasok dunia dengan produk smartphone, furnitur, sepatu, mainan dan peralatan rumah tangga.  Korea Selatan dan ekonomi lain yang mengandalkan Cina sebagai pasar ekspor juga menghadapi potensi kehilangan pekerjaan.

Sementara itu, perusahaan e-commerce sedang mempekerjakan pekerja tambahan untuk mengatasi banjir permintaan karena keluarga tinggal di rumah dan membeli bahan makanan online. Tapi jalan-jalan di Beijing dan kota-kota besar lainnya masih sepi dan sepi.

Bagaimana Produk Halal Diatur Omnibus Law?

0
ilustrasi Omnibus Law Halal. RUU Omnibus Law Cipta Kerja membuat sejumlah perubahan signifikan pada UU Jaminan Produk Halal.

Senin 17 Feb 2020 09:46 WIB

Rep: Fitriyan Zamzami/ Red: Ratna Puspita

Secara garis besar, RUU Ciptaker membuat sejumlah perubahan signifikan pada UU JPH.

REPUBLIKA.CO.ID, JAKARTA — Proses penetapan kehalalan produk-produk yang beredar di Indonesia masuk dalam rancangan Omnibus Law alias RUU Cipta Kerja. Regulasi itu masuk klaster soal permudahan perizinan usaha. Apa saja bagian Undang-Undang Nomor 33/2014 tentang Jaminan Produk Halal (JPH) yang diubah?

Secara garis besar, RUU Ciptaker membuat sejumlah perubahan signifikan pada UU JPH. Di antaranya soal kemudahan bagi pelaku usaha mikro dan kecil, pelibatan ormas Islam berbadan hukum dalam proses sertifikasi halal, pemangkasan jangka waktu pengajuan dan proses sertifikasi halal, serta pengubahan sejumlah sanksi terkait regulasi itu.

Berikut rinciannya seturut penelusuran Republika.

Salah satu yang paling kentara, adalah penambahan pasal baru yang diselipkan di antara Pasal 4 dan Pasal 5 UU JPH. Pada pasa 4A ayat 1, diatur bahwa kewajiban bersertifkat halal untuk Usaha Mikro dan Kecil (UMK) didasarkan pada “pernyataan pelaku usaha Mikro dan Kecil”.

Kemudian pada Pasal 4A ayat 2, diatur bahwa “Pernyataan Pelaku Usaha Mikro dan Kecil sebagaimana dimaksud pada ayat (1) berdasarkan standar halal yang ditetapkan BPJPH (Badan Penyelenggara Jaminan Produk Halal)”.

Perubahan signifikan selanjutkan terdapat pada perubahan Pasal 7. Pada UU JPH, dalam melaksanakan kewenangannya BPJPH hanya bekerja sama dengan Lembaga Pemeriksa Halal (LPH) dan Majelis Ulama Indonesia (MUI). Sedangkan dalam RUU Ciptaker aturan barunya adalah, “Ormas Islam yang berbadan hukum” juga jadi pihak yang bisa diajak kerja sama BPJPH.

LPPOM MUI (ilustrasi)

Pada revisi pasal-pasal UU JPH selanjutnya dalam RUU Ciptaker, ormas Islam dan MUI akan dilibatkan mengeluarkan fatwa hasil pemeriksaan dan/atau pengujian kehalalan produk (Pasal 32), kemudian penetapan fatwa kehalalan produk (Pasal 33). Dalam UU JPH, sidang fatwa halal itu hanya bisa dilakukan MUI.

Sedangkan pada revisi Pasal 10 ayat 1 UU JPH dalam RUU Ciptaker, ada sejumlah sektor kerja sama BPJPH dengan MUI pada UU JPH yang dihilangkan. Di antaranya, penerbitan “sertifikasi auditor halal”, dan “akreditasi LPH”.  Kerja sama dengan MUI dan ormas Islam dalam RUU Ciptaker (perubahan Pasal 10 ayat 1 dan 2) hanya pada “penetapan kehalalan produk” dan penerbitan “Keputusan Penetapan Halal Produk”.

Kemudian pada revisi Pasal 13 ayat 1 UU JPH, syarat mendirikan Lembaga Pemeriksa Halal (LPH) adalah “memiliki kantor sendiri dan perlengkapannya, “memiliki Auditor Halal paling sedikit 3 orang”, dan “memiliki laboratorium atau kesepakatan kerja sama dengan lembaga lain yang memiliki laboraturiom”. Syarat “akreditasi dari BPJPH” yang tercantum dalam pasal yang sama pada UU JPH dihilangkan.

Pasal 14 pada UU JPH tentang pengangkatan auditor halal oleh LPH, kemudian syarat-syarat auditor halal (WNI; Islam; pendidikan tinggi di bidang teknologi industri, biologi, atau farmasi; memiliki pemahaman mendalam soal kehalalan sesuai syariat Islam; mendahulukan kepentingan umat; dan memeroleh sertifikat MUI) seluruhnya dihapuskan. Dalam RUU Ciptaker, persoalan ini akan diatur lebih lanjut melalui peraturan pemerintah.

Dalam UU JPH, lokasi, tempat, dan alat Proses Produk Halal (PPH) harus dipisahkan dengan unsur-unsur najis dan nonhalal. Sanksinya jika dilanggar adalah peringatan tertulis atau denda administratif (Pasal 22). Sanksi yang rigid itu dalam UU Ciptaker dihapuskan, dan akan diatur selanjutnya melalui peraturan pemerintah.

Dalam UU JPH, diwajibkan juga bagi perusahaan menyediakan Penyelia Halal yang bertugas mengawasi PPH di perusahaan, menentukan tindakan perbaikan dan pencegahan, mengordinasi PPH, dan mendampingi auditor halal. Penyelia itu dalam UU JPH disyaratkan beragama Islam dan memiliki wawasan luas soal kehalalan (Pasal 28 ayat 1). Syarat itu dihilangkan dalam RUU Ciptaker, dan ketentuan lebih lanjutnya akan diatur dalam peraturan pemerintah.

Ilustrasi Halal